Berita

Kuliah Umum Fakultas Sastra: MEMBACA ULANG NARASI PEMBANGUNAN DAN LINGKUNGAN ORDE BARU

29-09-2025 15:34:24 WIB

Yogyakarta, 29 September 2025 – Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) baru-baru ini menyelenggarakan kuliah umum interdisipliner dengan menghadirkan David Rawson, seorang kandidat doktor dari Universitas Tasmania, Australia. Acara yang bertempat di ruang S.303 ini fokus pada pembahasan mengenai hubungan antara pembangunan dan isu lingkungan dalam karya sastra kontemporer Indonesia masa Orde Baru. Kuliah umum ini dihadiri oleh para dosen dan sejumlah mahasiswa Fakultas Sastra.

Disertasi David Rawson yang berjudul "Representasi Hubungan Pembangunan-Lingkungan dalam Sastra Kontemporer Indonesia" menjadi landasan presentasinya. Ia membedah kontradiksi antara narasi politik resmi rezim Orde Baru dengan representasi kritis dalam sastra terkait eksploitasi alam.

Peran Sastra: The Lamp, The Mirror, and The Hammer

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Sastra, Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., menegaskan urgensi kuliah umum ini dengan menyoroti peran sastra yang dinilai belum optimal dalam membentuk kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu-isu krusial.

Prof. Yapi Taum membandingkan kondisi di Indonesia dengan negara lain, seperti Jerman, di mana isu pembantaian Yahudi telah masuk ke ranah produksi budaya kreatif dan menghasilkan kesadaran kolektif yang menolak perang (Gegen das Vergessen). Sementara itu, ia menilai kesadaran publik di Indonesia tentang ancaman perubahan iklim akibat ketidakpedulian lingkungan masih minim, meskipun banyak karya sastra telah mengangkat persoalan ini.


Menurut Prof. Yapi, selama ini sastra seringkali hanya dipandang sebagai "cermin" (secara pasif merefleksikan masalah) dan "lampu" (secara aktif memberi suluh). Ia lantas mengusulkan redefinisi peran sastra. "Sudah saatnya sastra didefinisikan pula sebagai 'palu' (the hammer—yang mendobrak ketidakpedulian masyarakat),” ungkapnya. Ia berharap kuliah umum ini dapat mendorong refleksi mendalam mengenai relasi Pembangunan dan Lingkungan serta menemukan solusi perbaikan.

Membongkar Kontras Narasi Politik dan Narasi Sastra

David Rawson memulai presentasinya dengan menganalisis dua narasi yang saling bersaing pada era Orde Baru. Narasi politik, seperti yang tersirat dalam pidato Presiden Soeharto, menempatkan pembangunan sebagai mandat suci untuk mengatasi kegagalan masa lalu dan mengangkat perekonomian bangsa.

Namun, sastra kontemporer menyajikan sudut pandang yang bertolak belakang. Karya-karya sastra menampilkan sisi kelam pembangunan, mengkritik kerusakan lingkungan berskala besar akibat eksploitasi sumber daya alam. Konflik narasi ini, menurut Rawson, memperlihatkan "ongkos ekologis" pembangunan yang tak terbayar lunas dengan hilangnya ekosistem penting.

Dengan menggunakan metode analisis naratif, David mengkontraskan fabula dan perspektif narator dalam teks politik dan sastra. Sastra, ditegaskannya, memberikan kritik yang mendalam dan memperkaya pemahaman kita terhadap dinamika pembangunan-lingkungan Orde Baru.

Ia memaparkan bahwa dalam narasi politik, lingkungan dianggap sebagai sumber daya yang dapat dikuras cepat demi percepatan pembangunan, dengan asumsi kerusakannya bisa diperbaiki di kemudian hari. Kontrasnya terlihat jelas dalam kutipan puisi "Zamrud di Khatulistiwa" karya Sitor Situmorang, yang menggambarkan hilangnya lingkungan yang tak ternilai dan tak tergantikan—sebuah kontestasi langsung terhadap narasi politik. David juga mencatat bahwa sastra menunjukkan kerusakan lingkungan sebagai bagian dari sistem kapitalis global, di mana negara maju menjadi pembeli utama.

Kuliah umum ini sekaligus menegaskan komitmen Fakultas Sastra USD dalam mengembangkan kajian yang kritis dan multidisipliner. Isu lingkungan sendiri sangat relevan bagi USD, mengingat perhatian global Gereja Katolik, yang diwujudkan melalui Ensiklik "Laudato Si" oleh Paus Fransiskus (2015) dan salah satu fokus misi utama Serikat Jesus (SJ) sedunia, yaitu ‘merawat rumah kita bersama’ (Universal Apostolic Preferences/UAP 2019). (Adela Helga Christabelle  – Mahasiwa Prodi Sastra Indonesia (NIM 234114015)).

Kembali