Artikel

“AI dalam Sastra: Dari Analisis Teks hingga Kreasi Puisi Digital”: Literasi Publik dan PkM Magister Sastra USD di UGTV Universitas Gunadarma

26-01-2026

Jakarta — Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) kini tidak hanya mengubah dunia teknologi, tetapi juga mulai memasuki ranah humaniora, termasuk kajian sastra. Merespons perubahan tersebut, Dr. Tatang Iskarna dari Program Studi Magister Sastra, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta, hadir sebagai narasumber dalam Mata Kuliah Unggulan Team Teaching “Kecerdasan Artifisial dan Masyarakat” di Universitas Gunadarma. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 15 Januari 2026, pukul 13.00–14.30 WIB, bertempat di Studio UGTV Gedung 5 Lantai 4 Kampus F8 Universitas Gunadarma, dan disiarkan melalui program literasi UGTV untuk menjangkau audiens yang lebih luas, tidak hanya mahasiswa tetapi juga masyarakat umum.

Dalam sesi tersebut, Dr. Tatang menyampaikan kuliah umum bertema “AI dalam Sastra: Dari Analisis Teks hingga Kreasi Puisi Digital”, sebuah topik yang mempertemukan kajian sastra, humaniora digital, dan perkembangan model bahasa generatif. Kuliah umum ini merupakan bagian dari Mata Kuliah Unggulan Team Teaching “Kecerdasan Artifisial dan Masyarakat” Tahun Ajaran 2025/2026 yang ditujukan bagi mahasiswa rumpun sosial-humaniora, sekaligus untuk memperluas jangkauan edukasi tentang AI dan dampaknya bagi masyarakat luas melalui siaran UGTV. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Universitas Gunadarma serta audiens umum yang menyaksikan melalui kanal digital UGTV.



Dalam pemaparannya, Dr. Tatang Iskarna mengajak peserta memahami posisi sastra secara lebih jernih di tengah perkembangan AI. Ia membedakan dua cara pandang penting: sastra sebagai catatan pengalaman hidup manusia dan sastra sebagai objek ilmu/kajian akademik. Dalam kerangka ini, AI dinilai sangat kuat ketika sastra diperlakukan sebagai objek kajian yang dapat dianalisis secara sistematis, namun AI juga memiliki batas ketika sastra dipahami sebagai pengalaman hidup yang berakar pada tubuh, emosi, sejarah, dan luka manusia.

Lebih lanjut, materi kuliah umum ini menampilkan bagaimana AI dapat digunakan dalam analisis teks sastra melalui pendekatan seperti text mining, stylometry, topic modeling, sentiment analysis, hingga semantic network analysis. Dengan metode tersebut, AI mampu membaca korpus besar secara cepat dan konsisten, serta menemukan pola-pola laten yang sering tidak segera tampak dalam pembacaan manusia. Namun, Dr. Tatang juga menegaskan bahwa AI tidak dapat menggantikan peran manusia sebagai penafsir makna final karena AI tidak memiliki pengalaman afektif, pemahaman konteks sejarah yang mendalam, serta rentan pada bias data dan reduksionisme makna.

Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai AI sebagai agen kreatif dalam produksi puisi digital. Dalam presentasinya, Dr. Tatang menjelaskan bahwa puisi berbasis AI bersifat generatif, interaktif, dan kolaboratif, di mana manusia berperan memberi prompt, mengkurasi, dan menafsir, sementara AI menghasilkan teks berdasarkan pola bahasa dari data latih. Dengan kata lain, kreativitas AI bersifat rekombinatif, sedangkan kreativitas manusia lahir dari pengalaman eksistensial yang tak dapat disubstitusi oleh mesin.

Kuliah umum ini juga memperlihatkan relevansi tema melalui contoh riset pembelajaran, termasuk survei kepada mahasiswa yang membandingkan puisi bertema Bali karya AI dan manusia. Dalam perbandingan tersebut, puisi AI cenderung rapi, metaforis-aman, dan emosinya stabil, sedangkan puisi manusia lebih relasional, emosional, tidak selalu rapi, namun terasa autentik karena lahir dari pengalaman, ingatan, dan luka. Pemaparan ini memantik diskusi peserta tentang batas-batas kreativitas, orisinalitas, dan definisi kepengarangan dalam sastra era digital.



Melalui forum ini, Dr. Tatang Iskarna juga menegaskan bahwa AI sebaiknya tidak dipahami sebagai ancaman eksistensial bagi sastra, melainkan sebagai tantangan intelektual sekaligus peluang teoretis untuk memperluas metodologi kajian dan memperkaya praktik literasi kritis. Sastra digital tidak menghapus sastra manusia, tetapi membuka ruang dialog baru tentang nilai kemanusiaan, etika, dan tanggung jawab budaya dalam produksi teks di era algoritma.

Bagi Program Studi Magister Sastra Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, kegiatan ini juga dapat dicatat sebagai kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) karena secara langsung menghadirkan literasi publik lintas kampus dan lintas audiens melalui media digital (UGTV dan YouTube), sekaligus memperkuat kontribusi humaniora dalam merespons isu strategis AI di masyarakat. Undangan resmi dari Universitas Gunadarma menunjukkan bahwa kuliah umum ini merupakan bagian dari agenda edukasi publik yang menempatkan sastra dan kajian humaniora sebagai mitra penting dalam membangun kesadaran kritis terhadap teknologi.

Kegiatan kolaboratif ini sekaligus menjadi contoh nyata bahwa kajian sastra tidak berhenti pada ruang kelas, tetapi hadir dalam ruang publik sebagai sumber refleksi kritis, kreativitas, dan tanggung jawab etik di tengah perubahan zaman. (Dn-Tti)

 kembali
Arsip