Berita

"Angin Segar" dari Psikologi Positif untuk Calon Imam di Seminari Todabelu Mataloko

17-09-2026 08:25:04 WIB

“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk lembaga pendidikan Calon Imam yang saat ini akan memasuki usianya yang ke 100 tahun (1929)”. Kalimat ini disampaikan oleh salah seorang pendamping di Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko di sela-sela kegiatan bersama tim Prodi BK Universitas Sanata Dharma. Kegiatan yang dimaksud adalah pelatihan bimbingan kelompok untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis para siswa SMA Seminari. Kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 16 Juni hingga 19 Juni 2026 bertempat di Komunitas Seminari Mataloko yang terletak di Kecamatan Golewa, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur.

Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko merupakan sebuah lembaga pendidikan calon Imam Katolik di wilayah Keuskupan Agung Ende. Seminari ini berdiri pada tahun 1929 dan telah melahirkan banyak Imam hingga Uskup yang berkarya hampir di seluruh dunia. Di usianya yang ke 97 pada tahun ini, Seminari berupaya untuk tetap eksis di tengah tantangan zaman yang selalu menuntut perubahan. Salah satu tuntutan perubahan itu ialah pola pendampingan terhadap para siswa yang merupakan anak-anak yang lahir sebagai generasi Z dan generasi Alpa. Para siswa ini memiliki karakter yang khas dan berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya. Oleh karena itu, kebaruan dalam pendekatan pendampingan sangat diperlukan.

Kegiatan pelatihan pendampingan  yang dilakukan oleh Tim Prodi BK menjadi salah satu upaya untuk membantu para pendamping di seminari menjawab tantangan pendampingan yang dialami. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh Tim Peneliti Universitas Sanata Dharma. Tim ini terdiri atas dosen dari Prodi BK yakni Ibu Dr. A. Setyandari, S.Pd., S.Psi., Psikolog, M.A. dan Bapak Antonius Ian Bayu Setiawan M., Pd. Selain itu ada juga dosen Prodi PGSD yakni Ibu Dr. Brigitta Erlita Tri Anggadewi, M.Psi., bersama beberapa mahasiswa Prodi BK yang turut terlibat. Tim ini meracang sebuah model pendekatan bimbingan kelompok berbasis pendekatan psikologi positif yang dikembangkan oleh Martin Seligman.

perma 2

Model pendampingan psikologi positif yang diberikan dalam pelatihan dirancang dalam sebuah modul yang diberi judul PERMA. Adapun PERMA merupakan sebuah model kesejahteraan psikologis yang dikembangkan oleh Martin Seligman dalam tulisannya Flourish (2011). Seligman merancang model ini untuk menjawab apa yang membuat manusia bisa hidup dengan optimal, bahagia, dan bermakna (flourish). PERMA sendiri merupakan akronim dari 5 unsur utama kebahagiaan manusia yakni Positive emotion (emosi positif), Engagement (keterlibatan penuh), relationship (relasi), meaning (kebermaknaan), dan accomplishment (pencapaian).

Berdasarkan unsur-unsur kesejahteraan psikologis yang ada pelatihan dilakukan dalam 5 sesi sesuai dengan model PERMA. Pelatihan ini diikuti oleh para pendamping yakni para Imam dan para frater serta para guru di SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko. Kegiatan yang berlangsung selama kurang lebih 4 hari ini diikuti dengan penuh antusias oleh para peserta. Antusias tersebut tampak dalam berbagai tanggapan yang diberikan dalam bentuk pertanyaan, komentar, serta koreksi terhadap model bimbingan yang ditawarkan oleh Tim Pemateri.

Para peserta secara umum memberikan Kesan positif terhadap kegiatan yang dilakukan. “Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk lembaga pendidikan Calon Imam yang saat ini akan memasuki usianya yang ke 100 tahun (1929)” ungkap Romo Tinyo Sera, kepala sekolah SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Todabelu Mataloko. Sambutan positif juga disampaikan oleh Romo Beni Lalo sebagai guru BK yang adalah alumni Prodi BK Sanata Dharma periode (1995 hingga 1999). Beliau mengatakan bahwa model pendampingan dalam setting bimbingan kelompok cocok dengan situasi para siswa seminari yang jumlahnya lebih banyak dari pada para pendampingnya. Model ini dapat menjangkau lebih banyak siswa dan memberi informasi yang berharga tentang kondisi psikologis para siswa yang sering kali luput dari perhatian para pendamping karena tidak kasat mata.

perma 1

Kegiatan pelatihan ini pada akhirnya memberikan harapan baru sekaligus “angin segar” bagi model pendampingan para siswa seminari. Model pendampingan berbasis Psikologi Positif ala Seligman kini menambah perbendaharaan model pendampingan para siswa di seminari. Besar harapan bahwa model pendampingan ini dapat diterapkan kepada para siswa dan membantu mereka untuk menemukan kegembiraan dan kebermaknaan dalam menjalani hidup sebagai seorang calon imam. 

 kembali
Arsip