Berita

Kolaborasi Dosen USD Hadirkan Art Therapy sebagai Media Katarsis dan Regulasi Emosi melalui Project Kepemimpinan ARTIKA di SMP Negeri 5 Yogyakarta

24-09-2026 10:37:19 WIB

Yogyakarta, 11 September 2026 – Universitas Sanata Dharma (USD) kembali menghadirkan kolaborasi lintas bidang dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional peserta didik. Bertempat di SMP Negeri 5 Yogyakarta, dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling serta Program Studi Pendidikan Matematika USD memberikan pendampingan dalam kegiatan Project Kepemimpinan ARTIKA (Art Therapy: Inspirasi, Kreasi, dan Aktualisasi) pada 11 September 2026.

Project Kepemimpinan ARTIKA merupakan salah satu kegiatan dalam program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru Universitas Sanata Dharma. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang bagi calon guru untuk mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, serta kepedulian terhadap perkembangan peserta didik melalui kegiatan yang kontekstual dan bermakna.

Dalam kegiatan tersebut, dosen USD mengangkat topik “Art Therapy sebagai Media Katarsis dan Regulasi Emosi.” Materi dan pendampingan diberikan oleh dua dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling, yaitu Prias Hayu Purbaningtyas, M.Pd. dan Agustin Andhika Putri, S.Pd., M.A., serta dosen Program Studi Pendidikan Matematika, yaitu Cyrenia Novella Krisnamurti, M.Sc.

art ther 1

Kegiatan ini berangkat dari pemahaman bahwa peserta didik pada masa remaja awal menghadapi berbagai perubahan yang dapat memengaruhi kondisi emosional mereka. Perasaan seperti senang, sedih, marah, kecewa, maupun cemas merupakan bagian dari pengalaman sehari-hari yang perlu dikenali dan dikelola dengan cara yang sehat.

Dalam konteks tersebut, art therapy diperkenalkan sebagai salah satu media ekspresif yang memungkinkan peserta didik menyalurkan dan mengomunikasikan pengalaman emosional melalui aktivitas seni. Seni tidak ditempatkan semata-mata sebagai kegiatan untuk menghasilkan karya yang indah, melainkan sebagai proses untuk mengenali diri, mengekspresikan perasaan, dan membangun kesadaran terhadap pengalaman emosional.

Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah katarsis, yaitu proses menyalurkan pengalaman atau emosi melalui media yang aman dan konstruktif. Peserta didik diajak memahami bahwa emosi tidak perlu ditekan atau diabaikan, tetapi dapat dikenali dan diekspresikan secara adaptif. Selanjutnya, konsep regulasi emosi diperkenalkan sebagai kemampuan untuk mengenali, memahami, dan merespons emosi dengan cara yang sesuai dengan situasi.

Kegiatan berlangsung secara interaktif. Peserta didik tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai emosi, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk melakukan aktivitas kreatif sebagai bentuk pengalaman langsung. Melalui proses tersebut, peserta didik diajak untuk berhenti sejenak, memperhatikan apa yang sedang dirasakan, kemudian menuangkannya melalui karya.

“Art therapy memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengekspresikan apa yang mungkin sulit disampaikan melalui kata-kata. Yang terpenting bukan hasil karya, tetapi proses ketika mereka mengenali apa yang sedang dirasakan dan menemukan cara yang lebih aman untuk mengekspresikannya,” ungkap Agustin Andhika Putri.

Kolaborasi antara dosen Bimbingan dan Konseling dan Pendidikan Matematika dalam kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam pendidikan. Pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu memperhatikan perkembangan sosial dan emosional peserta didik sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses pembelajaran.

Bagi calon guru yang terlibat dalam Project Kepemimpinan ARTIKA, kegiatan ini juga menjadi pengalaman untuk memahami kebutuhan peserta didik secara lebih utuh. Calon guru tidak hanya dituntut memiliki kompetensi pedagogi dan penguasaan bidang keilmuan, tetapi juga perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial dan emosional peserta didik di lingkungan sekolah.

IMG_9552_kcl

Melalui ARTIKA – Art Therapy: Inspirasi, Kreasi, dan Aktualisasi, kegiatan di SMP Negeri 5 Yogyakarta menjadi ruang perjumpaan antara pendidikan, kreativitas, dan pengembangan diri. Kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Universitas Sanata Dharma dalam menghadirkan pendidikan yang memperhatikan peserta didik secara holistik serta membekali calon guru dengan pengalaman nyata dalam menciptakan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan generasi muda.

Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengalaman positif bagi peserta didik dalam mengenali dan mengekspresikan emosi, sekaligus menjadi inspirasi bagi calon guru untuk mengembangkan pendekatan pendidikan yang kreatif, reflektif, dan berpihak pada perkembangan peserta didik.

 kembali
Arsip