Berita

Fakultas Sastra USD Gandeng ELTI dan HPI Komda DIY dalam Lokakarya Pembaruan Kurikulum untuk Prodi Sastra Inggris

23-02-2026 12:27:23 WIB

Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) kembali menyelenggarakan lokakarya pembaruan kurikulum bersama Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA) sebagai bagian dari upaya meningkatkan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Lokakarya bagian kedua ini secara khusus ditujukan untuk Program Studi Sastra Inggris dan dilaksanakan pada Senin, 23 Februari 2026, di Ruang S203 Gedung Fakultas Sastra USD. Kegiatan ini menghadirkan dua mitra strategis dari dunia profesional, yaitu ELTI Gramedia Yogyakarta dan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komda DIY. Dari ELTI Gramedia hadir Yustian Prostantyo, S.Pd., M.M. (Branch Superintendent) dan Wahyu Riyadi Herjito, S.S. (Academic Coordinator). Sementara dari HPI Komda DIY hadir Andika Pradiputra (Ketua) dan Baradiska Putra Krisnanto (Wakil Ketua).

Menurut Kaprodi Sastra Inggris FX Risang Baskara, Ph.D. lokakarya ini bertujuan untuk memperoleh masukan dari praktisi mengenai perumusan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) serta penyempurnaan kurikulum, baik dari sisi materi akademik, keterampilan profesional, maupun soft skills yang dibutuhkan oleh lulusan Sastra Inggris di dunia kerja. Dalam sesi diskusi, pihak ELTI Gramedia menyampaikan bahwa secara umum lulusan Sastra Inggris memiliki kemampuan kognitif dan akademik yang baik serta berpotensi besar di dunia kerja. Namun demikian, terdapat beberapa kompetensi tambahan yang perlu diperkuat, terutama bagi lulusan yang bekerja sebagai pengajar atau instruktur bahasa.

Menurut Yustian, lulusan perlu dibekali kemampuan classroom management dan komunikasi efektif dengan peserta didik, khususnya dalam menghadapi situasi kelas yang dinamis, seperti siswa yang mengalami kebingungan, panik, kurang percaya diri, atau kehilangan motivasi belajar. “Kemampuan mengelola emosi peserta didik serta menjaga komunikasi yang konstruktif dinilai sangat penting agar proses pembelajaran berjalan efektif dan tidak menimbulkan kesalahpahaman”, tegasnya.

Selain itu, ELTI juga menekankan pentingnya pengetahuan tentang psikologi kelas, kemampuan merancang pembelajaran yang sistematis dan menarik, serta keterampilan mengelola kelompok belajar yang beragam karakter. Di sisi lain, dunia lembaga bahasa juga menuntut lulusan memiliki mindset client-oriented, termasuk kesadaran terhadap aspek layanan dan komunikasi korporat dalam lingkungan profesional.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa, ELTI Gramedia membuka peluang program magang (internship) bagi mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Sastra USD. “Mahasiswa yang lolos seleksi tidak hanya berkesempatan menjadi pengajar, tetapi juga dapat belajar mengenai manajemen lembaga pendidikan bahasa” kata Wahyu.

Sebagai rekomendasi kurikulum, ELTI mengusulkan beberapa penguatan mata kuliah dan kegiatan akademik, antara lain: Peer Teaching, Classroom Management, Workshop Language Teaching, dan Program Magang.



Sementara itu, perwakilan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) Komda DIY menyoroti perkembangan profesi penerjemah di era kecerdasan buatan (AI). “Teknologi AI memang semakin berkembang dalam bidang penerjemahan, namun peran penerjemah manusia tetap sangat penting, terutama karena penerjemah memiliki tanggung jawab hukum dan profesional terhadap hasil terjemahan” ungkap Andika. “Penerjemah tidak hanya menerjemahkan secara literal, tetapi juga menyesuaikan teks dengan konteks budaya, kebutuhan klien, dan target pembaca. Dalam praktik profesional, kecepatan mengetik bukan lagi menjadi faktor utama. Saat ini, pekerjaan penerjemah lebih banyak berfokus pada verifikasi kritis terhadap hasil terjemahan, termasuk hasil yang dihasilkan oleh mesin. Dalam konteks ini, HPI menekankan prinsip bahwa “fluency is not accuracy”—teks yang terlihat lancar belum tentu akurat secara makna.

Menurut Baradiska, mahasiswa Sastra Inggris perlu diperkenalkan pada berbagai teknologi dan perangkat lunak penerjemahan (translation tools) serta mendapatkan pemahaman tentang spesialisasi bidang penerjemahan, seperti hukum, bisnis, audiovisual, dan bidang teknis lainnya. Baradiska menekankan pentingnya aspek etika dan legalitas dalam profesi penerjemah, termasuk tanggung jawab profesional dalam menghadapi sengketa pekerjaan terjemahan. Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Bara menyimpulkan bahwa terjadi pergeseran paradigma dalam profesi penerjemahan, yaitu dari creation menuju verification. Diska juga menyoroti pentingnya konsep localization, yaitu proses adaptasi bahasa dan budaya dalam penerjemahan sehingga pesan dapat diterima secara tepat oleh audiens target.
 
Sebagai rekomendasi kurikulum, HPI menyarankan beberapa penguatan dalam pembelajaran, antara lain Penguatan Bahasa Indonesia akademik, Pengajaran AI dan teknologi penerjemahan, Simulasi proyek penerjemahan profesional, Business communication, Audiovisual Translation (AVT) Technology, Pengembangan tugas akhir berbasis portofolio atau proyek.

Melalui lokakarya ini, Fakultas Sastra USD berharap dapat merumuskan kurikulum yang lebih responsif terhadap perkembangan dunia profesional, baik di bidang pengajaran bahasa maupun industri penerjemahan. Masukan dari para praktisi ini menjadi bagian penting dalam proses penyusunan kurikulum yang tidak hanya menekankan kompetensi akademik, tetapi juga keterampilan profesional, literasi teknologi, dan kesiapan menghadapi dinamika dunia kerja.

Kegiatan lokakarya ini juga menjadi wujud komitmen Fakultas Sastra USD untuk terus memperkuat kolaborasi dengan Dunia Usaha Dunia Industri dan Dunia Kerja (DUDIKA) dalam rangka menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan relevan dengan kebutuhan zaman (Tti-RB)

Kembali