Artikel

Dua Lulusan Pertama Magister Sastra Angkat Persoalan Sosial terkait Kekerasan: Vanny dan Kadek

12-02-2025

Stevanny Yosicha Putri dan Ni Kadek Arie Cahyani Kepakisan menjadi lulusan pertama yang dihasilkan oleh Program Studi Sastra Program Magister. Vanny, panggilan akrab Stevanny, dinyatakan lulus 31 Januari lalu dengan tugas akhir tesis berjudul “Representasi Tragegi 1998 dalam Teks Sastra dan Non-Sastra: Kajian New Historicism” dengan pembimbing Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. dan Sri Mulyani, Ph.D. sebagai reviewer. Sedang Kadek menulis “Representasi Realitas Sosial dan Kekerasan Simbolik dalam Sistem Pernikahan Adat Bali melalui Novel Tarian Bumi, Termpurung, dan Kenanga karya Oka Rusmini” dengan pembimbing Dr. G. Fajar Sasmita Aji, M.Hum. dan reviewer Sri Mulyani, Ph.D. Dengan demikian mereka menjadi lulusan pertama dari angkatan pertama (2022) yang menyelesaikan studinya di Program Magister Sastra USD.

Vanny membahas representasi Tragedi 1998 dalam teks sastra dan non-sastra di Indonesia dengan pendekatan New Historicism dan metode pembacaan paralel serta negosiasi teks. Penelitian Vanny mencoba memahami posisi karya sastra terhadap korban dan keluarganya, serta mengkaji episteme era Reformasi. Terindikasi ada interdiskursivitas antara teks sastra dan non-sastra dalam menggambarkan peristiwa penculikan, penghilangan aktivis, demonstrasi, krisis moneter, kerusuhan, dan pemerkosaan massal wanita Tionghoa. Sastra berfungsi sebagai alat perlawanan—baik keras, pasif, maupun humanistik—dan sebagai memoria passionis yang menyuarakan penderitaan korban. Episteme era Reformasi menandai transisi Indonesia menuju demokrasi dan kebebasan, namun penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat masih belum memuaskan.

Sementara itu, Kadek mengangkat tema strukturasi kekuasaan dan kekerasan simbolik dalam tiga novel karya Oka Rusmini, yaitu Tarian Bumi, Kenanga, dan Tempurung. Dengan menggunakan teori semiotika Charles Sanders Peirce dan perspektif Pierre Bourdieu, tesis ini menunjukkan bahwa sistem kasta dalam masyarakat Bali mencerminkan struktur sosial yang kaku dan hierarkis, menciptakan stratifikasi yang berkelanjutan. Strukturasi kekuasaan dalam novel-novel tersebut terbentuk melalui empat modal—ekonomi, sosial, budaya, dan simbolik—yang menentukan posisi kelas sosial tokoh-tokohnya. Ketidaksetaraan gender menjadi aspek utama yang memperlihatkan bagaimana perempuan sering dirugikan dalam sistem sosial tersebut. Kekerasan simbolik berperan dalam menormalisasi ketidakadilan, membuat individu tertindas menerima norma yang menindas mereka sebagai sesuatu yang tak terelakkan dalam realitas sosial.

Ditanya tentang kesan dan pesannya, Vannya mengatakan bahwa dia sangat senang dan bersyukur bisa berkuliah di Program Studi Sastra Program Magister, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. “Saya mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tambahan terkait ilmu sastra. Para dosen di sini juga sangat profesional dan baik dalam membimbing mahasiswanya”, ungkapnya. “Kesempatan-kesempatan baru yang menambah pengalaman dan soft skill juga saya dapatkan di sini”, sambung Vanny. “Harapan saya kiranya Program Studi Sastra Program Magister ini semakin maju, dikenal luas oleh masyarakat, dan semakin banyak yang menimba ilmu di sini” kata Vanny yang juga alumni Sastra Indonesia, Fakultas Sastra USD.

Di tempat terpisah Kadek juga menyampaikan kesan positif selama belajar di Magister Sastra. “Selama perkuliahan di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma pikiran saya semakin terbuka tentang permasalahan yang terjadi di lingkungan saya”, tegasnya. “Saya juga memahami banyak hal baru dengan berbagai perspektif yang ada. Semua itu bisa terjadi pada diri saya berkat dosen-dosen pengajar yang senantiasa membagikan ilmu-ilmu yang berguna dan membuka pikiran saya. Dosen-dosen fakultas sastra Universitas Sanata Dharma yang selalu akrab dengan mahasiswanya dan selalu terbuka untuk diskusi dalam segala hal”, ungkap lulusan asal Bali ini. (Tti)

 kembali
Arsip