Berita

Membedah Misteri, Menghidup Kehadiran: Pendalaman Teologis dan Magisterial Ekaristi di Paroki Alam Sutera

02 November 2026

Di Tengah kompleksitas kehidupan modern dan dinamika peribadatan umat Kristiani saat ini, Perayaan Ekaristi seringkali dipahami sebatas ritus mingguan. Umat cenderung berfokus pada aspek teknis atau “bagaimana” Ekaristi dirayakan. Padahal, pemahaman mendasar tentang “mengapa” sakramen ini justru jauh lebih penting. Untuk menjawab kerinduan iman tersebut, Gereja Santo Laurensius, Paroki Alam Sutera, Keuskupan Agung Jakarta, merancang kegiatan bedah buku dan pendalaman Ekaristi pada 16-17 Mei 2026.
 
Kegiatan yang menghadirkan pakar teologi dogmatik, Prof. Dr. Emanuel Martasudjita, Pr., ini membedah karya monumental beliau yang berjudul Ekaristi: Pendalaman Biblis, Teologis, dan Magisterial. Buku karyanya yang bedah bersama ini hadir sebagai acuan komprehensif dalam bahasa Indonesia. Pemaparannya memberikan sintesis teologis yang utuh. Penjelasannya menghubungkan Kitab Suci, Tradisi Patristik, refleksi abad pertengahan, hingga ajaran Gereja modern.
 
Sesi pertama diawali dengan penelusuran dimensi antropologis. Perjamuan makan merupakan fenomena sosial paling mendasar dalam hidup manusia. Makanan dan minuman memiliki makna simbolis tentang pengorbanan yang memberi kehidupan. Dari perspektif ini, Kristus mengangkat perjamuan manusiawi menjadi karunia yang paling berharga bagi Gereja.
 
Selanjutnya, peserta diajak memahami sejarah istilah Ekaristi. Perjanjian Baru pada awalnya menggunakan istilah Perjamuan Tuhan atau Pemecahan Roti. Istilah Ekaristi baru digunakan dalam naskah Didakhe pada akhir abad pertama. Narasumber juga mengulas permohonan “roti epoiusios” dalam Doa Bapa Kami. Frasa tersebut mengarahkan doa kita pada Kristus sendiri sebagai Roti Surgawi dan Manna Baru.


Pemahaman Ekaristi tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian Lama. Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa karya Kristus harus dipahami dalam konteks sejarah keselamatan Israel. Ekaristi memuat harapan akan Eksodus Baru, kedatangan Musa Baru, dan pembentukan Perjanjian Baru. Pengalaman kehadiran Allah (Shekhinah) yang dahulu dihayati para Bapa Bangsa dan peristiwa Sinai kini hadir secara personal dalam diri Kristus sebagai Bait Allah yang baru. Berbagai upacara kurban Perjanjian Lama mulai dari kurban Abraham (aqedah), kurban Paskah Yahudi, hingga kurban Musa, menemukan pemenuhannya secara sempurna dalam kurban salib Yesus. Begitu pula dengan Manna di padang gurun dan Roti Kehadiran (Lehem Panim) di Kemah Suci, semuanya menjadi prefigurasi yang mengantisipasi kehadiran riil Kristus dalam Sakramen Mahakudus.
 
Pendalaman teologis ini bermuara pada transformasi hidup beriman harian. Sebagaimana diteladani oleh Santo Yohanes Paulus II, Ekaristi adalah rahasia hidup yang memberi kekuatan bagi seluruh pelayanan Gereja. Melalui bedah buku ini, umat diajak merayakan Misa Kudus dengan kesadaran iman yang makin dewasa. Ekaristi bukan lagi sekedar rutinitas, melainkan perjumpaan nyata dengan Kristus Sang Roti Kehidupan

Kembali