Berita

Lokakarya Penyusunan Kurikulum 2026: Prodi Sastra Indonesia USD Perkuat Integrasi AI dan Kebutuhan Industri

22-04-2026 08:00:13 WIB

Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) terus memperkuat transformasi kurikulum dengan melibatkan pemangku kepentingan eksternal melalui Lokakarya Pembaruan Kurikulum 2026 Senin (30/3/26). Bertempat di Ruang S.203, kegiatan lokakarya ini menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Dr. Ratun Untoro, M.Hum. (Balai Bahasa Provinsi DIY) dan Joko Irawan Mumpuni (Direksi Penerbit Andi Offset).

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya strategis untuk menyelaraskan kurikulum dengan kebutuhan Dunia Usaha, Dunia Industri, dan Dunia Kerja (DUDIKA), sekaligus merespons perubahan lanskap profesi di era kecerdasan buatan (AI) dan industri digital.

Sebagai representasi industri penerbitan, Joko Irawan Mumpuni menekankan bahwa sektor penerbitan tengah mengalami transformasi besar akibat digitalisasi. Ia menegaskan bahwa lulusan Sastra Indonesia tidak lagi cukup hanya menguasai teori, tetapi harus mampu mengambil peran strategis di industri.“Lulusan Sastra Indonesia tidak lagi cukup hanya kuat teori, tetapi harus menjadi kreator konten, editor profesional, dan problem solver berbasis bahasa,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa industri kini bergerak menuju ekosistem hybrid publishing yang mengintegrasikan buku cetak, e-book, audiobook, serta konten digital lintas platform. Dalam konteks ini, AI telah berfungsi sebagai co-creator dalam proses produksi. Oleh karena itu, lulusan dituntut memiliki kompetensi penulisan multiformat, kemampuan SEO writing, content strategy, serta kecepatan adaptasi terhadap dinamika industri.

Namun demikian, ia juga menyoroti adanya kesenjangan kompetensi lulusan, terutama dalam hal praktik editing profesional, literasi produksi konten digital, dan pengalaman industri nyata.



Sementara itu, Dr. Ratun Untoro memberikan evaluasi konseptual terhadap kurikulum. Ia mengapresiasi bahwa kurikulum telah mengarah pada pendekatan Outcome-Based Education (OBE), tetapi masih memerlukan penajaman agar lebih fokus dan terukur. “Profil lulusan saat ini masih terlalu luas dan berisiko membuat kurikulum menjadi dangkal. Perlu penegasan peminatan agar kompetensi lulusan lebih terarah,” ungkapnya.

Ratun mengusulkan tiga peminatan utama: (1) kreatif dan media, (2) pengkajian (riset), dan (3) pengajaran bahasa (termasuk BIPA). Ia juga menegaskan bahwa AI harus menjadi bagian integral kurikulum. “AI perlu diposisikan sebagai alat bantu berpikir, alat produksi, sekaligus objek kajian kritis,” jelasnya. Selain itu, ia merekomendasikan penguatan mata kuliah masa depan seperti Digital Humanities, Content Strategy, UX Writing, dan Corpus Linguistics, serta penerapan pembelajaran berbasis proyek untuk menghasilkan portofolio nyata mahasiswa.

 
Lokakarya ini menghasilkan sejumlah arah strategis, antara lain penguatan integrasi AI dalam seluruh mata kuliah, penyempurnaan CPL agar lebih operasional, peningkatan praktik industri melalui magang dan proyek kolaboratif, serta penegasan identitas kurikulum berbasis humanisme dan budaya lokal. Melalui kolaborasi dengan pemangku kepentingan, Prodi Sastra Indonesia USD optimistis bahwa Kurikulum 2026 akan mampu menghasilkan lulusan yang adaptif, kritis, humanis, dan relevan dengan kebutuhan industri masa depan. (Tti)

Kembali