Artikel

MAGISTER SASTRA GELAR SEMINAR HARI ILMIAH MAHASISWA: SASTRA SEBAGAI NARASI KRITIS: DARI MITOS SAMPAI SIBER

02-12-2024

Sastra bukan hanya sarana estetika, tetapi juga menjadi alat untuk menyoroti isu-isu mendalam seperti relasi manusia dengan mitos, lingkungan, kekuasaan, teknologi, dan stigma sosial. Perjalanan sastra dari warisan tradisional yang kaya hingga transformasinya ke dalam bentuk digital, menunjukkan kelenturannya sebagai ruang refleksi kritis dalam berbagai konteks dan medium. Demikian benang merah gagasan para mahasiswa Prodi Magister Sastra dalam acara Seminar Hari Ilmiah Magister Sastra USD yang digelar di Gedung Fakultas Sastra USD Kampus I, Ruang S302, Sabtu (30/11/24). Dengan tema “Sastra sebagai Narasi Kritis: dari Mitos sampai Siber”, seminar yang menampilkan enam pembicara mahasiswa prodi Magister Sastra dihadiri oleh sekitar 41 peserta baik dari mahasiswa Prodi S1 Sastra Indonesia, Sastra Inggris, PBI USD, dan PBSI UNY serta beberapa dosen penanggap makalah dari Magister Sastra USD. Menurut Kaprodi Magister Sastra Dr. Tatang Iskarna seminar ini diselenggarakan rutin setiap tahun sebagai usaha untuk menciptakan suasana akademik tambahan selain kuliah reguler dan ajang promosi Prodi Magister Sastra USD.




Fira Nur Vianingtias membuka diskusi dengan membahas mitos Ratu Roro Kidul. Ia menggali nilai spiritualitas tokoh mitos ini yang melibatkan hubungan antara manusia, alam, dan dunia gaib. Fira menunjukkan bagaimana ritual seperti Labuhan Karaton Yogyakarta dan seni tradisional Tari Bedhaya Ketawang mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap Roro Kidul, yang juga menjadi simbol harmoni dan legitimasi kekuasaan. Inosensius Soni Koten melanjutkan dengan analisis karya Silvester Petara Hurit melalui teori Pierre Macherey. Ia mengungkap ideologi tersembunyi dalam Ina Tonu, Mama Eta, dan Pilkades. Cerpen ini menggambarkan perjuangan identitas budaya Lamaholot, kritik terhadap patriarki, serta eksploitasi perempuan dalam konteks sosial-politik Flores Timur. Meskipun Hurit berupaya memperjuangkan martabat perempuan, narasinya kadang memperkuat stereotip gender, menunjukkan kompleksitas hubungan teks dan ideologi dominan. Yohanes Carol Kurnia Awan mengupas kritik ekologis dalam buku cerita bergambar Bianglala Anak Nusantara. Melalui enam konsep ekokritik Garrard, Carol mengeksplorasi representasi alam seperti sungai, hutan, dan pemukiman. Ia menyoroti bagaimana narasi ini mengedukasi pembaca tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem, menjadikan buku ini sebagai medium refleksi isu lingkungan yang relevan bagi generasi muda.



Setelah snack break, Yolenta Oktovia Mahuze mengangkat mitos asal-usul pohon kelapa dari tanah Asmat dengan pendekatan naratologi A.J. Greimas. Kisah ini menawarkan kritik terhadap hubungan manusia dengan alam serta pentingnya keberanian dan penghormatan terhadap tradisi. Yolenta menegaskan bahwa mitos ini mencerminkan nilai-nilai lokal yang relevan dalam menjaga harmoni dengan lingkungan dan keberlanjutan kehidupan. Sementara itu, Maria Endah Yulindreswari membahas puisi Nyanyian Angsa karya WS Rendra, yang menggambarkan perjuangan Maria Zaitun melawan stigma sosial. Dengan pendekatan psikoanalisis Lacan, Maria menganalisis perjalanan tokoh utama dari keterasingan hingga pembebasan diri. Puisi ini menjadi refleksi mendalam tentang cinta, penerimaan, dan perjuangan manusia melawan penindasan sosial. Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha menutup seminar dengan memaparkan perkembangan sastra siber di Indonesia. Ia menyoroti potensi sastra digital untuk menghadirkan narasi interaktif dan multimodal, meski masih minim eksplorasi dalam genre serius. Patricius mendorong komunitas sastra untuk lebih berani mengeksplorasi platform digital guna merevolusi cara menikmati dan memproduksi karya sastra.  



Dari seminar ini, dapat diperlihatkan bahwa sastra, baik dalam bentuk mitos tradisional maupun teknologi modern, tetap menjadi medium refleksi kritis yang mampu menyentuh berbagai aspek sosial, budaya, dan teknologi. Sastra tidak hanya berfungsi sebagai hiburan atau medium estetika tetapi juga sebagai alat untuk menyampaikan kritik mendalam terhadap dunia yang terus berubah. Sastra tetap relevan sebagai ruang refleksi, baik di akar tradisi maupun dalam dunia digital modern. (Tti)

 kembali
Arsip