Berita
FAKULTAS SASTRA TAMBAH DUA DOKTOR BARU
15-07-2025 07:30:01 WIB
Akhir semester genap ini Fakultas Sastra USD kedatangan dua doktor baru yang telah menyelesaikan studinya, yaitu Dr. Heri Priyatmoko, M.A. bidang Sejarah dari Program Studi Sejarah dan Dr. Arina Isti’anah, M.Hum. bidang Lingusitik dari Program Studi Sastra Inggris. Keduanya bernaung dalam Fakultas Sastra USD. Kelulusan Heri diumumkan dalam ujian terbuka pada hari Rabu (17/6/25) di Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro Semarang, sedang Arina dinyatakan lulus dalam ujian terbuka Kamis (10/7/2025) di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Kedua doktor baru menyelesaikan studi dengan mendapatkan beasiswa Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI-LPDP). Dua doktor tersebut menambah jumlah doktor di Fakultas Sastra USD menjadi 13 dan Heri menjadi satu-satunya doktor di Program Studi Sejarah Fakultas Sastra USD.

Heri, lelaki berkelahiran tahun 1985 ini memperoleh bantuan dari Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) dari jalur “Pelaku Budaya”. Proses ngangsu kawruh di Kota Lumpia tersebut terbilang mulus, dia lulus dengan predikat cumlaude dan meraih IPK 4. Masa studi yang ditempuhnya, yakni 2 tahun 10 bulan. Persiapan studi lanjut terbilang matang. “Sejak tahun 2017 saya sudah mengantongi sepucuk tema untuk diperdalam menjadi fokus disertasi. Selain dibentangkan dalam Seminar Sejarah Nasional di UGM tahun 2017, topik sejarah pendidikan Algemene Middelbare School (AMS) A-1 bidang Sastra Timur juga terpacak di jurnal nasional Sinta 1 tahun 2018,” ungkap peraih penghargaan dosen berprestasi menulis di media massa selama enam tahun berturut-turut (2016-2021) oleh universitas.
“Saya seperti babad alas. Butuh energi besar, topangan dana tak sedikit, dan menghabiskan banyak waktu, karena memang belum ada ilmuwan lain yang menggarap topik ini,” imbuhnya. Dibawah bimbingan Promotor Prof. Dr Singgih Tri Sulistiyono, M. Hum dan Ko-Promotor Prof. Dr. Dhanang Respati Puguh, M.Hum, Heri menyusun disertasi berjudul “Algemene Middelbare School di Surakarta 1926-1932: Pendidikan Multikultural dan Penguatan Nasionalisme di Negeri Koloni”. Berbekal setumpuk sumber primer dan ketajaman pisau analisis, dirinya berhasil menemukan konsep “nasionalisme kebudayaan Indonesia” dan konsep “genealogi pengetahuan kebudayaan Indonesia”, di samping juga membantah beberapa temuan peneliti sebelumnya.

Sementara itu Dr. Arina Isti’anah M.Hum. yang lahir di Klaten 39 tahun lalu, menyelesaikan studinya dengan IPK 3,98 dengan dalam kurun waktu kurang dari empat tahun dan sepanjang masa studinya telah menghasilkan 14 tulisan ilmiah baik di jurnal-jurnal internasional bereputasi maupun terindeks Sinta. Di bawah bimbingan promotor Prof. Dr. Suhandana, M.Hum. dan Ko-Promotor Dr. Daru Winarti, M.Hum, Arina berhasil mempertahankan disertasinya yang “Analisis Wacana Ekologis dalam Promosi Pariwisata Indonesia: Sistem Evaluasi Bahasa.”. Kedua promotor dan tim penguji memberikan apresiasi tinggi atas ketekunan dan kedalaman analisis yang ditunjukkan oleh Arina, terutama dalam menggabungkan kepekaan ekologis dengan ketelitian linguistik.
Dalam disertasinya Arina mengupas secara mendalam bagaimana bahasa dalam promosi pariwisata Indonesia tidak hanya bersifat persuasif, tetapi juga menyimpan ideologi ekologis yang kompleks dan ambivalen. Dengan pendekatan analisis wacana ekologis berbasis korpus, Arina mengungkap bahwa promosi pariwisata kerap menampilkan alam Indonesia sebagai surga eksotis yang kaya, murni, dan tersembunyi—namun sekaligus menjadikannya objek eksplorasi, eksploitasi, dan komodifikasi dalam bingkai kapitalisme dan neoliberalisme.
Mengutip dari disertasinya, Arina menjelaskan bahwa situs resmi pariwisata Indonesia, www.indonesia.travel, secara linguistik mereproduksi evaluasi positif terhadap alam melalui strategi metaforis, kuantifikasi, dan eksotisasi. Strategi ini berdampak pada pembingkaian alam sebagai komoditas pariwisata yang layak dijual, sambil menyingkirkan agensi masyarakat lokal dan makhluk non-manusia dalam narasi wisata.

Dalam paparannya, Arina menyoroti bagaimana kata-kata seperti paradise, hidden island, pristine forest, dan eco-friendly bukanlah sekadar kata sifat netral, melainkan sarat muatan ideologis yang membentuk cara pandang terhadap alam dan lingkungan. Ia menegaskan bahwa wacana pariwisata yang diklaim berwawasan lingkungan sering kali terjebak dalam praktik “greenwashing”—yakni membungkus komodifikasi dengan label ramah lingkungan. “Ke depan, penelitian ini dapat diperluas ke dalam analisis multimodal dan perbandingan lintas bahasa untuk mengkritisi lebih dalam bagaimana alam dan komunitas lokal direpresentasikan dalam promosi digital,” ujar Arina menutup sesi promosi doktornya. (Tti)
- Susun Kurikulum 2026, Fakultas Sastra USD Teguhkan Identitas Pendidikan Jesuit
- Fakultas Sastra USD Gelar Lokakarya Kedua: Humaniora Digital Siap Jadi Penciri Baru Kurikulum 2026
- KEKUATAN NARASI LOKAL UNTUK EKONOMI KREATIF: BRIN DAN FAKULTAS SASTRA USD RESMI JALIN KERJASAMA
- Fakultas Sastra USD Mengadakan Lokakarya Pembaruan Kurikulum 2026
- Kuliah Umum Fakultas Sastra: MEMBACA ULANG NARASI PEMBANGUNAN DAN LINGKUNGAN ORDE BARU
- Iliad Telah Usai, Odyssey Baru Dimulai: Pesan Dekan di Pelepasan Wisuda Fakultas Sastra USD
- Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Resmi Terima SK Guru Besar
- PENANDATANGAN MOA FAKULTAS SASTRA USD DAN FAKULTAS SASTRA DAN BAHASA UKI: RELASI UKI DAN USD SUDAH LAMA TERJALIN ERAT
- Fakultas Sastra USD Sambut Mahasiswa Baru Melalui JAKSA 2025: PERKUAT HUMANISME DAN LESTARIKAN BAHASA DAERAH
- FAKULTAS SASTRA TAMBAH DUA DOKTOR BARU
