Artikel

Kuliah Umum Magister Sastra Seri 2: Menyibak Sastra Perjalanan dan Dinamika Poskolonialisme

18-12-2024

Sastra perjalanan tetap relevan sebagai alat untuk memahami representasi budaya dan relasi kekuasaan dalam konteks global. Namun, tantangan terbesar bagi genre ini adalah bagaimana ia dapat sepenuhnya melepaskan diri dari bias kolonial dan orientalis, serta menjadi ruang refleksi yang benar-benar adil terhadap berbagai identitas dan perspektif budaya. Demikian ringkasan gagasan acara Kuliah Umum Online Magister Sastra Seri 2 disampaikan Dr. Rahayu Puji Haryanti, M.Hum. dosen UNNES dan juga Koordinator Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, UNNES Semarang. Kuliah umum yang diadakan secara online Zoom dihadiri oleh sekitar 20 perserta baik mahasiswa S2 Sastra maupun S1 dan dosen Fakultas Sastra, Sabtu (14/12/24) dan dibuka secara resmi oleh Kaprodi S2 Sastra Dr. Tatang Iskarna sebagai bagian dari pengkondisian suasana akademik bagi mahasiswa Magister Sastra USD dan promosi dan sosialisasi program studi Magister Sastra USD yang baru berdiri 3 tahun.

Lebih lanjut menurut Rahayu, sastra perjalanan merupakan sebuah genre narasi yang mencatat pengalaman perjalanan fisik, interaksi budaya, serta transformasi identitas diri dalam berhadapan dengan "liyan". Genre ini tidak hanya berfungsi sebagai pelaporan fakta, tetapi juga sebagai medium pengungkapan perspektif personal dan representasi budaya. Perjalanan sering kali melibatkan negosiasi antara identitas diri dan "liyan", menciptakan hubungan yang kompleks antara perbedaan dan persamaan.

Dalam sejarahnya, sastra perjalanan memainkan peran signifikan dalam mendokumentasikan dunia kolonial dan menjadi alat produksi pengetahuan yang mendukung dominasi kekuasaan kolonial. Narasi yang dihasilkan cenderung merepresentasikan budaya lain sebagai inferior atau eksotis melalui proses "othering". “Dengan cara ini, sastra perjalanan menjadi bagian dari proyek imperial, menciptakan gambaran yang mengukuhkan superioritas Barat”, tegas Rahayu. Pada era poskolonial, karya-karya semacam ini tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari warisan kolonialisme, meskipun terdapat upaya untuk menampilkan perspektif yang lebih kosmopolitan. “Namun, bias imperial sering kali tetap terasa dalam representasi yang dibuat”, sambung Rahayu.

Lebih jauh menurut Rahayu, sastra perjalanan memiliki ciri khas berupa perpaduan antara fakta dan fiksi, dengan fokus pada perbedaan budaya serta relasi biner seperti "Self/Other" dan "Home/Away". Tulisan-tulisan ini sering kali menyajikan pengalaman perjalanan secara retrospektif dan subjektif, memberikan estetika naratif yang menarik. “Indonesia, sebagai salah satu subjek dalam sastra perjalanan Barat, sering kali digambarkan sebagai "paran", yakni wilayah yang berbeda dan eksotis”, kata Rahayu. “Representasi Indonesia dalam karya-karya ini dapat dikategorikan ke dalam tiga pola utama: eksotisasi romantis yang menggambarkan Indonesia sebagai surga tropis; eksotisasi kolonial yang memosisikan Indonesia sebagai wilayah yang penuh konflik atau primitif; serta eksotisasi kosmopolitan yang mengintegrasikan Indonesia ke dalam narasi global sambil tetap menonjolkan identitas lokalnya”, jelasnya.

Dalam sesi penutup, Rahayu menggaris bawahi bahwa dalam kajian poskolonial, sastra perjalanan dianggap sebagai medium yang mencerminkan dinamika kekuasaan antara Barat dan Timur. Edward Said menyoroti bagaimana karya-karya ini memperkuat pandangan orientalis yang memosisikan Timur sebagai inferior dan eksotik. Homi Bhabha menambahkan bahwa identitas Barat dan Timur tidaklah statis, melainkan bersifat dinamis dan dipengaruhi oleh hubungan kolonial. “Pada era global, narasi sastra perjalanan berusaha mengatasi warisan imperial dengan menampilkan nilai-nilai kosmopolitan, meskipun tidak jarang memperkuat stereotip tertentu”, pungkasnya. (Tti)

 kembali
Arsip