Artikel

Hadapi Era Global dan Digital, Magister Sastra Gelar Lokakarya Revisi Kurikulum

12-12-2024

Revisi kurikulum pada Program Studi Magister Sastra perlu dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan tantangan era global dan digital dengan mengacu pada kebijakan terbaru, yaitu Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023, sebagai landasan penyusunan kurikulum. Fokus utama kurikulum baru ini adalah menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja serta perkembangan teknologi. Demikian benang merah lokakarya Revisi Kurikulum Prodi Sastra Program Magister FS USD yang diadakan di Hotel Innside Maguwoharjo Sleman DIY Jumat (29/11/24). Lokakarya dibuka oleh Kaprodi Magister Sasstra Dr. Tatang Iskarna dengan dihadiri enam dosen dengan menghadirkan nara sumber Dr. Pujiharto, M.Hum. selaku Wasekjend Himpunan Sasrjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Pusat yang juga dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM selaku perwakilan asosiasi dan Dr. rer.pol. Ied Veda Romrosa Sitepu, S.S., M.A. dari perwakilan akademisi yang juga dosen di Fakultas Sastra dan Bahasa UKI Jakarta.


Menurut Pujiharto, sesuai Permendikbudristek No. 53 Tahun 2023 lulusan Magister Sastra diharapkan memiliki kemampuan sebagai pengembang ilmu pengetahuan kesastraan, mahir dalam penciptaan karya sastra, serta adaptif dalam menghadapi tantangan di bidang kesastraan yang terus berkembang. Profil ini mencakup kemampuan analisis fenomena kesastraan, keterampilan bersastra lintas genre, pemecahan masalah kompleks, dan kepemimpinan dalam konteks profesional.

“Untuk mendukung profil ini, capaian pembelajaran difokuskan pada kemampuan memahami dan menerapkan pendekatan kesastraan, adaptasi teknologi digital, serta menghasilkan karya kreatif seperti puisi dan prosa”, tegasnya. “Mahasiswa juga dilatih untuk bekerja dalam tim lintas budaya, membuat keputusan etis, dan menghasilkan kebijakan pengembangan sastra yang strategis. Kompetensi ini selaras dengan kebutuhan sebagai dosen, kritikus sastra, sastrawan, pekerja seni, dan pemimpin dalam bidang kesastraan”, lanjut dosen Sastra Indonesia UGM ini.

Pujiharto menggaris bawahi bahwa melalui kurikulum yang berorientasi pada pembelajaran sepanjang hayat, lulusan Program Magister Sastra diharapkan mampu memberikan kontribusi signifikan baik di dunia akademik maupun profesional. Pendekatan ini menempatkan mereka sebagai inovator yang adaptif, toleran, dan kritis dalam memajukan dunia kesastraan.



Sementara itu Ied menyebut hendaknya penyesuaian ditujukan untuk memastikan kurikulum relevan dengan kebutuhan pasar kerja dan masyarakat di era globalisasi. Dengan fokus pada Kurikulum Berbasis Capaian Pembelajaran (OBE), lulusan harus dipastikan memiliki literasi data, teknologi, dan kemanusiaan, serta mampu berinovasi di berbagai bidang.

Lebih jauh Ied menandaskan bahwa fleksibilitas pembelajaran yang mencakup opsi tugas akhir berupa tesis, proyek, atau inovasi lainnya perlu diadakan. Kurikulum yang dirancang dengan beban belajar 54-72 SKS dan mengintegrasikan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM) hendaknya juga mendukung hybrid learning dan mahasiswa paruh waktu. Selain itu, USD juga perlu memprioritaskan relevansi dengan tren global melalui penguatan peran dosen dan adopsi sistem Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang memungkinkan konversi pengalaman kerja menjadi kredit akademik.

Melalui langkah ini, menurut Ied Prodi Magister Sastra dapat menciptakan kurikulum yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan dunia kerja global. Evaluasi rutin dan kolaborasi aktif dengan pemangku kepentingan menjadi strategi utama dalam memastikan kurikulum tetap relevan dan inovatif. (Tti)

 kembali
Arsip