Artikel

MAGISTER SASTRA SAMBUT MAHASISWA BARU 2026

07-09-2026

SLEMAN - Program Studi Sastra Program Magister Universitas Sanata Dharma (USD) menyambut mahasiswa baru dalam acara inisiasi yang berlangsung Sabtu, 5 September 2026, pukul 09.00–11.30 WIB di Ruang S302 Gedung Fakultas Sastra USD. Datang dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, keenam mahasiswa baru tersebut membawa minat yang membentang dari sastra dan literasi, budaya digital, penerjemahan, BIPA, hingga pelayanan kemanusiaan.

Acara dibuka oleh Ketua Program Studi Sastra Program Magister, Dr. G. Fajar Sasmita Aji, M.Hum., kemudian dilanjutkan dengan penyampaian visi dan misi Fakultas Sastra oleh Dekan Fakultas Sastra USD, Dr. Tatang Iskarna. Dalam rangkaian inisiasi tersebut, mahasiswa baru juga berkenalan dengan para dosen Magister Sastra, yakni Prof. Novita Dewi, Ph.D., Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., Dr. Elisa Dwi Wardani, M.Hum., Dalan Mehuli Perangin-angin, Ph.D., Sri Mulyani, Ph.D., dan Th. Enny Anggraini, Ph.D.

Sesi perkenalan enam mahasiswa baru memperlihatkan beragam alasan dan harapan yang membawa mereka ke Magister Sastra USD. Zulfardiana D. Damra (Diana), lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan, misalnya, ingin memperdalam teori sastra, penelitian, dan kemampuan literasi. “Saya memilih USD karena reputasinya dalam bidang sastra serta lingkungan akademik yang mendorong mahasiswa berpikir kritis dan kreatif”, katanya. Ke depan, Diana berharap dapat berkontribusi dalam penelitian dan pengajaran serta mengembangkan program literasi dan penulisan di masyarakat.

Sementara itu, Lingga Agape Numporiana Ariyanto, alumnus Sastra Indonesia USD, membawa ketertarikan pada hubungan antara sastra, budaya populer, dan identitas generasi muda di era digital. “ Saya tertarik meneliti bagaimana karya sastra, lirik musik, dan ekspresi budaya kontemporer menjadi ruang representasi identitas dan dinamika masyarakat modern, dan saya melihat Magister Sastra USD sebagai tempat untuk memperkuat metodologi penelitian dan kemampuan analisis kritisnya”, tegasnya.

Minat berbeda dibawa oleh Kristi Ginalih Prayoga, alumnus Sastra Inggris USD. “Ketertarikan saya pada penerjemahan sastra telah tumbuh sejak studi sarjana, ketika saya meneliti penerjemahan hiperbola dalam karya Chairil Anwar yang diterjemahkan Burton Raffel”, ungkap Kristi. Pengalamannya di dunia kreatif juga membuat Kristi melihat sastra dan seni sebagai bidang yang saling berkelindan. Ia berharap perspektif tersebut dapat dikembangkan lebih jauh melalui penelitian dan diskusi akademik di jenjang magister.

Ervidina Nastiti Karya Dewi (Ervi) membawa pengalaman lain. Setelah menyelesaikan S1 Sastra Indonesia USD, ia menjadi pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Lembaga Bahasa USD. “Interaksinya dengan pemelajar dari berbagai negara membuat saya semakin menyadari bahwa pembelajaran bahasa tidak dapat dilepaskan dari sastra dan kebudayaan”, jelas Ervi. Melalui studi magister, ia ingin mengembangkan kajian sastra Indonesia dan pembelajaran BIPA sekaligus ikut mendorong internasionalisasi bahasa dan budaya Indonesia.

Sementara itu, bagi Dinda Ayu Nawang Sasi, lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan, sastra merupakan jalan untuk memahami kehidupan secara lebih dalam. Kebiasaan membaca dan mengamati membuatnya menyadari kekuatan kata-kata untuk menyentuh, menggerakkan, bahkan mengubah cara pandang seseorang. “Saya ingin mengembangkan kemampuan analisis dan penulisannya melalui studi lanjut, sekaligus menjadikan sastra sebagai ruang untuk menumbuhkan kepekaan terhadap diri sendiri, masyarakat, dan kehidupan’, tuturnya.

Warna lain hadir melalui Pastor Martinus Handoko, imam Keuskupan Pangkalpinang. Pengalamannya melayani masyarakat dalam keberagaman sosial, budaya, dan agama di Kepulauan Bangka Belitung dan Riau membuatnya melihat pentingnya ilmu humaniora bagi pelayanan pastoral. “Bagi saya, bahasa dan sastra dapat menjadi sarana dialog lintas budaya, pembentukan identitas, dan rekonsiliasi sosial”, ungkap Romo Hand, panggilan akrabnya. Ilmu yang diperolehnya di Magister Sastra kelak ingin diterapkan antara lain untuk mengembangkan literatur keagamaan yang inklusif, mendokumentasikan tradisi lisan dan budaya lokal, serta meningkatkan literasi masyarakat.


Setelah sesi perkenalan, Dr. G. Fajar Sasmita Aji, M.Hum. memaparkan visi keilmuan serta visi dan misi Program Studi Sastra Program Magister. Inisiasi kemudian dilanjutkan dengan penjelasan berbagai petunjuk praktis perkuliahan agar mahasiswa baru memiliki gambaran mengenai proses akademik yang akan mereka jalani selama menempuh pendidikan di Magister Sastra USD. Pertemuan tersebut juga diisi dengan kesaksian tentang pengalaman kuliah mahasiswa senior, yaitu Nurahmi Putri angkatan 2024 dan Muh. Ibnu Haq angkatan 2025.

Pertemuan perdana tersebut sekaligus memperlihatkan keragaman yang dibawa mahasiswa baru ke dalam ruang akademik Magister Sastra USD. Ada yang datang dengan perhatian pada literasi masyarakat, budaya populer dan dunia digital, penerjemahan, BIPA, kajian sastra, hingga pelayanan pastoral. Enam mahasiswa, dengan pengalaman dan jalan yang berbeda, kini memulai perjalanan akademik yang sama: mendalami sastra untuk membaca manusia, kebudayaan, dan perubahan masyarakat secara lebih kritis, reflektif, dan humanis (Tti).

 kembali
Arsip