Berita

Mendengar yang Tak Terucap: Orang Tua Diajak Lebih Peka terhadap Kesehatan Mental Anak Sejak Dini

30-01-2025 13:23:46 WIB

Padukuhan Purwobinangun Koroulun Lor — Mahasiswa KKN PPM Universitas Sanata Dharma Angkatan LXXI Kelompok 88 menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Kesehatan Mental Anak bertajuk “Mendengar yang Tak Terucap: Peran Orang Tua dalam Menangani Permasalahan Anak Sejak Dini” . Kegitan yang diadakan pada Sabtu, 25 Januari 2026, pukul 13.00 WIB ini merupakan bagian dari program Rumah Curhat yang dilaksanakan bekerja sama dengan masyarakat Padukuhan Purwobinangun Koroulun Lor.

Kegiatan diikuti oleh para orang tua, khususnya ibu-ibu yang memiliki anak usia TK hingga SMP. Acara diawali dengan doa pembuka, dilanjutkan sambutan dari Ketua Kelompok KKN dan Dukuh Padukuhan Purwobinangun. Suasana sosialisasi berlangsung hangat dan partisipatif, ditandai dengan keterlibatan aktif peserta sejak awal kegiatan. Sesi utama sosialisasi disampaikan oleh Ibu Agustin Andhika Putri, S.Pd., M.A., dosen dari Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma. Dalam pemaparannya, Ibu Agustin menekankan pentingnya peran orang tua sebagai figur pendamping emosional utama bagi anak. Orang tua diajak untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak sebagai bentuk deteksi dini terhadap permasalahan kesehatan mental.


Materi sosialisasi mencakup pemahaman mengenai tahap perkembangan psikososial anak menurut Erik Erikson, mulai dari usia dini (3–5 tahun), usia sekolah dasar (6–12 tahun), hingga masa remaja (12–18 tahun). Setiap tahap perkembangan memiliki kebutuhan emosional yang berbeda dan memerlukan bentuk pendampingan yang sesuai dari orang tua. Selain itu, Ibu Agustin juga menjelaskan Teori Attachment (kelekatan) dari John Bowlby, yang menegaskan bahwa anak akan lebih terbuka dan mampu berkomunikasi dengan baik apabila mereka merasa aman secara emosional dengan orang tua. Rasa aman tersebut dibangun melalui respons yang konsisten, penuh empati, dan tidak menghakimi dalam interaksi sehari-hari.

Isu penggunaan gawai dan pengaturan screen time turut menjadi perhatian dalam sosialisasi ini. Disampaikan bahwa screen time yang berlebihan dapat mempengaruhi kemampuan regulasi emosi anak, seperti mudah marah, sulit fokus, dan kesulitan mengendalikan emosi. Oleh karena itu, orang tua didorong untuk menetapkan aturan penggunaan gawai yang konsisten, disepakati bersama anak, serta disertai pendampingan aktif.

Kegiatan ini juga membekali orang tua dengan keterampilan praktis melalui pendekatan Emotional Coaching, antara lain mendengarkan anak dengan empati, memvalidasi perasaan anak, serta membantu anak menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi tanpa terburu-buru menghakimi.

Sebagai penutup, mahasiswa KKN memperkenalkan kembali Rumah Curhat sebagai ruang aman nonformal yang berfungsi sebagai pendamping emosional awal bagi anak. Kehadiran Rumah Curhat diharapkan dapat menjadi jembatan komunikasi antara anak, orang tua, dan lingkungan sekitar, sekaligus sebagai langkah preventif dalam menjaga kesehatan mental anak sejak dini.

Melalui kegiatan sosialisasi ini, diharapkan para orang tua semakin menyadari bahwa kehadiran, perhatian, dan kemampuan mendengarkan anak merupakan fondasi penting dalam mendukung tumbuh kembang dan kesehatan mental anak secara berkelanjutan.

 kembali
Arsip