Berita

Kunjungan PKM Dies Universitas Sanata Dharma di Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora Jawa Tengah

21 Oktober 2026

Blora-Selasa, 20 Oktober 2026, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Sanata Dharma (USD), yang didampingi oleh LPPM, melaksanakan kunjungan ke Desa Bajo yang merupakan salah satu desa di Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tenga, Desa ini merupakan desa binaan sekaligus mitra strategis USD yang telah bekerja sama. Ketua LPPM USD, A. Prasetyadi, M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan PkM ini diselenggarakan dalam rangka perayaan Dies Natalis USD ke-71 dengan mengusung tema “Sanyata Berdampak.” Melalui program PkM ini, diharapkan USD benar-benar mampu membawa dampak nyata bagi masyarakat Desa Bajo.
 
Desa Bajo merupakan salah satu desa di Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, dengan memiliki karakteristik masyarakat agraris. Sebagian besar masyarakat menggantungkan sumber penghidupan pada sektor pertanian, khususnya pertanian padi. Dalam kondisi normal, petani dapat melakukan panen hingga tiga kali dalam satu tahun. Dengan demikian, produktivitas pertanian padi menjadi salah satu faktor penting yang menentukan ketahanan ekonomi rumah tangga masyarakat Desa Bajo. Namun, produktivitas tersebut menghadapi ancaman serius berupa serangan hama tikus sawah (Rattus Argentiventer). Tikus merupakan salah satu hama utama tanaman padi karena mampu menyerang tanaman sejak fase persemaian hingga menjelang panen. Serangan yang terjadi secara berulang pada setiap musim tanam menyebabkan petani harus mengalokasikan biaya, tenaga, dan waktu tambahan untuk melakukan pengendalian.


Berdasarkan hasil observasi dan komunikasi dengan masyarakat serta perangkat Desa Bajo, persoalan pengendalian tikus bukan hanya berkaitan dengan kehilangan hasil panen, tetapi juga menyangkut efektivitas metode pengendalian, biaya operasional, keselamatan masyarakat, dan keberlanjutan metode yang digunakan. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan pengendalian hama yang tidak hanya efektif, tetapi juga aman, murah, mudah diterapkan, dan dapat dikelola secara mandiri oleh kelompok petani.


Selama ini masyarakat Desa Bajo telah melakukan berbagai Upaya pengendalian hama tikus. Metode yang digunakan meliputi pendekatan biologis, kimiawi, mekanis, maupun perburuan tikus secara langsung. Penggunaan burung hantu sebagai predator alami telah dicoba sebagai salah satu metode biologis. Pengendalian secara kimiawi dilakukan menggunakan racun tikus, sedangkan metode mekanis antara lain menggunakan pagar dari seng atau plastik. Masyarakat juga melakukan perburuan tikus secara bersama-sama maupun dengan menyewa pemburu tikus. Meskipun berbagai metode tersebut telah dilakukan, hasil pengendalian belum optimal dan sebagian memerlukan biaya yang cukup besar. Metode kimiawi juga memiliki potensi dampak terhadap lingkungan apabila penggunaannya tidak dilakukan secara tepat. Sementara itu, pemasangan pagar seng atau plastik membutuhkan material, tenaga pemasangan, dan pemeliharaan sehingga penerapannya belum selalu konsisten. Persoalan yang lebih serius muncul ketika sebagian masyarakat menggunakan aliran listrik PLN secara langsung sebagai perangkap tikus. Cara tersebut memang dianggap mampu memberikan hasil pengendalian yang cepat, tetapi memiliki risiko keselamatan yang sangat tinggi karena instalasi listrik berada di area persawahan yang dapat diakses manusia maupun hewan lainnya. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari masyarakat, telah terjadi lebih dari 100 kasus kecelakaan yang berkaitan dengan penggunaan listrik untuk pengendalian tikus, dan beberapa di antaranya dilaporkan berakibat fatal hingga menyebabkan kematian.


Salah satu alternatif yang sesuai dengan karakteristik permasalahan tersebut adalah penerapan Trap Barrier System (TBS), yaitu sistem pengendalian tikus dengan memanfaatkan penghalang mekanis berupa plastik dan jebakan (trap) berupa bubu kawat. Prinsip TBS adalah mengarahkan pergerakan tikus menuju titik jebakan melalui pemasangan penghalang di sekitar area tanaman. Metode ini telah dikenal sebagai salah satu pendekatan pengendalian tikus sawah yang lebih ramah lingkungan dan dapat diterapkan pada tingkat petani (Wahyana, 2015).

Dalam konteks Desa Bajo, TBS memiliki beberapa keunggulan. Pertama, sistem tidak mengandalkan racun sehingga dapat mengurangi penggunaan bahan kimia. Kedua, penghalang mekanis dan bubu relatif sederhana sehingga memungkinkan dibuat dan dipelihara menggunakan material yang tersedia di Tingkat lokal. Ketiga, sistem dapat dioperasikan oleh kelompok petani secara bersama-sama.

Keempat, penerapan TBS dapat menjadi alternatif yang jauh lebih aman dibandingkan penggunaan aliran listrik PLN secara langsung di area persawahan.
GTM

Kembali