Artikel

Kuliah Umum Magister Sastra USD “Sastra, Buat Apa?”: Refleksi Peran Sastra dalam Kehidupan Kontemporer

11-02-2026

Yogyakarta — Program Studi Magister Sastra Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Sastra, Buat Apa?” pada Sabtu, 7 Februari 2026 di Ruang S302 Gedung Fakultas Sastra USD Jl. STM Pembangunan Mrican CT Depok Sleman. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Ari Yogaiswara Adipurwawidjana, M.A., akademisi dari Universitas Padjadjaran, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu oleh Muhammad Ibnu Haq sebagai moderator. Kuliah umum ini dibuka dan diberi pengantar sekaligus open house oleh Kaprodi Magister Sastra Dr Tatang Iskarna.

Kuliah umum ini diikuti oleh sekitar 35 peserta yang terdiri dari mahasiswa Magister Sastra USD serta mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain. Tercatat beberapa peserta berasal dari luar USD, yakni mahasiswa akhir STBA LIA, UAD, UNY, UGM, dan ITB, serta peserta dari lingkungan USD yang berasal dari S1 Sastra Inggris, PBIS, Filsafat Keilahian, dan Bimbingan Konseling. Kehadiran peserta lintas kampus ini menunjukkan bahwa tema mengenai relevansi sastra memiliki daya tarik dan urgensi yang luas di kalangan mahasiswa.



Dalam paparannya, Dr. Ari membuka diskusi dengan pertanyaan mendasar: “Sastra membuat apa?” dan “Fungsi sastra apa?” . Ia menegaskan bahwa sastra tidak hanya melahirkan karya sastra, tetapi juga menghasilkan kritik sastra dan membangun wacana sastra yang hidup di ruang publik. Dengan demikian, sastra tidak dapat dipahami semata-mata sebagai produk estetik, melainkan sebagai aktivitas intelektual dan kultural yang terus bergerak.

Lebih jauh, Dr. Ari mengembangkan gagasan tentang “membuat” menjadi “berbuat.” Ia menunjukkan bahwa sastra adalah kerja—work, travail, œuvre—yang melibatkan proses kreatif sekaligus tanggung jawab sosial. Sastra, menurutnya, memiliki peran dalam literasi dan pembelajaran, rekreasi, kajian dan kritik, gerakan serta perubahan sosial, hingga penulisan diri dan dunia . Dengan kata lain, sastra berkontribusi dalam membentuk kesadaran kritis sekaligus membangun kepekaan terhadap dinamika sosial, politik, dan budaya.

Salah satu pernyataan yang menjadi pusat refleksi dalam kuliah umum tersebut adalah kutipan, “You don’t study literature to make a living; you study literature to have a life” . Dr. Ari menegaskan bahwa mempelajari sastra bukan semata untuk mencari penghidupan, melainkan untuk mengisi kehidupan. Pernyataan ini mengajak peserta untuk memandang studi sastra sebagai proses pembentukan diri, bukan sekadar persiapan menuju dunia kerja.

Namun demikian, ia juga menantang anggapan bahwa sastra tidak relevan secara profesional. Melalui serangkaian pertanyaan reflektif, Dr. Ari menunjukkan bahwa kemampuan membaca kritis, menulis efektif, dan berpikir kreatif justru menjadi kompetensi mendasar di hampir semua bidang kerja . Ia menekankan pentingnya memahami bagaimana berbagai jenis teks beroperasi dalam konteks akademik maupun profesional, sebuah kompetensi yang dilatih secara intensif dalam studi sastra.

Dalam bagian akhir pemaparannya, Dr. Ari menyinggung trayek fungsi kritik dengan merujuk pada pemikiran Matthew Arnold, Northrop Frye, dan Terry Eagleton . Ia memperlihatkan bahwa kritik sastra memiliki sejarah panjang sebagai upaya memahami kebudayaan dan membangun masyarakat yang lebih reflektif. Dalam konteks kekinian, pertanyaan yang harus dijawab bersama adalah bagaimana sastra dapat berkontribusi dalam membangun kehidupan kontemporer yang manusiawi .

Diskusi berlangsung dinamis dengan partisipasi aktif dari para peserta. Mahasiswa dari berbagai latar belakang berbagi pandangan mengenai pengalaman mereka mempelajari sastra dan relevansinya dalam kehidupan akademik maupun sosial. Moderator menjaga dialog tetap terarah sekaligus terbuka terhadap berbagai perspektif.



Kuliah umum ini menjadi ruang refleksi bersama mengenai posisi sastra di tengah tantangan zaman. Bagi Magister Sastra USD, kegiatan ini bukan hanya agenda akademik rutin, melainkan bagian dari komitmen untuk terus merawat relevansi humaniora dalam kehidupan publik. Melalui forum-forum intelektual seperti ini, diharapkan mahasiswa semakin menyadari bahwa sastra bukan sekadar disiplin ilmu, tetapi jalan untuk membentuk kepekaan, daya kritis, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Dengan mengangkat pertanyaan sederhana namun mendasar, “Sastra, buat apa?”, kuliah umum ini menegaskan kembali bahwa sastra tetap memiliki peran penting dalam membangun manusia dan peradaban. (Tti-Ibn)

 kembali
Arsip