Berita

Dari Ruang Kelas ke Perlawanan: Humaniora sebagai Daya Transformasi Bangsa

05-05-2026 15:01:22 WIB

Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma menandai puncak Dies Natalis ke-33 pada Senin (4/5/2026) di Ruang Seminar Driyarkara melalui sebuah refleksi kritis: humaniora bukan sekadar bidang ilmu, melainkan kekuatan historis yang mampu melahirkan kesadaran, perlawanan, dan imajinasi kebangsaan. Mengusung tema ”Meneguhkan Humaniora, Merawat Kebangsaan”, perayaan ini menghadirkan pidato ilmiah oleh Dr. Heri Priyatmoko yang menjadi sorotan utama puncak acara. Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul “Pelajar Humaniora Melawan Rezim Otoriter: Menimbang Perlawanan Siswa AMS A-1 Sastra Timur 1926-1932”, ia mengangkat kisah para pelajar Algemeene Middelbare School (setara SMA saat ini) di masa kolonial yang menjadikan humaniora sebagai kekuatan untuk melawan ketidakadilan.



Melalui pendekatan historis, Dr. Heri menunjukkan bahwa pembelajaran sastra, bahasa, dan seni tidak berhenti pada ranah pengetahuan, tetapi bergerak menjadi praksis intelektual yang membentuk kesadaran kebangsaan. Para pelajar AMS, melalui aktivitas literasi dan refleksi kritis, turut berkontribusi dalam merumuskan identitas kolektif dan semangat perlawanan terhadap dominasi kolonial. “Humaniora bukan sekadar ilmu masa lalu, tetapi cara kita membaca masa kini dan membayangkan masa depan,” tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa di tengah disrupsi teknologi dan kompleksitas sosial saat ini, humaniora tetap memiliki relevansi strategis sebagai ruang refleksi kritis dan pembentukan nilai.

Sejalan dengan hal tersebut, Pj. Dekan Fakultas Sastra, Dr. Tatang Iskarna, menegaskan bahwa tema dies natalis tahun ini merupakan refleksi atas posisi humaniora dalam konteks kekinian. Ia menyebut Fakultas Sastra tengah berada dalam “perjuangan eksistensial” yang mencakup tantangan penerimaan mahasiswa baru, tuntutan relevansi, serta disrupsi teknologi. “Humaniora terbukti membentuk keberanian intelektual, kepekaan sosial, dan imajinasi kebangsaan. Karena itu, transformasi menjadi keniscayaan—melalui penguatan kurikulum, pengembangan humaniora digital, dan rebranding fakultas agar semakin relevan dan berdampak,” ujarnya.



Sementara itu, Rektor Universitas Sanata Dharma dalam sambutannya menegaskan pentingnya humaniora sebagai penjaga dimensi kemanusiaan dalam kehidupan kebangsaan. Ia menilai usia ke-33 sebagai momentum strategis untuk melangkah lebih jauh, sekaligus mengingatkan bahwa di tengah kecenderungan pendekatan teknokratis dalam pendidikan, bahasa, sastra, dan sejarah tetap memegang peran fundamental dalam membangun peradaban. “Penguatan humaniora harus berjalan seiring dengan tata kelola yang baik agar mampu memberi dampak nyata,” ungkapnya.



Perayaan Dies Natalis ini juga diwarnai oleh berbagai ekspresi kreatif mahasiswa, mulai dari tarian mahasiswa Program Studi Sejarah hingga musikalisasi puisi oleh mahasiswa Sastra Indonesia yang menghadirkan refleksi kritis atas realitas sosial. Acara ditutup dengan penampilan musik mahasiswa Sastra Inggris dan doa bersama. Melalui rangkaian kegiatan ini, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma kembali menegaskan komitmennya untuk merawat dan mengembangkan humaniora sebagai kekuatan yang kritis, kontekstual, dan transformatif—tidak hanya dalam ruang akademik, tetapi juga dalam kehidupan masyarakat luas. (Tim Medsos FS)

 

Kembali