Berita
Ketika Mesin Ikut Menulis: HISKI Komisariat USD Mengupas “Sastra di Era Digital” pada Usia Satu Dasawarsa
12-10-2026 11:05:27 WIB
Di Seminar Nasional dalam rangka ulang tahun ke-10, dua pembicara kunci menimbang tantangan kecerdasan buatan bagi penulis dan pembaca, sekaligus menawarkan jalan agar sastra tetap berpijak pada bahasa tulis.
Yogyakarta – Perlukah sastra didefinisikan ulang ketika kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sudah ikut menghasilkan teks? Pertanyaan itu menjadi benang merah Seminar Nasional “Sastra di Era Digital” yang diselenggarakan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Universitas Sanata Dharma (USD), bekerja sama dengan Fakultas Sastra USD, pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Seminar ini menandai ulang tahun ke-10 HISKI Komisariat USD. Kegiatan berlangsung hibrida: peserta dapat hadir langsung di Ruang Kadarman, Gedung Pusat lantai 4, Kampus 1 USD, atau mengikuti melalui Zoom.
Pembukaan: Doa, Lagu Kebangsaan, dan Sambutan
Acara dibuka pukul 09.00 WIB setelah registrasi dan welcome coffee. Dr. Fransisca Tjandrasih Adji memimpin doa, lalu hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ketua Panitia, Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji, menyampaikan sambutan pembukaan. Wakil Rektor II USD, Dr. Yohanes Harsoyo, M.Si., memberikan sambutan mewakili Rektor.
Dari Hakikat Sastra ke Tantangan AI
Sesi utama dipandu moderator Dr. Elisa Dwi Wardani. Pembicara pertama, F.X. Ouda Teda Ena, Ed.D. dari USD, membawakan paparan berjudul “Sastra di Era Digital: Tantangan bagi Penulis dan Penikmat”.
Ia mengawali dengan pengingat bahwa sastra dalam arti luas sudah ada sejak manusia berbudaya. Bentuk dan wujudnya terus berubah mengikuti perkembangan peradaban. Karena itu, ia menguraikan tahap-tahap perkembangan tersebut sampai era digital sebelum menelaah tantangannya.
Sebelum masuk ke tantangan, Ouda Teda Ena menegaskan perlunya menelaah makna dan hakikat sastra. Pemahaman itu dibutuhkan untuk menjawab apakah sastra berubah secara substansial di era digital, yang membawa keuntungan dan keunggulan tetapi juga dampak negatif. Pertanyaan mendasarnya: apakah sastra perlu didefinisikan ulang, mengingat kehadiran AI dianggap mengubah tatanan lama tentang sastra, penulis, dan pembaca. Menurutnya, AI menandai babak baru dalam cara karya sastra dihasilkan dan dinikmati.
Belajar dari Dunia Film
Pembicara kedua, G.M. Adhyanggono, Ph.D. dari Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, menawarkan arah jawaban lewat paparan “Sastra dan Teknologi Digital dalam Negosiasi”. Ia memulai dengan peta sejarah tulisan, dari lukisan gua, token tanah liat, dan tulisan paku Mesopotamia sampai percetakan huruf logam di Goryeo. Dengan peta itu ia menempatkan sastra, komunikasi, dan teknologi digital dalam satu lanskap. Dari lanskap itu ia bertanya apa yang dapat dilakukan sastra di era digital.
Untuk menjawabnya, Adhyanggono menengok seni film, yang lebih dulu bergulat dengan AI cinema. Menurutnya, para pembuat film, kritikus, dan penggemar merasa film buatan AI kering dari ruh atau rasa realisme, sehingga muncul perbincangan bahwa “film tidak lagi seperti film”. Dunia film merespons dengan menegaskan kembali pentingnya haptic visuality. Berbeda dengan optical visuality yang hanya menggambarkan rupa objek secara berjarak, haptic visuality membangkitkan pengalaman imajiner tentang tekstur, suhu, berat, dan sensasi ragawi lain.
Dari situ ia menarik pertanyaan bagi sastra: apakah arus kesadaran (stream of consciousness) hanya dapat terwujud melalui bahasa tulis dalam proses mencipta dan memahami karya?
Dua Strategi: Inovasi Bentuk dan Optimalisasi Parateks
Adhyanggono mengusulkan dua strategi yang saling melengkapi.
| Strategi | Pelaku utama | Gagasan inti | Contoh dalam paparan |
| Inovasi bentuk dan peningkatan kualitas penceritaan | Penulis | Karya yang lebih eksperimental (irisan antargenre, perubahan panjang-pendek karya) dan gaya menulis yang menghadirkan moda pembacaan haptic | Paragraf tentang sensasi duduk di kursi empuk dalam Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer |
| Optimalisasi parateks | Penerbit dan sponsor | Pemanfaatan periteks (judul, sampul, kata pengantar, catatan kaki, daftar isi) dan epiteks (wawancara penulis, ulasan, media sosial, materi promosi, fiksi penggemar) | Konsep parateks dari Genette dan Maclean (1991) |
Pada strategi pertama, ia merujuk fenomenologi Merleau-Ponty yang memandang persepsi sebagai pengalaman yang terwujud dalam tubuh. Dalam kerangka itu, bahasa tulis dapat memancing pengalaman taktil dan multisensoris. Kalimat tentang kain baju yang kasar dan menggesek kulit, misalnya, mampu menghadirkan rasa perih dan sesak meski minim secara visual.
Jika kedua strategi dijalankan, katanya, sastra digital bisa lebih imersif dan partisipatif tanpa meninggalkan bahasa tulis sebagai kekhasannya (medium specificity). Bentuknya mencakup hiperteks seperti Afternoon, a story karya Michael Joyce; cerita interaktif seperti yang dibuat dengan Twine; puisi digital seperti Taroko Gorge karya Nick Montfort; sastra siber dan fanfiksi di Wattpad serta Archive of Our Own; hingga sastra hibrida dan narasi grafis seperti Webtoon.
Menurut Adhyanggono, pembaca kemudian lebih mungkin mengalami situasi “mengalami menjadi…” (to experience becoming…), yaitu saat pengalaman kognitif, estetik, dan reflektif penulis bertemu dengan pengalaman pembaca. Ia menyimpulkan bahwa semua pemangku kepentingan sastra (penulis, penerbit, dan pembaca) perlu memanfaatkan karakteristik teknologi digital. Sastra dan teknologi digital, menurutnya, mampu menemukan jalan “negosiasinya” sendiri, bahkan membentuk pangsa pasarnya sendiri.
Dua Paparan, Satu Percakapan
Kedua paparan dapat dibaca sebagai percakapan yang berkelanjutan. Ouda Teda Ena mengajak peserta kembali ke pertanyaan paling dasar tentang hakikat sastra sebelum tergesa menyimpulkan bahwa semuanya berubah. Adhyanggono menawarkan langkah praktis bagi penulis dan penerbit supaya sastra tetap hidup dan relevan. Bagi dosen dan peneliti sastra, keduanya membuka bahan kajian: dari studi fanfiksi dan hiperteks, analisis moda pembacaan haptic dalam teks sastra Indonesia, hingga penelitian parateks di ekosistem penerbitan digital.
Pentas Budaya dan Syukur Dasawarsa
Seusai sesi seminar, acara dilanjutkan dengan selebrasi. Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji, selaku Ketua HISKI Komisariat USD, membuka rangkaian syukur, disusul pemotongan tumpeng. Kegiatan dilanjutkan dengan Pembacaan puisi oleh Prof. Yoseph Yapi Taum dari USD, yang membawakan puisi karyanya sendiri, “Bunga Seroja di Tanah Kami”, dari antologi Kabar dari Kampung. Serta Musikalisasi puisi “My Life” oleh Arielia Yustisiana, diiringi gitar oleh Lukas Nandamai. Keduanya dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Kampus Madiun.

Puisi dan musik di ujung acara terasa sejalan dengan tema siang itu. Sastra tetap bertumpu pada bahasa dan pengalaman manusia, dan bahasa itu terus menemukan wadah baru, baik di panggung, di layar, maupun di antara keduanya.Kembali
- Ketika Mesin Ikut Menulis: HISKI Komisariat USD Mengupas “Sastra di Era Digital” pada Usia Satu Dasawarsa
- Fakultas Sastra USD dan FIB Universitas Andalas Jalin Kerja Sama, Langsung Diimplementasikan melalui Kuliah Umum Pragmatik
- JAKSA 2026: Menjadi Manusia di Tengah Perubahan Zaman dan Era AI
- Naik Peringkat, Magister Sastra USD Raih Akreditasi Baik Sekali
- Fakultas Sastra USD dan Yayasan Dena Upakara Jalin Kerja Sama Penulisan Sejarah 90 Tahun SLB/B Dena Upakara
- Perluas Jejaring Akademik Internasional, Fakultas Sastra USD dan Fakultas Pendidikan dan Humaniora UNTL akan Kembangkan Kolaborasi
- Dari Ruang Kelas ke Perlawanan: Humaniora sebagai Daya Transformasi Bangsa
- Misa Syukur Dies Natalis ke-33 Fakultas Sastra: Merawat Ingatan, Meneguhkan Humaniora Transformatif
- Fakultas Sastra USD Jajaki Kerja Sama dengan Fakultas Bahasa dan Budaya Universitas Darma Persada Jakarta
- Lokakarya Penyusunan Kurikulum 2026: Prodi Sastra Indonesia USD Perkuat Integrasi AI dan Kebutuhan Industri
