Artikel
Sastra, Ruang Publik, dan Demokrasi: Seri Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD dari Kelas “Sastra dan Kebijakan Publik”
Yogyakarta — Sastra tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetika, tetapi juga sebagai kekuatan kritis dalam menopang kehidupan demokrasi. Gagasan ini mengemuka dalam tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sastra dan Kebijakan Publik. Dalam tugas tersebut, mahasiswa Magister Sastra Muhammad Ibnu Haq merumuskan kontribusi sastra terhadap demokrasi dengan berpijak pada teori-teori kritis klasik dan kontemporer. Mengambil latar negara fiktif Republika Andalas Raya, ia menggambarkan situasi kemunduran demokrasi: pembatasan kebebasan berekspresi, kontrol negara atas media, serta kebijakan publik yang menyingkirkan partisipasi warga .
Kerangka utama analisisnya bertumpu pada konsep ruang publik dari Jürgen Habermas. Mengacu pada gagasan Habermas, demokrasi hanya dapat hidup jika tersedia ruang diskursif yang memungkinkan warga berdialog secara bebas dan rasional. Ketika ruang publik formal dibungkam oleh kekuasaan negara dan kepentingan elit, sastra—khususnya puisi—dapat berfungsi sebagai ruang publik alternatif (counterpublic). Dalam konteks inilah puisi-puisi Wiji Thukul dibaca sebagai medium yang menghidupkan kembali suara warga, membentuk opini publik, dan menantang dominasi kekuasaan.
Selain Habermas, Ibnu Haq juga memanfaatkan perspektif cultural materialism dari Raymond Williams dan Terry Eagleton. Dalam pandangan Williams dan Eagleton, sastra tidak sekadar mencerminkan realitas sosial, tetapi ikut memproduksi kesadaran politik. Sastra menjadi bagian dari infrastruktur kultural yang mampu membongkar ideologi dominan dan menghadirkan imajinasi sosial alternatif. Dengan demikian, puisi protes tidak dapat dipisahkan dari praktik demokrasi, karena ia bekerja langsung pada ranah makna, emosi, dan kesadaran warga.
Melalui kombinasi teori Habermas serta Williams dan Eagleton, tugas ini menegaskan bahwa sastra memiliki tiga peran utama dalam demokrasi: (1) sebagai diagnostik sosial yang membaca kegagalan kebijakan dan penderitaan warga yang tak tertangkap data statistik; (2) sebagai kritik ideologi yang menyingkap relasi kuasa di balik narasi resmi negara; dan (3) sebagai medium transformasi sosial yang menggerakkan warga dari apatisme menuju partisipasi.
Menurut Dr. Tatang Iskarna, selaku dosen pengampu mata kuliah “Sastra dan Kebijakan Publik” pendekatan teoretis ini merupakan inti dari topik sastra dan demokorasi dalam mata kuliah ini. “Mahasiswa dilatih untuk tidak berhenti pada analisis teks, tetapi menghubungkannya dengan teori ruang publik, ideologi, dan kebijakan. Sastra diposisikan sebagai mitra kritis demokrasi dan sumber gagasan kebijakan yang berorientasi pada keadilan dan partisipasi,” jelasnya.
Melalui pembelajaran ini, Program Studi Magister Sastra USD menegaskan orientasi akademiknya: mengembangkan kajian sastra yang dialogis dengan teori sosial-politik dan relevan dengan problem kebangsaan. Sastra dipahami bukan sebagai disiplin yang terpisah dari kehidupan publik, melainkan sebagai praktik kultural yang ikut menjaga denyut demokrasi—sebagaimana ditegaskan Habermas, dan dipertegas oleh Williams serta Eagleton. (MIH-Tti)
Catatan: Berita ini merupakan bagian dari publikasi jurnalistik berseri Program Studi Magister Sastra Universitas Sanata Dharma, yang secara berkelanjutan mendorong integrasi sastra, kebijakan publik, dan penguatan nilai-nilai demokrasi dalam pendidikan tinggi.
- Ujian Tesis Magister Sastra USD Soroti Identitas, Spiritualitas, dan Ideologi
- Program Studi Magister Sastra USD Jalani Asesmen Lapangan BAN-PT
- Magister Sastra USD Gencarkan Promosi PMB 2026 melalui Kuliah Umum Internasional bersama Akademisi Timor-Leste
- Meneguhkan Jejaring Humaniora Asia Tenggara: USD dan UNTL akan Perluas Kerja Sama dari Kuliah Umum hingga Riset
- Magister Sastra USD Lakukan Pengabdian di UKI dalam Kuliah Umum Sastra Digital
- Kuliah Umum Magister Sastra USD “Sastra, Buat Apa?”: Refleksi Peran Sastra dalam Kehidupan Kontemporer
- “AI dalam Sastra: Dari Analisis Teks hingga Kreasi Puisi Digital”: Literasi Publik dan PkM Magister Sastra USD di UGTV Universitas Gunadarma
- Sastra sebagai Kompas Etika Kebijakan Lingkungan: Seri Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD dari Kelas “Sastra dan Kebijakan Publik”
- Sastra, Gender, dan Kebijakan Publik: Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD tentang Keadilan Gender melalui Sastra
- Ketika Alam Berbicara lewat Sastra: Seri Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD dari Kelas “Sastra dan Kebijakan Publik”
- Sastra, Ruang Publik, dan Demokrasi: Seri Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD dari Kelas “Sastra dan Kebijakan Publik”
- Lima Mahasiswa Magister Sastra 2024 Seminarkan Proposal Tesis
- Magister Sastra Adakan Pengabdian kepada Masyarakat Internasional Melalui Literasi Sastra Digital
- Lima Mahasiswa Magister Sastra USD Presentasikan Makalahnya di Panggung Ilmiah “The 13th Literary Studies Conference And The 6th Asle-Asean”
- Mahasiswa Magister Sastra USD Berkiprah di Seminar Nasional HISKI
- Wisuda Periode September 2025: Magister Sastra “Pecah Telor” Luluskan Enam Mahasiswanya
- Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Guru Besar Baru Magister Sastra
- Ujian Tesis Magister Sastra: Dari Perlawanan Politik hingga Spiritualitas Nusantara
- Magister Sastra Adakan PkM Penyuluhan Ekologi Integral di Kelompok Bible Study “Family Blessing” Bantul
- Kuliah Umum dan Open House Magister Sastra USD: Membongkar Ideologi dalam Sastra Anak
