Berita
Mengenal Allah dalam Sejarah Keselamatan: Menghayati Misteri Tritunggal di Era Digital
02 November 2026

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, ruang-ruang perjumpaan pribadi dengan Allah kerap kali tergeser oleh riuhnya aktivitas harian. Batas-batas geografis dan kesibukan pastoral di tingkat dekanat maupun paroki kerap menjadi tantangan tersendiri untuk duduk bersama mendalami akar iman kepercayaan Kristiani. Namun, ruang digital kini membuka sekat-sekat tersebut. Melalui layar-layar komputer dan smartphone, para pelayan pastoral serta umat berkumpul secara daring dalam kegiatan kursus Kitab Suci dan Teologi Dasar Dekanat Barat Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas pembinaan, melainkan sebuah jeda reflektif untuk kembali menyelami pokok paling mendasar dari iman Gereja: pengalaman akan Allah dan misteri Allah Tritunggal MahaKudus.
Hadir sebagai narasumber utama dalam webinar ini, Prof. Dr. Emanuel Martasudjita, Pr., pakar teologi dogmatik, mengajak para peserta bergerak melampaui pemahaman teologis yang kaku. Dalam pemaparannya yang mendalam namun tetap disampaikan secara komunikatif, ia menggarisbawahi bahwa pengalaman akan Allah pada dasarnya dialami oleh setiap manusia dalam dua ranah. Ranah pertama adalah pengalaman kategorial atau konkret: hal-hal yang tertangkap oleh indra dalam keseharian. Sementara ranah kedua yakni pengalaman transendental: kesadaran mendasar yang menjiwai dan melingkupi seluruh pengalaman manusiawi tersebut. Dari titik pijak inilah, pengalaman akan Allah dalam tradisi Kristiani dibeberkan secara sistematis dan bertahap.
Salah satu gagasan kunci yang ditekankan dalam pembinaan ini adalah pentingnya memahami Allah Tritunggal dari kacamata Sejarah Keselamatan, sebagaimana diusung oleh Konsili Vatikan II, ketimbang sekadar mengandalkan simbol-simbol akademis yang abstrak. Penggunaan simbol kerap kali kehilangan dinamika historis dari karya Allah. Oleh karena itu, langkah pertama untuk mengenal Allah Tritunggal dimulai dari Peristiwa Yesus Kristus yang berpuncak pada Misteri Paskah: sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Terang paskah inilah yang membuka selubung iman para murid untuk memahami seluruh Sabda, karya, dan identitas Yesus sejak awal mula.
Salah satu gagasan kunci yang ditekankan dalam pembinaan ini adalah pentingnya memahami Allah Tritunggal dari kacamata Sejarah Keselamatan, sebagaimana diusung oleh Konsili Vatikan II, ketimbang sekadar mengandalkan simbol-simbol akademis yang abstrak. Penggunaan simbol kerap kali kehilangan dinamika historis dari karya Allah. Oleh karena itu, langkah pertama untuk mengenal Allah Tritunggal dimulai dari Peristiwa Yesus Kristus yang berpuncak pada Misteri Paskah: sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Terang paskah inilah yang membuka selubung iman para murid untuk memahami seluruh Sabda, karya, dan identitas Yesus sejak awal mula.
Dari peristiwa Kristus, umat diajak melangkah pada pemahaman akan Allah Bapa dan Roh Kudus. Berbeda dari pemahaman umum atau tradisi Perjanjian Lama yang menyebut Allah sebagai Bapa secara komunal maupun kiasan, Yesus memperkenalkan Allah sebagai Bapa dalam arti yang sangat personal dan sejati. Melalui sakramen Babtis, umat beriman diberi rahmat untuk “menginduk” atau berpartisipasi dalam Keputraan Yesus, sehingga berani menyapa Allah sebagai Bapa.
Lebih lanjut, keilahian Yesus tampak jelas bukan hanya dari warta-Nya, melainkan dari tindakan-Nya yang menghadirkan Allah secara langsung: mengampuni dosa, menyatakan kesatuan erat dengan Bapa, dan bangkit dalam kemuliaan. Karya penyelamatan yang dirancang oleh Bapa dan dilaksanakan oleh Putra di dalam sejarah ini kemudian dihadirkan, dicurahkan, dan dihidupkan di dalam hati setiap orang sepanjang zaman melalui peran Allah Roh Kudus. Roh Kudus inilah yang terus mendoakan, mengingatkan, dan memimpin Gereja menuju seluruh kebenaran.
Sesi interaktif yang berlangsung sepanjang webinar memperlihatkan betapa antusiasnya peserta dalam menggali ajaran teologi dasar ini. Meskipun berlangsung secara daring, suasana dialogis tetap terbangun hangat. Pertanyaan-pertanyaan reflektif dari peserta menegaskan kebutuhan umat akan pendalaman iman yang berakar kuat pada Kitab Suci dan Tradisi Gereja.
Melalui kegiatan pembinaan ini, Dekanat Barat KAJ bersama narasumber kembali mengingatkan bahwa teologi bukanlah hafalan dogma yang jauh dari realitas, melainkan sarana untuk memperjelas dan memperdalam pengalaman hidup bersama Allah. Ketika pemahaman akan Allah Tritunggal dihayati sebagai relasi kasih yang nyata di mana Bapa merencanakan, Putra melaksanakan, dan Roh Kudus membagikan rahmat keselamatan. Maka, iman tidak lagi berhenti di kepala, tetapi berbuah manis dalam persekutuan dan pelayanan Gereja sehari-hari.
Kembali- Mengenal Allah dalam Sejarah Keselamatan: Menghayati Misteri Tritunggal di Era Digital
- Merawat Nalar dan Jiwa: Pedagogi Mazmur dan Literatur Kebijaksanaan di Era Kecerdasan Buatan
- Membedah Misteri, Menghidup Kehadiran: Pendalaman Teologis dan Magisterial Ekaristi di Paroki Alam Sutera
- Mendampingi UMKM Mulyodadi untuk Kembangkan Produk Olahan Gayam dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Dies Natalis USD ke-71
- PUSAT PENERBITAN JURNAL ILMIAH USD GANDENG LPPM UNIKA SOEGIJAPRANATA SEMARANG GELAR WRITING BOOTCAMP 2
- Kunjungan PKM Dies Universitas Sanata Dharma di Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora Jawa Tengah
- Kunjungan PKM Dies Universitas Sanata Dharma di Kalurahan Tegalrejo
- PEMBINAAN SPIRITUALITAS Mahasiswa Pendikkat Semester V – Universitas Sanata Dharma Nobar dan Diskusi Film “BLDTR”
- Membaca Kebijaksanaan Kitab Suci di Tengah Tantangan Zaman: Pengabdian Bernadus Dirgaprimawan, S.J. di Loyola School of Theology
- Sambut Tahun Ajaran Baru, SDU Press Gelar Pameran Buku "Inquisitive 2026: Unlock Your Next Chapter”