Artikel

Lima Mahasiswa Magister Sastra USD Presentasikan Makalahnya di Panggung Ilmiah “The 13th Literary Studies Conference And The 6th Asle-Asean”

24-11-2025

Yogyakarta, 14 November 2025 — Lima mahasiswa Magister Sastra Universitas Sanata Dharma tampil menyampaikan gagasan ekokritiknya dalam The 13th Literary Studies Conference & The 6th ASLE–ASEAN Ecocritical Conference di Kampus USD Mrican. Dengan tema besar “Literary Narratives, Climate Change, and Social Inequality: ASEAN Perspectives,” para mahasiswa ini memaparkan ide melalui analisis, keberanian intelektual, dan kontribusi nyata bagi diskursus humaniora lingkungan di kancah ASEAN.



Heribertus Adol Bastian P. Abul memberikan gagasannya dengan makalah berjudul “Songs of Crisis and Resilience.” Ia membandingkan lagu Untuk Kita Renungkan (Ebiet G. Ade) dan Hilang (Justy Aldrin), menyingkap pergeseran imajinasi ekologis Indonesia dari moral absolutisme Orde Baru menuju empati generasi digital. Dengan pendekatan ekokritik dan spiritual ecology, Heribertus menegaskan bahwa musik populer dapat menjadi arsip kultural trauma bencana sekaligus medium penyembuhan kolektif.



Nurrahmi Putri menghadirkan analisis mendalam melalui kajian food ecocriticism atas novel Arrow of God karya Chinua Achebe. Putri menunjukkan bagaimana ritus panen, ubi, dan sistem pangan masyarakat Igbo menjadi medan kolonialisme yang merusak tatanan ekologis dan spiritual. Ia menegaskan bahwa pemulihan relasi manusia–alam adalah inti dekolonisasi, dan pangan merupakan simbol perlawanan yang sangat politis.



Yusuf Neno memeriahkan forum dengan kajian struktural naratif dan penerjemahan melalui makalah “Morphological Analysis and Deforming Tendencies in the Bilingual Book of Keong Mas.” Ia membuktikan bahwa Keong Mas memenuhi 31 fungsi Propp secara lengkap dan tetap mempertahankan inti budaya meski mengalami beragam deforming tendencies dalam terjemahan. Penelitiannya menegaskan pentingnya buku dwibahasa sebagai media pelestarian cerita rakyat Indonesia.

Celine Nugrahani menyajikan analisis simbolik mendalam atas film dokumenter Kinipan dalam paparannya berjudul “Silenced Resistance of the Dayak Tomun Amid Collapse of Nature.” Dengan teori slow violence Rob Nixon dan simbolisme Frye–Ricœur, Celine mengungkap bahwa deforestasi dan kriminalisasi masyarakat adat merupakan kekerasan ekologis yang diam-diam namun mematikan. Presentasinya menyoroti hutan sebagai arketipe “Ibu” dan perlawanan adat sebagai memori ekologis yang tidak dapat dibungkam.

Pemakalah terakhir, Catherine Monica menutup lewat pembacaan ekofeminisme atas Ronggeng Dukuh Paruk dan Song of Lawino. Ia menunjukkan bagaimana Srintil dan Lawino menjadi simbol benturan tradisi–modernitas sekaligus penjaga spiritualitas lokal. Dengan pendekatan komparatif, Catherine menegaskan bahwa perempuan dalam kedua teks adalah wujud perlawanan ekologis–kultural yang menjaga ingatan, ritual, dan harmoni komunitas dari tekanan kolonialitas dan modernisasi.

Dengan penampilan lima peneliti muda ini, Universitas Sanata Dharma kembali menegaskan posisinya sebagai pusat humaniora kritis yang aktif dalam percakapan global mengenai sastra, lingkungan, dan keadilan sosial. Konferensi LSC & ASLE–ASEAN 2025 menjadi panggung penting bagi generasi baru akademisi Indonesia untuk menunjukkan bahwa sastra tetap berdaya dalam membaca dan merespons krisis zaman. Partisipasi atas kegiatan ini juga merupakan bentuk penciptaan suasana akademik bagi para mahasiswa selain memperoleh materi kuliah di kelas (Tti).

 kembali
Arsip