Berita

PEMBINAAN SPIRITUALITAS Mahasiswa Pendikkat Semester V – Universitas Sanata Dharma Nobar dan Diskusi Film “BLDTR”

01 Oktober 2026

Pada Jumat 25 September 2026 pukul 16.00–19.30 telah diselenggarakan acara Nobar dan Diskusi Film “Bunga Lily di Taman Revolusi” (BLDTR) di Studio Audio Visual (SAV) – USD, Jaban Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Nobar dan Diskusi Film ini diadakan secara khusus untuk mahasiswa Pendikkat-USD Semester V dalam rangka Pembinaan Spiritualitas. Para mahasiswa sangat antusias menghadiri acara ini. Diperkirakan yang hadir dalam acara ini 55 mahasiswa, tetapi ternyata 66 mahasiswa-i bisa hadir tepat waktu.

Mengapa pembinaan spiritualitas ditempuh dengan menggunakan film?  Prinsip dasar dari film sebagai jalan keindahan adalah menyampaikan ide melalui perasaan orang. Melalui dunia rasa itulah manusia dibawa kepada sebuah makna. Merenungkan keindahan dapat membangkitkan dalam diri manusia perasaan-perasaan kegembiraan, kesenangan, kelembutan, kepenuhan, makna, dan dengan demikian membukakannya kepada transendensi. Oleh sebab itu, film adalah cara kontemporer untuk masuk ke dalam pewahyuan timbal balik antara kita dan Tuhan. Film berguna sebagai medium untuk membungkus cerita-cerita yang baik untuk dibagikan kepada semakin banyak orang. Cerita-cerita itu meliputi cerita kehidupan, cerita rakyat, dan cerita Kitab Suci. Paus Fransiskus, dalam surat gembalanya pada Hari Komunikasi Sosial se- Dunia ke-54 tahun 2020, mengatakan bahwa “Kitab Suci adalah cerita dari segala cerita. Disitulah kisah cinta Allah kepada manusia tertera.” Sudah lama sebelumnya, Intruksi Pastoral Aetatis Novae art. 28b telah “mendorong seniman-seniman yang kreatif dan para penulis untuk dengan tepat mewartakan nilai-nilai Injil pada saat mereka membagikan bakat melalui tulisan, teater, radio, televisi dan film untuk hiburan dan pendidikan.”


Peserta Nobar

Film yang berdurasi 1 jam 40 menit ini mengangkat kisah hidup Catharina (Magdalena) Daemen yang semasa kecil akrab disapa Trieneke, seorang perempuan sederhana kelahiran Belanda tahun 1787 dari keluarga petani yang bersahaja. Ia tidak mengenyam pendidikan tinggi, penampilannya pun tidak istimewa, bahkan tidak jarang ia dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk oleh para pastor dan uskupnya sendiri. Ia hidup pada masa yang penuh gejolak. Paruh kedua abad ke-18 adalah masa ketika Eropa diliputi semangat rasionalisme dan gelombang Revolusi Perancis yang turut menumbuhkan sikap antipati terhadap kehidupan religius. Banyak biara ditutup paksa atas perintah Kaisar Josef II dari Austria,  karena dianggap tidak lagi memiliki manfaat bagi masyarakat. Di tengah situasi yang tidak bersahabat itu, Trieneke tetap teguh memegang keyakinannya bahwa penyelenggaraan Tuhan senantiasa menyertai — sebuah keyakinan yang dikenal dengan semboyan Deus Providebit. Dan dari kesederhanaan serta ketekunannya itulah lahir sebuah kongregasi religius, yaitu Suster-suster Fransiskanes dari Heythuisen (Suster OSF Semarang) yang kini telah berkembang ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Sepanjang penayangan film, para penonton memberikan reaksi-reaksi spontan atas adegan-adegan film yang disaksikannya. Kadang mereka tertawa atas kata-kata atau gesture para tokoh di dalam film. Antara lain ungkapan dari Sr. Catharina Daemen: “Saya merasa punya dorongan yang kuat dalam hati saya” atau “Tuhan pasti menyelenggarakan.” Tanpa keterangan apa-apa, tanpa perencanaan yang detil, Sr, Catharina Daemen begitu percaya pada rencana Tuhan. Baik pada zaman dulu maupun sekarang, mendengar ungkapan seperti itu, orang mudah mentertawakannya. Di lain pihak,  penonton ikut merasa gemas atas perlakuan semena-mena dari Pastor van der Zandt terhadap Sr. Catharina. Sr. Catharina dianggap tidak bisa mengajar anak-anak dan penampilannya pun tidak menarik.

Setelah menyaksikan film “Bunga Lily di Taman Revolusi”, diadakan diskusi bersama. Narasumber yang diundang adalah Romo Murti SJ yang  menyutradarai film ini. Sedangkan moderator acara nobar ini adalah Romo Iswarahadi SJ (Pengampu Pembinaan Spiritualitas Semester V). Seorang mahasiswa yang bernama Kornel mengaku bosan pada awal film, tetapi ketika mengikuti alur cerita sampai di pertengahan, ia merasa tersentuh juga dan bisa menangkap  pesan film. Penonton lainnya, Sr. Beata KSFL terkesan dengan film ini. Menonton film ini, ia teringat akan seluruh sejarah panggilannya sendiri sebagai religius. Ia terinspirasi oleh iman yang kokoh dari Sr. Magdalena Daemen dan merekomendasikan agar film ini ditonton juga oleh kongregasi-kongregasi lain.


Suasana Diskusi Pasca Nobar

Atas pertanyaan mengapa Romo Murti bersedia menyutradarai film ini, Romo Murti memberikan keterangan secara detil. Antara lain dikatakan bahwa yang berinisiatif membuat film ini adalah Yayasan Marsudirini. Mereka sudah mengadakan riset dokumen dan kunjungan di Belanda sebelum 2025, lalu naskah mereka susun. Data sejarah biasanya disusun secara kronologis dan  data sejarah sifatnya datar-datar saja. Bila disajikan dalam bentuk film, data-data itu harus diolah dalam bentuk cerita yang menarik, konflik-konfliknya harus diciptakan. Mulai Juni 2025, Romo Murti mengolah lagi naskah mereka menjadi naskah yang lebih menarik. Film ini adalah film fiksi, meskipun berangkat dari data-data historis. Lalu disepakati oleh Yayasan Marsudirini bahwa produksinya dikerjakan secara kolaboratif. Kru utama dari SAV-USD, sedangkan kru lengkap dan pemainnya dari Yayasan Marsudirini. Agar jauh lebih murah, syuting dilakukan di Semarang (9-19 Januari 2026). Kemudian dilakukan tahap editing dan penggarapan theme song sampai saat launching pertama kali di Soegijapranata Catholic University Semarang (9 Mei 2026).


Diskusi yang santai

Seorang penonton lainnya, Fringka,  merasa terkesan dengan sikap Sr. Catharina Daemen yang begitu percaya pada penyelenggaraan ilahi. Ia tabah menghadapi kesulitan, termasuk menghadapi perendahan dari pastor Van der Zandt dan juga dari uskupnya. Akhirnya, apa yang ia cita-citakan kesampaian juga. Menanggapi hal ini, Romo Murti menambahkan bahwa pada zaman itu klerikalisme begitu kuat dan kaum perempuan belum dipandang setara dengan kaum laki-laki. Para imam begitu berkuasa dan kaum perempuan belum mendapat tempat di dalam Gereja. Suasana seperti itukah yang dicoba untuk ditampilkan di dalam film. Dua penonton lainnya, yaitu Putrachrisna dan  Mario terkesan dengan pembuatan film ini. Putrachrisna mengagumi sinematografinya,  sedangkan Mario terkesan dengan pemeran Sr. Catharina Daemen. Menanggapi kesan tersebut, Romo Murti menegaskan bahwa adegan-adegan film harus direncanakan dan dieksekusi sebaik mungkin, agar mampu menyentuh emosi penonton. Sebelum syuting ada workshop untuk kru Yayasan Marsudirini. Para pemain (yang semuanya belum pernah main film) harus dipilih berdasarkan casting dari para calon pemain (guru, karyawan, siswa-siswi) yang mendaftarkan diri.

Melalui film ini, para penonton merenungkan bagaimana seorang yang tampak biasa dan kerap dipandang sebelah mata dapat menjadi alat yang begitu bermakna di tangan penyelenggaraan Ilahi. Para penonton yang adalah calon katekis/guru agama Katolik ini menemukan makna rohani yang bisa diterapkan untuk kehidupan mereka sehari-hari. Selain diungkapkan secara lisan, mereka juga membuat refleksi tertulis yang diunggah di LMS. Meldiana Kedhi, misalnya, terkesan dengan adegan ketika Trieneke bekerja sebagai pembantu di sebuah keluarga. Di tengah kesibukannya, ia tidak pernah lupa untuk mengikuti misa harian di gereja. Bahkan, melalui kesetiaannya mengikuti Ekaristi, ia berhasil menyadarkan keluarga tersebut tentang makna penting dari perayaan Ekaristi. Adegan kedua yang mengesankan dan menginspirasi bagi dia  adalah perjuangan Trieneke ketika meminta izin kepada Uskup untuk mendirikan sebuah biara. Walaupun pada saat itu ia tidak memiliki uang dan sempat ditolak oleh Uskup, ia tidak menyerah begitu saja. Ia tetap berusaha dan percaya pada apa yang menjadi panggilannya. Karena semangat dan kegigihannya, akhirnya Uskup memberikan izin kepadanya untuk mendirikan biara.

Dalam refleksi tertulis, beberapa peserta lainnya mengungkapkan inspirasi yang mirip.  Bagi mereka, penyelenggaraan ilahi berarti keyakinan bahwa Tuhan tetap hadir, menyertai, dan bekerja dalam perjalanan hidup mereka, termasuk melalui situasi yang tidak selalu mereka mengerti. Penyelenggaraan ilahi bukan berarti semua yang mereka inginkan pasti terjadi sesuai dengan rencana mereka. Justru mereka  memahami bahwa Tuhan dapat bekerja melalui berbagai pengalaman, baik pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang tidak menyenangkan. Deus Providebit. (Peliput: Yoseph Ispuroyanto SJ. Fofo: Dok. Mantep dan Murti). ***

Kembali