Artikel

Magister Sastra USD Lakukan Pengabdian di UKI dalam Kuliah Umum Sastra Digital

27-04-2026

Program Studi Magister Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Fakultas Sastra dan Bahasa Universitas Kristen Indonesia pada Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk kuliah umum bertajuk Beyond the Page: Decoding the Future of Digital Storytelling yang dihadiri sekitar 100 mahasiswa dan dosen dari Program Studi Sastra Inggris, Pendidikan Bahasa Inggris, dan Sastra Mandarin. Bertemoat di Aula Fakultas Sastra dan Bahasa, kegiatan ini merupakan implementasi nyata kerja sama akademik yang telah terjalin antara Fakultas Sastra USD dan Fakultas Sastra dan Bahasa UKI.

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Dekan Fakultas Sastra dan Bahasa UKI, Susanne Sitohang, M.A., yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran tim dari Magister Sastra USD. Turut hadir pula Wakil Dekan, Ketua Program Studi, Ibu Mike, serta beberapa dosen Fakultas Sastra dan Bahasa UKI yang ikut mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Kehadiran para pimpinan dan dosen menunjukkan antusiasme UKI dalam memperluas wawasan mahasiswa terhadap perkembangan sastra di era digital.


Dalam kuliah umum tersebut, Dr. Tatang Iskarna hadir sebagai pembicara utama, didampingi oleh dua mahasiswa Magister Sastra USD, Herto dan Catherine, yang menariknya merupakan alumni S1 UKI. Kehadiran keduanya memberikan nuansa emosional tersendiri karena mereka kembali ke almamater untuk berbagi pengalaman akademik dan wawasan baru mengenai sastra digital.

Sebelum sesi kuliah umum dimulai, tim Magister Sastra USD juga melakukan survei kepada 54 mahasiswa Fakultas Sastra dan Bahasa UKI untuk memetakan pemahaman awal mereka terhadap sastra digital. Hasil survei menunjukkan beberapa fenomena menarik. Pertama, mayoritas mahasiswa mengaku jarang membaca karya sastra konvensional seperti novel, puisi, atau cerpen (51,9%), meskipun 42,6% menyatakan cukup sering membaca. Kedua, sebagian besar responden (63%) lebih sering mengakses cerita atau narasi melalui media sosial dan platform digital seperti Instagram, X, Wattpad, Goodnovel, dan Noveltoon dibanding melalui buku cetak. “Hal ini menunjukkan bahwa ruang utama konsumsi narasi telah bergeser dari medium cetak ke medium platform digital”, kata Tatang.

Survei tersebut juga mengungkap bahwa meskipun mayoritas mahasiswa telah akrab dengan praktik konsumsi sastra digital, pemahaman konseptual mereka masih terbatas. Sebanyak 50% responden menyatakan pernah mendengar istilah “sastra digital” tetapi belum terlalu memahami maknanya. Namun demikian, mahasiswa UKI menunjukkan keterbukaan yang tinggi terhadap perluasan definisi sastra: 51,9% menjawab bahwa cerita di media digital tentu saja dapat dianggap sebagai sastra, sementara 46,3% menjawab “mungkin.” “Temuan ini menjadi dasar penting bagi materi kuliah umum yang menekankan perlunya menjembatani pengalaman digital mahasiswa dengan teori sastra digital secara akademik”, lanjut Tatang merupakan dosen prodi Magister Sastra USD ini.


Dalam paparannya, Dr. Tatang Iskarna mengajak peserta untuk melihat bahwa sastra digital bukan sekadar digitalisasi teks cetak, melainkan perubahan besar dalam cara memahami sastra itu sendiri. “Sastra tidak lagi terbatas pada halaman buku, melainkan hadir dalam bentuk hypertext, multimedia, interaktivitas, platform, dan bahkan algoritma”, tegasnya. Ia menjelaskan bahwa dalam ekosistem digital, membaca tidak lagi hanya berarti membaca teks, tetapi juga “mendekode” sistem, platform, antarmuka, dan proses algoritmik yang membentuk pengalaman membaca dan produksi makna. Berbagai contoh karya sastra digital seperti Victory Garden, My Body – A Wunderkammer, kinetic poetry, webtoon, dan platform seperti Wattpad, TikTok, hingga AI seperti ChatGPT turut dibahas dalam kuliah tersebut.



Kuliah umum berlangsung sangat aktif dan interaktif. Sekitar enam pertanyaan diajukan oleh mahasiswa maupun dosen. Beberapa isu yang muncul antara lain tentang nilai estetik dan kualitas sastra digital dibanding sastra cetak, bahaya konten sastra digital jika tidak melalui proses sensor dan kurasi, serta bagaimana menjaga agar generasi muda tetap memiliki kecintaan membaca sastra dalam bentuk cetak di tengah dominasi budaya digital. Diskusi ini menunjukkan bahwa peserta tidak hanya tertarik pada aspek teknologi, tetapi juga pada persoalan etika, kualitas, dan masa depan pendidikan sastra.

Melalui kegiatan ini, Magister Sastra USD tidak hanya menjalankan tridarma perguruan tinggi dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga memperluas jejaring akademik serta memperkenalkan perspektif baru dalam kajian sastra kepada mahasiswa lintas program studi. Kegiatan ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas antara Fakultas Sastra USD dan Fakultas Sastra dan Bahasa UKI, baik dalam bidang pengajaran, penelitian, maupun kegiatan akademik lainnya di masa mendatang. (Hert-Cat-Tti)

 kembali
Arsip