Artikel

Ujian Tesis Magister Sastra: Dari Perlawanan Politik hingga Spiritualitas Nusantara

29-07-2025

Panggung akademik Program Magister Sastra kembali diramaikan oleh tiga ujian tesis dengan topik yang beragam dan mendalam. Para mahasiswa menyajikan penelitian yang menggali isu-isu krusial, mulai dari perlawanan sastra lintas benua, kontestasi ideologi di sastra pinggiran, hingga rekonstruksi mitologi Jawa yang melegenda. Ujian tugas akhir pemertahanan tesis ini diselenggarakan Kamis (24/7/25) di Ruang Rapat Fakultas Sastra Lt. 2 Gedung Sastra Kampus I USD Mrican. Dari ujian tugas akhir penelitian tesis ini, Magister Sastra telah meluluskan enam mahasiswa, 2 angkatan 2022 dan 4 angkatan 2023.

Yolenta Oktovia Mahuze di bawah bimbingan Prof. Novita Dewi, M.A. (Hons), Ph.D. menyajikan studi sastra bandingan yang ambisius dalam tesisnya yang berjudul Penindasan dan Perlawanan dalam Kumpulan Puisi Okot p'Bitek dan Wiji Thukul: Kajian Postkolonial. Dengan menggunakan kerangka teori postkolonial dari Edward Said dan Frantz Fanon, Yolenta membandingkan karya penyair Uganda, Okot p’Bitek, dengan sastrawan Indonesia, Wiji Thukul. Temuannya menunjukkan bahwa meskipun berasal dari dua benua yang berbeda, kedua penyair memiliki kesamaan visi dalam menggunakan puisi sebagai senjata perlawanan terhadap penindasan sistemik. Tesis ini menegaskan bahwa karya sastra mereka bukan hanya refleksi estetis, tetapi juga dokumen politik dan sosial yang relevan untuk memahami dinamika kuasa, identitas, dan resistensi di masyarakat pascakolonial.
 


Inosensius Soni Koten, seorang imam dari Keuskupan Larantuka, membawa perspektif unik dalam tesisnya yang berjudul Representasi dan Kontestasi Ideologis dalam Cerpen-cerpen Silvester Petara Hurit. Menggunakan pisau analisis kritik sastra materialistik Terry Eagleton, ia membedah 14 cerpen karya penulis asal Flores Timur tersebut. Penelitiannya yang dipromotori ole hSri Mulyani Ph.D. menemukan bahwa cerpen-cerpen Hurit adalah arena pertarungan ideologis, di mana ideologi dominan seperti kekuasaan negara, agama institusional, dan kapitalisme berhadapan dengan ideologi tandingan yang berakar pada kearifan lokal seperti spiritualitas, ekologi, dan humanisme. Tesis ini berhasil menyoroti bagaimana sastra dari wilayah pinggiran dapat menjadi medium perlawanan budaya yang kuat dan kritis.

 
Dalam pendampingan Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Fira Nur Vianingtias Damayanti mengangkat salah satu mitos paling populer di Indonesia melalui tesisnya Rekonstruksi Genealogis dan Nilai-Nilai Spiritualitas dalam Mitologi Roro Kidul: Kajian Sastra Lisan. Dengan pendekatan etnografi serta kerangka teori genealogi dari Mircea Eliade dan Michel Foucault, Fira menelusuri jejak perkembangan narasi sang Ratu Laut Selatan. Temuannya mengungkap bahwa mitologi Roro Kidul bukanlah cerita tunggal, melainkan jaringan narasi dengan fokalisasi Jawa dan Sunda yang berbeda fungsi—mulai dari legitimasi kekuasaan keraton hingga perlindungan alam. Lebih lanjut, nilai-nilai spiritualitas termanifestasi dalam berbagai ritual dan tempat sakral seperti Labuhan dan Kamar 308 Hotel Samudra Beach, yang menunjukkan adanya sinkretisme kepercayaan yang kaya di masyarakat.
 
Sementara itu Maria Endah Yulindreswari, sukses mempertahankan tesisnya yang berjudul "Identitas Hibrid sebagai Strategi Perlawanan terhadap Mitos-Mitos Kolonial dalam Novel Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa Karya Pram" di hadapan dewan penguji Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma. Tesis ini dibimbing oleh Dr. Tatang Iskarna dan mengkaji perlawanan tokoh-tokoh dalam novel Pramoedya Ananta Toer terhadap dominasi ideologi kolonial melalui strategi identitas hibrid.
Dalam presentasinya, Maria menjelaskan bahwa mitos-mitos kolonial seperti superioritas Barat, inferioritas pribumi, stereotipe gender, dan hierarki sosial digunakan penjajah untuk menormalisasi dominasi. Namun, tokoh-tokoh seperti Minke dan Nyai Ontosoroh justru memanfaatkan ambiguitas identitas mereka untuk meretas ruang resistensi. Menggunakan teori poskolonial Edward Said dan Homi Bhabha, Maria menunjukkan bahwa pendidikan, tulisan, hukum, dan performa budaya menjadi medan strategis bagi perlawanan simbolik.
Tesis ini dinilai memberikan kontribusi penting dalam kajian sastra poskolonial Indonesia, terutama karena menawarkan perspektif baru mengenai bagaimana identitas hibrid bukan hanya dampak kolonialisme, tetapi juga alat aktif dalam membongkar narasi hegemonik. Ujian ini berlangsung lancar dan Maria Endah dinyatakan lulus dengan rekomendasi revisi minor. (Y2T & Tti)

 kembali
Arsip