Berita

Dosen Magister Pendidikan Matematika USD Dampingi Guru SMA Bruderan Purworejo Merancang Proyek Pembelajaran STEAM

20-10-2026 12:39:26 WIB

Purworejo, 20 Oktober 2026 — Pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) membuka peluang bagi siswa untuk menghubungkan berbagai bidang ilmu dengan persoalan nyata di lingkungan sekitar. Untuk mendukung pengembangan pembelajaran tersebut, dosen Program Studi Magister Pendidikan Matematika Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan workshop pembelajaran STEAM bagi guru SMA Bruderan Purworejo pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Untitled design (7)

Workshop berlangsung pukul 10.30–12.30 WIB dengan menghadirkan Dr. Ch. Enny Murwaningtyas dan Dr. Haniek Sri Pratini sebagai fasilitator. Kegiatan ini bertujuan membantu guru memahami prinsip pembelajaran STEAM sekaligus mengembangkan rancangan proyek yang relevan dengan konteks sekolah dan kehidupan sehari-hari.

Dari pengenalan konsep menuju rancangan proyek

Kegiatan diawali dengan pemaparan oleh Dr. Ch. Enny Murwaningtyas mengenai pengertian, prinsip dasar, karakteristik, dan contoh penerapan pembelajaran STEAM. Guru diajak memahami bahwa pendekatan ini bukan sekadar menggabungkan beberapa mata pelajaran, melainkan mengintegrasikan berbagai bidang ilmu untuk mengkaji persoalan dan mengembangkan solusi.

Selanjutnya, Dr. Haniek Sri Pratini memandu para guru dalam menyusun desain pembelajaran STEAM. Dalam proses ini, guru diajak mengidentifikasi persoalan kontekstual, menentukan tujuan pembelajaran, serta merancang aktivitas yang memungkinkan siswa menggunakan pengetahuan dari berbagai bidang ilmu secara terpadu.

Dari kegiatan perancangan tersebut, muncul dua gagasan proyek yang berkaitan dengan persoalan lingkungan dan kehidupan sehari-hari, yaitu pemanfaatan limbah minyak goreng serta pengelolaan sampah organik di asrama dan sekolah.

Kedua proyek tersebut memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang dekat dengan kehidupan siswa. Dalam proyek pemanfaatan limbah minyak goreng, misalnya, siswa dapat diajak mempelajari karakteristik bahan, dampak limbah terhadap lingkungan, serta kemungkinan pengolahan dan pemanfaatannya secara bertanggung jawab.

Sementara itu, proyek pengelolaan sampah organik dapat menjadi sarana bagi siswa untuk mempelajari permasalahan sampah, proses pengolahan bahan organik, dan pengembangan solusi sesuai dengan kondisi sekolah maupun asrama.

Melalui kedua gagasan tersebut, pembelajaran STEAM berpotensi menghadirkan pengalaman belajar yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan lingkungan. Siswa juga dapat memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kreativitas, berkolaborasi, dan menyusun solusi terhadap permasalahan yang mereka temui.

Pendampingan sebagai tindak lanjut workshop

Dalam sesi diskusi, salah seorang guru menanyakan tindak lanjut yang dapat dilakukan setelah workshop. Pertanyaan ini menjadi bagian penting dari pembahasan karena penerapan pembelajaran STEAM tidak hanya bergantung pada rancangan yang disusun, tetapi juga pada pelaksanaan dan evaluasinya.

Menanggapi pertanyaan tersebut, fasilitator menyampaikan bahwa guru dapat menindaklanjuti kegiatan dengan melaksanakan proyek yang telah dirancang. Fasilitator juga menyatakan kesediaannya untuk mendampingi proses penilaian pelaksanaan proyek guna membantu guru mengevaluasi kesesuaian kegiatan pembelajaran dengan prinsip-prinsip STEAM.

Pendampingan ini diharapkan dapat membantu guru merefleksikan proses pembelajaran, mengidentifikasi hal-hal yang telah berjalan baik, serta menentukan aspek yang masih perlu diperbaiki. Dengan demikian, pengembangan pembelajaran STEAM dapat berlangsung secara berkelanjutan, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi.

Melalui workshop ini, Program Studi Magister Pendidikan Matematika USD berupaya mendukung guru dalam merancang pembelajaran yang kontekstual dan berorientasi pada pemecahan masalah. Rancangan proyek yang dihasilkan diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan di sekolah sehingga siswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Kegiatan ini sekaligus memperkuat pentingnya kemitraan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam mengembangkan pembelajaran inovatif yang menghubungkan berbagai bidang ilmu dengan persoalan nyata di lingkungan peserta didik.

 kembali