Berita

Merawat Nalar dan Jiwa: Pedagogi Mazmur dan Literatur Kebijaksanaan di Era Kecerdasan Buatan

02 November 2026

Di tengah kemajuan teknologi digital yang bergerak begitu cepat, kita semakin sering melihat banyak orang melakukan atau mencapai keinginan mereka secara instan. Belakangan ini hal yang paling menonjol terlihat dalam perkembangan proses belajar-mengajar di ruang-ruang akademik (seperti sekolah, kampus, dan sebagainya). Yang dimaksudkan sesuatu yang “instan” itu adalah kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Teknologi AI merupakan program yang sengaja dibuat oleh manusia untuk membantu mereka memperoleh jawaban atas berbagai macam pertanyaan secara kilat atau cepat. Selain itu, kecerdasan buatan (AI) ini mampu menyediakan solusi instan dalam hitungan detik. Namun, di balik kenyamanan tersebut, terdapat pula konsekuensi nyata yakni memicu kesehatan mental yang melanda generasi muda hari ini. Tak hanya itu, kemampuan untuk menganalisis dan berpikir secara kritis perlahan-lahan terancam tumpul.

Berangkat dari kegelisahan kultural dan pastoral tersebut, sebuah langkah nyata dihadirkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di lingkup internasional yang diinisiasi oleh dosen Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma, Bernadus Dirgaprimawan, S.J., S.S.D. Kegiatan tersebut berlangsung di Loyola School of Theology (LST), Ateneo de Manila University, Filipina. Peserta yang hadir pada kegiatan ini merupakan para mahasiswa teologi yang kelak akan menjadi pendamping umat dan pendidik yang cakap di tengah masyarakat. Tema yang diusung oleh narasumber bertajuk “The Pedagogy of Psalms and Wisdom Literature in the Age of Artificial Intelligence and Mental Health.” Melalui tema itu, para peserta dituntun kembali melihat kekayaan khazanah pustaka Kebijaksanaan Perjanjian Lama, seperti Kitab Amsal, Ayub, Pengkhotbah, hingga Kitab Mazmur.

Dalam dinamika pembinaan tersebut, kekayaan tradisi kebijaksanaan biblis dipadukan secara kritis dengan arah pemikiran Gereja kontemporer melalui dokumen resmi Vatikan seperti Antiqua et Nova dan ensiklik Magnifica Humanitas, serta diagnosis sosial dari Jonathan Haidt mengenai dampak gawai terhadap kesehatan mental generasi muda. Tradisi Kebijaksanaan Israel dipahami bukan sekadar kumpulan pepatah kuno, melainkan sebuah bentuk “pedagogi jiwa” yang melatih manusia untuk memiliki perhatian penuh, kerendahan hati, dan kemampuan mengendalikan diri. Di saat algoritma digital mendorong pola pikir instan dan serba cepat, tradisi kebijaksanaan justru menawarkan seni untuk melambat, berani bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, dan menerima kerapuhan insani sebagai ruang di mana rahmat Allah bekerja.
 
Melalui metode pembelajaran yang partisipatif dan dialogis, para mahasiswa diajak melihat bahwa pendidikan sejati tidak pernah bertujuan mencetak manusia menjadi semacam automasi yang hanya memindahkan data. Pendidikan yang utuh adalah yang melibatkan tegangan kreatif antara olah akal budi, kelembutan hati, dan keterlibatan tangan secara langsung. Sebagaimana hal tersebut tercermin dalam prinsip pendampingan khas Ignasian (cura personalis). Kehadiran seorang pendidik atau pembimbing rohani tidak bisa digantikan oleh sistem tercanggih sekalipun, karena relasi manusiawi yang penuh empati dan kehadiran raga yang tulus adalah kunci utama untuk merawat kesehatan batin serta menumbuhkan kedewasaan iman.
 
Kegiatan PkM ini pada akhirnya menegaskan bahwa refleksi teologis dan biblis tidak boleh berhenti sebagai wacana akademis di ruang kuliah yang steril dari realitas. Ketika dihadapkan pada disrupsi teknologi dan kecemasan zaman, Sabda Allah dalam pustaka kebijaksanaan justru menawarkan arah jalan pulang: membimbing akal budi agar tetap berpijak pada kejujuran, serta memulihkan ketenangan jiwa di tengah masifnya dunia digital.

Kembali