Artikel
Kuliah Umum Magister Sastra Seri 3: Strategi dan Produksi Film Indie Tionghoa Pasca-Suharto
23-12-2024

Program Studi Magister Sastra Universitas Sanata Dharma menggelar kuliah umum online via zoom seri ke-3 bertema “Strategi dan Produksi Film Indie ke-Tionghoa-an Pasca-Suharto,” dengan narasumber Dr. Umilia Rokhani, S.S., M.A., dari Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Sabtu (21/12/24). Kuliah ini menyoroti peran film indie sebagai medium transformasi budaya dan alat perjuangan identitas Tionghoa di Indonesia. Umilia membuka diskusi dengan latar belakang diskriminasi terhadap masyarakat Tionghoa selama Orde Baru, ketika budaya dan karya seni mereka mengalami pembungkaman. "Pasca-Suharto, muncul kebangkitan budaya melalui produksi film indie yang membawa tema ke-Tionghoa-an ke hadapan publik," jelasnya. Setidaknya 17 film indie bertema serupa tercatat muncul sejak pergantian rezim. Hal ini mencerminkan perubahan arah kebijakan dan penerimaan masyarakat.
Dengan menggunakan teori Pierre Bourdieu tentang "arena perjuangan" dalam perfilman Indonesia,. Umilia juga mengelaborasi teori Pierre Bourdieu tentang struktur arena dalam konteks perfilman Indonesia. “Arena perfilman dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: arena industrialis, arena borjuis, dan arena spesifik. Teori ini menunjukkan bahwa setiap arena memiliki logika dan relasi kuasa tersendiri. Arena industrialis, misalnya, lebih dipengaruhi oleh preferensi pasar dan ekonomi, sedangkan arena spesifik menawarkan ruang bagi ekspresi seni yang lebih independen. Film indie menjadi alat perjuangan simbolik di arena spesifik, memanfaatkan modal budaya, sosial, dan simbolik untuk memperjuangkan legitimasi di tengah kompetisi dengan film arus utama. Film indie bertempat di arena spesifik, berfokus pada ekspresi kreatif tanpa tekanan pasar
“Film indie ke-Tionghoa-an tidak hanya menjadi medium seni, tetapi juga alat untuk mengatasi stereotip, membangun empati, dan menyatukan budaya,” tambahnya. Trajektori dalam bentuk perjalanan, lintasan, atau pola perkembangan sosial, budaya, atau profesional yang dilalui oleh individu atau kelompok dalam mencapai posisi tertentu dalam struktur sosial menjelaskan bagaimana agen, dalam hal ini sineas atau pelaku budaya, membentuk dan dipengaruhi oleh konteks sejarah, sosial, dan budaya mereka. Menurut Umilia, sineas Tionghoa menggunakan bahasa dan simbol dalam film untuk membentuk persepsi baru tentang identitas dan kontribusi masyarakat Tionghoa di Indonesia. "Pemilihan tema identitas, kewarganegaraan, dan diskriminasi diangkat untuk membuka diskusi yang selama ini terbungkam," jelasnya. Ia juga menyebut film sebagai media yang efektif untuk merepresentasikan fakta sosial yang kompleks dengan estetika yang menyentuh hati.
Beberapa sineas seperti Edwin, Ernest Prakasa, dan Karin Binanto menjadi contoh sukses dalam memproduksi karya yang diakui di tingkat nasional dan internasional. “Melalui film, mereka membangun pengakuan dan menunjukkan bahwa tema ke-Tionghoa-an dapat diterima, bahkan diapresiasi oleh masyarakat luas,” ungkap Umilia. Dosen ISI tersebut menutup kuliah dengan menekankan pentingnya film indie sebagai alat perjuangan kultural. "Film indie memungkinkan kita membongkar realitas, mentransformasi pandangan, dan memajukan harmoni budaya," ujarnya. Ia berharap generasi muda, khususnya akademisi dan praktisi film, dapat terus mengeksplorasi tema-tema budaya yang beragam untuk memperkaya lanskap seni di Indonesia. (Tti)
kembali
- MAGISTER SASTRA SAMBUT MAHASISWA BARU 2026
- Magister Sastra USD Raih Akreditasi Baik Sekali, Perkuat Mutu dan Kekhasan Akademik
- Ujian Tesis Magister Sastra USD Soroti Identitas, Spiritualitas, dan Ideologi
- Program Studi Magister Sastra USD Jalani Asesmen Lapangan BAN-PT
- Magister Sastra USD Gencarkan Promosi PMB 2026 melalui Kuliah Umum Internasional bersama Akademisi Timor-Leste
- Meneguhkan Jejaring Humaniora Asia Tenggara: USD dan UNTL akan Perluas Kerja Sama dari Kuliah Umum hingga Riset
- Magister Sastra USD Lakukan Pengabdian di UKI dalam Kuliah Umum Sastra Digital
- Kuliah Umum Magister Sastra USD “Sastra, Buat Apa?”: Refleksi Peran Sastra dalam Kehidupan Kontemporer
- “AI dalam Sastra: Dari Analisis Teks hingga Kreasi Puisi Digital”: Literasi Publik dan PkM Magister Sastra USD di UGTV Universitas Gunadarma
- Sastra sebagai Kompas Etika Kebijakan Lingkungan: Seri Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD dari Kelas “Sastra dan Kebijakan Publik”
- Sastra, Gender, dan Kebijakan Publik: Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD tentang Keadilan Gender melalui Sastra
- Ketika Alam Berbicara lewat Sastra: Seri Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD dari Kelas “Sastra dan Kebijakan Publik”
- Sastra, Ruang Publik, dan Demokrasi: Seri Gagasan Mahasiswa Magister Sastra USD dari Kelas “Sastra dan Kebijakan Publik”
- Lima Mahasiswa Magister Sastra 2024 Seminarkan Proposal Tesis
- Magister Sastra Adakan Pengabdian kepada Masyarakat Internasional Melalui Literasi Sastra Digital
- Lima Mahasiswa Magister Sastra USD Presentasikan Makalahnya di Panggung Ilmiah “The 13th Literary Studies Conference And The 6th Asle-Asean”
- Mahasiswa Magister Sastra USD Berkiprah di Seminar Nasional HISKI
- Wisuda Periode September 2025: Magister Sastra “Pecah Telor” Luluskan Enam Mahasiswanya
- Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Guru Besar Baru Magister Sastra
- Ujian Tesis Magister Sastra: Dari Perlawanan Politik hingga Spiritualitas Nusantara
