kegiatan

Transfigurasi Pendidikan: Pejabat Sekolah Yayasan Santo Dominikus Rancang Proyek Kokurikuler Berbasis Core Value Dominikan

Jumat, 17 April 2026 — Dalam upaya memperkuat identitas pendidikan Katolik di tengah arus transformasi kurikulum nasional, Yayasan Santo Dominikus menggelar workshop intensif yang mempertemukan para pemimpin instruksional dari berbagai daerah di Pusat Pastoral Sanjaya, Muntilan. Kegiatan yang berlangsung strategis ini dihadiri oleh jajaran Kepala Sekolah dan jajaran Seksi Kurikulum dari seluruh sekolah di bawah naungan Yayasan Santo Dominikus cabang Yogyakarta, Cimahi, Cirebon, dan Purwokerto.


WhatsApp Image 2026-04-23 at 09-23-02

Workshop ini tidak sekadar menjadi ajang pertemuan rutin, melainkan sebuah laboratorium kreatif untuk menjawab tantangan integrasi nilai spiritual ke dalam struktur kurikulum modern. Fokus utama kegiatan adalah melakukan transfigurasi dimensi profil lulusan – seperti yang diamanatkan dalam kebijakan pendidikan nasional – ke dalam narasi besar Core Value Dominikan yang menjadi ruh utama yayasan.

Dipandu oleh Eny Winarti, M.Hum., Ph.D., dosen PGSD Universitas Sanata Dharma, seorang akademisi di bidang kurikulum yang memiliki perhatian mendalam pada pedagogi humanis, workshop ini menggiring peserta untuk melihat melampaui dokumen administratif. Dalam paparannya, Eny menekankan pentingnya transfigurasi – sebuah proses mengubah bentuk dan rupa tanpa menghilangkan hakikat – agar nilai-nilai khas Dominikan tidak hanya menjadi slogan di dinding sekolah, tetapi mendarah daging dalam setiap aktivitas siswa.
WhatsApp Image 2026-04-23 at 09-22-50

“Pendidikan tidak semestinya mengejar target administratif pemerintah saja, namun harus menjaga identitas spiritual. Keduanya harus menyatu dan terintegrasi.” ungkap Eny di hadapan para peserta. 

Selama sesi berlangsung, peserta diajak membedah kembali dimensi-dimensi profil lulusan yang dicanangkan pemerintah, lalu menyelaraskannya dengan pilar-pilar yang menjadi ciri khas Yayasan Dominikus.

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang workshop. Diskusi hangat antar- cabang terjadi saat mereka masuk ke tahap teknis: menyusun prototipe proyek kokurikuler. Tagihan utama dari kegiatan ini bukanlah sekedar laporan kegiatan, melainkan rancangan nyata proyek kokurikuler yang akan diimplementasikan di sekolah masing-masing.

kembali