Artikel

Mahasiswa Magister Sastra USD Berkiprah di Seminar Nasional HISKI

06-10-2025

Madiun, 4 Oktober 2025 – Program Studi Magister Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) kembali menegaskan kiprahnya di dunia akademik nasional. Pada Seminar Nasional “Sastra dan Indonesianana dalam Perspektif Pramoedya Ananta Toer” yang diselenggarakan oleh HISKI Komisariat USD di Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, Sabtu (4/10), mahasiswa dan dosen Magister Sastra USD turut serta mempresentasikan gagasan akademiknya.

Catherine Monica, mahasiswa Magister Sastra USD tampil menyumbangkan gagasan akademis dan  mempresentasikan makalah berjudul “Hegemoni Kolonial dan Arena Perlawanan Karakter Minke dalam Novel Anak Semua Bangsa Karya Pramoedya Ananta Toer.” Ia menggunakan pendekatan kualitatif dengan menekankan close reading dan kontekstualisasi historis untuk melihat bagaimana narasi Pramoedya merepresentasikan kontradiksi kolonialisme. Melalui strategi naratif, Pramoedya mengajak pembaca melihat ironi kolonial: kekuasaan yang menindas justru membuka ruang lahirnya kesadaran anti-kolonial. Minke diposisikan bukan hanya sebagai tokoh fiksi, tetapi juga simbol perjuangan intelektual dan pembentukan identitas baru bangsa.
Dalam analisisnya, Catherine memanfaatkan konsep hegemoni dan intelektual organik dari Antonio Gramsci. Ia menegaskan bahwa kekuasaan kolonial tidak hanya ditegakkan melalui paksaan (coercion), tetapi juga melalui persetujuan (consent). Dalam posisi ini, Minke digambarkan sebagai intelektual organik: seorang pribumi yang menguasai bahasa Belanda—alat kekuasaan kolonial—namun memanfaatkannya sebagai sarana melawan dominasi. Catherine juga menyoroti tokoh pelukis Jean sebagai figur Eropa yang peka terhadap nilai-nilai pribumi dan menghadirkan medium komunikasi lintas budaya, sehingga narasi Pramoedya memperlihatkan perlawanan yang melampaui batas bahasa dan kebudayaan.

Catherine menutup makalahnya dengan menekankan relevansi karya Pramoedya bagi pembaca masa kini. Hegemoni dalam novel hadir dalam ranah hukum, pendidikan, dan ekonomi, namun perlawanan muncul melalui tokoh-tokoh seperti Nyai Ontosoroh, kaum tani, hingga Minke sendiri yang menulis untuk membongkar dominasi kolonial. Menurut Catherine, Pramoedya bukan hanya memberi suara bagi kaum terpinggirkan, tetapi juga membangun jembatan relevansi bagi pembaca sekarang untuk melanjutkan kesadaran itu. “Kita perlu membaca Pramoedya tidak hanya untuk mengenang kolonialisme, tetapi juga untuk melawan bentuk-bentuk hegemoni baru di era modernisasi dan globalisasi,” ujarnya.



Dalam sesi pemakalah utama, Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji, M.Hum., dosen sekaligus Ketua HISKI Komisariat USD, memaparkan “Tetralogi Pramoedya: Sastra dan Indonesiana.” Ia menegaskan bahwa karya Pramoedya merupakan medan dialektika antara sastra dan politik yang mencerminkan perjalanan bangsa Indonesia. Dari kolonialisme Belanda, semangat perjuangan kemerdekaan, hingga pembangunan identitas Indonesia modern, semua terwakili dalam tetralogi tersebut.

Dr. Fajar menghubungkan gagasan ini dengan teori sastra modern, seperti Terry Eagleton yang menyebut sastra sebagai language game, serta Sylvan Barnet yang melihatnya sebagai performance in words. Dengan demikian, Pramoedya bukan sekadar penulis narasi sejarah, tetapi pencipta ideologi yang menghadirkan tokoh-tokoh seperti Minke dan Nyi Ontosoroh sebagai representasi kesadaran kritis dan perlawanan terhadap kolonialisme.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa poskolonialitas dalam tetralogi Pramoedya adalah upaya membangun kemandirian bangsa. Bumi Manusia hingga Rumah Kaca tidak hanya menjadi catatan perjalanan Indonesia, melainkan konstruksi ideologis menuju “Indonesia Emas”: bangsa yang mandiri, berpendidikan, dan berdaya. “Pramoedya mengusung Indonesia tidak hanya sebagai tempat, tetapi sebagai gagasan kebangsaan yang hidup,” ujarnya.



Keterlibatan dosen dan mahasiswa Magister Sastra USD dalam seminar ini menunjukkan kualitas akademik program studi yang tidak hanya fokus pada pembelajaran di kelas, tetapi juga aktif mengembangkan riset dan berkontribusi dalam forum ilmiah nasional. Melalui seminar seperti ini, mahasiswa berkesempatan melatih kemampuan berpikir kritis, menulis akademis, dan menyuarakan gagasannya di hadapan komunitas akademik yang lebih luas.

Seminar ini dihadiri oleh akademisi dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Negeri Yogyakarta dan Universitas Nasional Timor Lorosa’e. Antusiasme peserta menegaskan bahwa karya Pramoedya tetap relevan untuk memahami dinamika bangsa, sekaligus memperlihatkan bahwa Magister Sastra USD berkomitmen melahirkan intelektual yang aktif berkiprah di kancah nasional maupun internasional. (Tti)

 kembali
Arsip