Berita

Fakultas Sastra USD Mengadakan Lokakarya Pembaruan Kurikulum 2026

10-11-2025 12:25:34 WIB

YOGYAKARTA—Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) memulai langkah strategis untuk pembaruan kurikulumnya dengan menyelenggarakan Lokakarya Pembaruan Kurikulum 2026 (1): "Teori-Teori Kritis sebagai Penciri Fakultas Sastra USD" pada Senin, 10 November 2025. Lokakarya ini menandai dimulainya perumusan ulang profil lulusan dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) Fakultas Sastra.

Revitalisasi Kurikulum Setelah 15 Tahun

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, Dekan Fakultas Sastra USD, menegaskan urgensi pembaruan ini. Beliau menyampaikan bahwa mata kuliah penciri fakultas yang lama—Cultural Studies—telah berjalan selama 15 tahun sejak dirumuskan pada awal dekade 2010-an.



"Mata Kuliah Penciri Fakultas yang lama dibuat tahun 2010, yaitu mata kuliah Cultural Studies, yang difokuskan pada enam mata kuliah. Dari enam mata kuliah itu, Program Studi memilih dua mata kuliah," ujar Dekan, menyoroti keenam mata kuliah yang mencakup Introduction to Indonesian Culture, Indonesian Literature, Indonesian Newspaper, Indonesian Music, Indonesian Television, dan Introduction to Film and Culture.

Menurutnya, sudah saatnya mata kuliah kefakultasan ini ditinjau kembali sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan masyarakat.

Teori Kritis dan Humaniora Digital sebagai Jantung Kurikulum Baru

Fakultas Sastra USD kini akan memiliki dua mata kuliah wajib fakultas, yang diterapkan pada keempat program studi (Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sejarah, dan Magister Sastra). Dua mata kuliah penciri tersebut adalah Teori-Teori Kritis dan Humaniora Digital.

Lokakarya yang diselenggarakan hari ini adalah lokakarya pertama. Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan lokakarya kedua yang dijadwalkan pada 24 November 2025. Tujuan utama dari kedua lokakarya ini adalah merumuskan profil lulusan Fakultas Sastra serta Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) untuk perubahan Kurikulum 2026.

Narsumber Dr. J. Haryatmoko, SJ

Lokakarya yang berlangsung pukul 11.00-13.00 WIB di Ruang 308 Fakultas Sastra ini menghadirkan Dr. Y. Haryatmoko, SJ—Dosen Etika, Filsafat, dan Kajian Budaya USD—sebagai Pembicara Utama. Dr. Haryatmoko memaparkan materi berjudul: "Teori-Teori Kritis dan Tantangan Pembaruan Kurikulum Humaniora".

Program baru ini menjadikan Teori-Teori Kritis sebagai kerangka konseptual yang lebih luas untuk menggantikan Cultural Studies. Teori Kritis mencakup pendekatan mutakhir seperti postkolonialisme, ekokritik, feminisme, teori wacana kritis, dekonstruksi, dan ekofeminisme.

"Ia bukan sekadar forum akademik, melainkan sebuah panggilan untuk memperbarui kesadaran kita sebagai insan humaniora," demikian bunyi penegasan panitia tentang lokakarya ini.

Acara dimoderatori oleh Dr. Tatang Iskarna, Ketua Program Studi Magister Sastra, dan dihadiri oleh seluruh dosen dari keempat program studi di Fakultas Sastra USD.


Fakultas Sastra USD menegaskan kembali misinya untuk menjadi fakultas yang kritis, kreatif, dan humanis yang senantiasa berpihak pada kebudayaan, kemanusiaan, dan keadilan sosial.


Definisi dan Fokus Teori-Teori Kritis

Dalam pemaparannya, Dr. J. Haryatmoko, SJ mendefisinikan Teori-Teori Kritis sebagai tradisi intelektual dan filosofis yang tidak hanya berupaya menjelaskan realitas sosial (berlawanan dengan "Teori Tradisional" atau positivisme), melainkan juga secara normatif bertekad untuk mengubahnya demi emansipasi kemanusiaan.



Prinsip Utama Teori-Teori Kritis: Ilmu pengetahuan dan teori harus bersifat historis dan praksis, terikat pada konteks kesejarahan spesifik, dan berorientasi pada tindakan pembebasan. Fokus Kritik: Mengkritik berbagai bentuk dominasi, penindasan, dan ideologi yang menciptakan "kesadaran palsu". Fokus selalu tertuju pada analisis kekuasaan, ketidakadilan, dan marginalisasi dalam sistem sosial, ekonomi, dan budaya.


Kembali