Artikel

Kuliah Umum Magister Sastra Seri I: Sastra Lisan dan Identitas Budaya Using

13-12-2024

Tradisi lisan masyarakat Using Banyuwangi, terutama mantra, bukan hanya menjadi warisan budaya tetapi juga representasi identitas dan pranata sosial yang kaya akan nilai spiritual dan kultural. Mantra dapat berfungsi sebagai sarana hidup yang multifungsi, dari integrasi sosial hingga tujuan mistik, serta bagaimana transformasi kelisanan ke seni modern menjadi cara untuk menjaga relevansi tradisi di era kontemporer. Demikian disampaikan Dr. Heru SP Saputra, M.Hum. dalam kuliah umum online yang diselenggarakan Magister Sastra USD Sabtu (7/12/24).

Kuliah Umum Berseri yang dihadiri mahasiswa S1 dan S2 serta dosen Fakultas Sastra USD menurut Dr. Tatang Iskarna selaku Kaprodi Magister Sastra diselenggarakan sebagai upaya untuk menciptakan suasana akademik di luar kuliah reguler. Kuliah ini membahas secara mendalam sastra lisan sebagai identitas budaya masyarakat Using di Banyuwangi. Dalam paparannya, Dr. Heru menjelaskan berbagai aspek penting mengenai tradisi lisan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Using. "Sastra lisan bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga pranata kultural yang mencerminkan nilai-nilai, kepercayaan, dan identitas komunitas Using," jelas Dr. Heru.

Materi yang disampaikan mencakup analisis tentang bentuk-bentuk sastra lisan masyarakat Using, seperti prosa (mite, legenda, dongeng), puisi (basanan, wangsalan, sanepan, syair, mantra), dan drama (janger, barong). Dr. Heru menyoroti kekayaan budaya Banyuwangi, termasuk ritual Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan yang lekat dengan tradisi mantra. Mantra menjadi salah satu tema utama dalam pembahasan. Dr. Heru menguraikan berbagai kategori mantra, dari yang digunakan untuk tujuan mistik hingga fungsi sosial. Selain itu, proses transformasi mantra terjadi, seperti perubahan dari bentuk tradisional ke seni modern seperti musik, tari, dan puisi juga didiskusikan secara rinci.

Dr. Heru menegaskan pentingnya kelisanan dalam menjaga keberlanjutan tradisi. "Tradisi lisan memiliki sifat konservatif dan empatik, yang membuatnya tetap dekat dengan kehidupan masyarakat," ujarnya. Pewarisan mantra, baik secara lisan maupun melalui teknologi modern, menjadi cara masyarakat menjaga warisan ini. Mantra juga memiliki fungsi beragam, dari yang positif seperti integrasi sosial hingga yang negatif seperti tujuan destruktif. "Namun, fungsi konstruktif dan integratif dari mantra jauh lebih menonjol, terutama dalam menjaga harmoni dan identitas budaya masyarakat Using," tambahnya. DI akhir kuliahnya, Dr. Heru menyampaikan pesan akan pentingnya menghargai dan melestarikan tradisi lokal. "Sastra lisan tidak hanya milik masa lalu, tetapi juga pijakan untuk masa depan budaya bangsa," pungkasnya. (Tti)

 kembali
Arsip