Berita

Prodi BK USD Hadir dalam Kursus Formator Religius Tingkat Nasional di Yogyakarta

29-05-2026 10:40:41 WIB

Pelatihan “Relasi dan Kematangan Afeksi dalam Formasi Hidup Religius” yang diselenggarakan oleh Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia berlangsung dinamis dan reflektif di Wisma RPCB Syantikara, Yogyakarta, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari Kursus Formator Panjang (KFP) yang diikuti para formator dan calon formator dari berbagai keuskupan dan kongregasi religius di Indonesia. 

Sebanyak 20 peserta mengikuti pelatihan ini, terdiri atas 1 suster, 1 bruder, dan 18 imam. Para peserta datang dengan latar belakang pelayanan yang beragam: sebagian telah menjalankan tugas sebagai formator, sementara yang lain sedang dipersiapkan untuk menjalani pelayanan formasi di seminari maupun komunitas religius.

3

Materi pelatihan dibawakan oleh Juster Donal Sinaga, M.Pd., Ph.D. dengan tema “Relasi dan Kematangan Afeksi dalam Formasi Hidup Religius: Perspektif Psikologi”. Dalam sesi ini, peserta diajak mendalami pentingnya kematangan afeksi dalam kehidupan religius dan peran strategis formator sebagai model relasi yang sehat dan dewasa.

Kegiatan dikemas secara partisipatif dan reflektif melalui berbagai metode pembelajaran, seperti lecture interaktif, gallery walk, self-assessment, dan studi kasus. Melalui pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga diajak mengenali dinamika afeksi pribadi, pola relasi, serta tantangan emosional yang kerap muncul dalam kehidupan formasi.

Dalam sesi materi, peserta mengeksplorasi berbagai topik penting, mulai dari pemahaman tentang afeksi dan kematangannya, pola kelekatan (attachment styles), luka afektif dan mekanisme pertahanan diri, hingga batas-batas sehat dalam relasi formasi. Kegiatan self-assessment membantu peserta merefleksikan tingkat kematangan afeksi pribadi melalui instrumen “Skala Kematangan Afeksi Formator (SKAF)”. 

Suasana pelatihan berlangsung hangat dan terbuka. Para peserta aktif berbagi pengalaman konkret dalam pendampingan formasi, mendiskusikan studi kasus, serta merefleksikan tantangan membangun relasi yang sehat dalam komunitas religius dan seminari. Metode gallery walk juga memberi ruang bagi peserta untuk saling belajar dari pengalaman dan perspektif satu sama lain.

Melalui pelatihan ini, para peserta diharapkan semakin menyadari bahwa formasi tidak hanya berkaitan dengan aspek intelektual dan spiritual, tetapi juga membutuhkan kematangan afeksi yang mendalam. Formator dipanggil bukan sekadar mengajar, tetapi menghadirkan diri sebagai pribadi yang mampu membangun relasi sehat, empatik, dan membebaskan bagi para formandi. Sebagaimana ditegaskan dalam penutup materi, “Formator yang matang secara afektif tidak memberikan teknik, melainkan dirinya sendiri.”(nal)

 kembali
Arsip