Berita
Puncak Dies Natalis ke-32 Fakultas Sastra: Kampus Berdampak melalui Humaniora Kritis dan Formatif
05-05-2025 08:56:33 WIB
“Sudah saatnya kita meletakkan ilmu humaniora bukan sekadar dalam tataran memenuhi relevansi terhadap kebutuhan praktis dunia kerja atau mengunggulkan kegunaannya untuk menjaring mahasiswa baru, namun harus menyentuh legitimasi dan berperan dalam mendengungkan suara-suara kritis terkait isu-isu persoalan publik, misalnya demokratisasi, lingkungan, dan marginalisasi,” demikian ditegaskan oleh Rektor Universitas Sanata Dharma melalui sambutannya dalam acara Puncak Peringatan Dies Natalis ke-32 Fakultas Sastra di Ruang Seminar Auditorium Driyarkara, Kampus II Mrican, Senin (5/5/25).
Masa depan humaniora adalah bersuara kritis dan formatif dari sisi politik. Becermin dari kebijakan Presiden AS, Donald Trump, yang menginisiasi penggerogotan legitimasi universitas dan humaniora sebagai ilmu. Penggerogotan terutama dilakukan terhadap universitas-universitas terkemuka di AS yang menentang pihak sayap kanan dan yang beraliran populisme.
“Dari sisi humaniora, dampak macam apa yang dari segi keilmuan menjadi khas dan berguna bagi peradaban? Kampus yang berdampak adalah kampus yang dari sisi politis cenderung kritis. Sumbangan kita tidak melulu ekonomis, tetapi dampak yang berupa formasi, care, relasi, atau sesuatu yang lebih mendalam. Humaniora tidak dipakai untuk memproduksi sesuatu sebagai produk, tetapi mendampingi perjalanan umat manusia sebagai bangsa, memaknai dan bersikap kritis terhadap perkembangan masyarakat, serta mengkritisi ideologi,” lanjutnya.

Dalam kesempatan ini, Rektor Universitas Sanata Dharma juga mengundang para mahasiswa dan dosen Fakultas Sastra untuk bergabung dalam Observatory for Democracy, sebuah jaringan kolaborasi universitas Jesuit seluruh dunia yang sedang digagas dengan tujuan untuk mendampingi perjalanan demokrasi yang lebih sehat. Dengan cara inilah humaniora turut berkiprah dalam isu publik.
Sebagai wujud tradisi akademik, perayaan juga diisi orasi ilmiah. Dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk “Linguistik Korpus dalam Kajian Humaniora Digital: Studi Kasus (Re)produksi Ideologi Dominan dalam Media Massa”, Dr. Arina Isti’anah menyoroti pentingnya humaniora digital sebagai pendekatan kontemporer dalam penelitian ilmu kemanusiaan, khususnya linguistik. Ia juga menekankan bahwa humaniora digital bukan hanya mengandalkan teknologi sebagai alat bantu metodologis, melainkan turut membentuk cara berpikir dan produksi pengetahuan dalam kajian sastra, bahasa, dan budaya. Dengan menelusuri sejarah dan pemaknaan digital dalam konteks humaniora, orasi ini menjelaskan bagaimana linguistik korpus mampu menghadirkan analisis empiris yang tajam terhadap penggunaan bahasa dan kecenderungan ideologis yang tersembunyi dalam wacana publik.

Melalui pendekatan linguistik korpus, Dr. Arina memaparkan bagaimana analisis frekuensi kata, kolokasi, genre leksikal dan gramatikal, dan kata kunci dalam teks-teks digital mampu mengungkap reproduksi ideologi dominan di media massa, seperti dalam isu pemindahan Ibu Kota Negara, pemberitaan jalan tol, dan krisis iklim. Ia menunjukkan bahwa bahasa dalam media berperan besar dalam membentuk persepsi publik dan legitimasi kebijakan. Orasi ini mengajak civitas academica untuk memanfaatkan linguistik korpus sebagai alat kritis dalam membaca relasi kuasa, menyuarakan ideologi terpinggirkan, dan membentuk pengajaran serta penelitian humaniora yang relevan dengan era digital.
Dalam perayaan ini, Dekan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Dr. Yoseph Yapi Taum, menyampaikan laporan tahunan bertajuk “Mengukir Makna, Memahat Peradaban”. Laporan ini menyoroti berbagai capaian penting di bidang tridharma perguruan tinggi, termasuk akreditasi “baik” untuk Program Magister Sastra, akreditasi “baik sekali” untuk Prodi Sejarah, “unggul” untuk Prodi Sastra Indonesia dan Sastra Inggris, serta akreditasi internasional FIBAA untuk Sastra Inggris.

Meski menghadapi tantangan penurunan jumlah pendaftar, fakultas tetap menunjukkan geliat inovatif, termasuk pengembangan kurikulum Humaniora Digital, pendirian Pusat Dokumentasi dan Animasi Sastra Lisan Nusantara, dan pembentukan Kelompok Kepakaran dan Layanan Profesional. Dalam bidang penelitian dan publikasi, tercatat 51 penelitian dan 42 artikel jurnal ber-ISSN, dengan fokus yang meliputi sastra lisan, gender, ekokritik, hingga humaniora digital. Mahasiswa juga mencatatkan prestasi gemilang di berbagai ajang nasional dan internasional, memperkuat semangat "kritis, kreatif, dan humanis" yang menjadi moto fakultas.
Sebagai bagian dari strategi keberlanjutan, fakultas juga menginisiasi pembentukan organisasi mahasiswa tingkat fakultas dan ikatan alumni (IKAFASA), serta memperkuat branding melalui tim media sosial. Kerjasama nasional dan internasional terus dikembangkan, termasuk kunjungan budaya dari Swinburne University of Technology Australia.


Kemeriahan Puncak Dies Natalis semakin terasa berkat antusiasme dan partisipasi aktif mahasiswa. Angela Sang Linggar Hirarka dan Elisabeth Amanda Putri membuka acara dengan sajian tari Jaipongan yang dinamis, energik, dan lincah. Sentuhan reflektif akan kiprah humaniora dalam lanskap digital hadir melalui sajian musikalisasi puisi dari unit kegiatan Bengkel Sastra. Suasana juga terbangun berkat kekhasan vokal Yolenta Oktovia Mahuze yang kaya akan emosi dalam persembahan pembacaan puisi. Menjelang akhir acara, para tamu undangan disuguhi penampilan musik yang memikat dari English Letters Music Organization (ELMO).
Pada kesempatan yang sama, fakultas juga menganugerahkan penghargaan Mahasiswa Berprestasi kepada delapan mahasiswa inspiratif, yakni Muhammad Agim Mauladhan, Seanpaul Lapudooh, S'bastian Alfa Omega Rindo Rindo, Maria Adventya Putri Kolfidus, Angela Sang Lininggar Hirarka, Benedicta Fayola, Laetitia Sugestian, dan Christina Itasari. Keberhasilan mahasiswa menegaskan komitmen fakultas dalam pengembangan talenta akademik dan kreativitas di bidang humaniora. Selain itu, sebagai wujud kontribusi akademik, Dekan Fakultas Sastra secara simbolis menyerahkan kumpulan buku karya dosen dan mahasiswa Fakultas Sastra kepada Rektor Universitas Sanata Dharma.
Dengan semangat bertumbuh, berkreasi, dan peduli, Fakultas Sastra terus menegaskan perannya sebagai pusat kajian humaniora yang inspiratif, solutif, dan adaptif di tengah era digital. (Tti-Mmsw)
Kembali
- Fakultas Sastra USD Gelar Lokakarya Kedua: Humaniora Digital Siap Jadi Penciri Baru Kurikulum 2026
- KEKUATAN NARASI LOKAL UNTUK EKONOMI KREATIF: BRIN DAN FAKULTAS SASTRA USD RESMI JALIN KERJASAMA
- Fakultas Sastra USD Mengadakan Lokakarya Pembaruan Kurikulum 2026
- Kuliah Umum Fakultas Sastra: MEMBACA ULANG NARASI PEMBANGUNAN DAN LINGKUNGAN ORDE BARU
- Iliad Telah Usai, Odyssey Baru Dimulai: Pesan Dekan di Pelepasan Wisuda Fakultas Sastra USD
- Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. Resmi Terima SK Guru Besar
- PENANDATANGAN MOA FAKULTAS SASTRA USD DAN FAKULTAS SASTRA DAN BAHASA UKI: RELASI UKI DAN USD SUDAH LAMA TERJALIN ERAT
- Fakultas Sastra USD Sambut Mahasiswa Baru Melalui JAKSA 2025: PERKUAT HUMANISME DAN LESTARIKAN BAHASA DAERAH
- FAKULTAS SASTRA TAMBAH DUA DOKTOR BARU
- Mewujudkan Kampus Inklusif bagi Mahasiswa Disabilitas: Sosialisasi dan Pelatihan Pendidikan Inklusif bagi Dosen dan Tendik Fakultas Sastra
