Berita

MENJADI TEMAN BAGI YANG TERSISIHKAN Pentas Teater Rakyat Pendikkat-USD 2026

16 Juli 2026

Jumat, 5 Juni 2026, bagi mahasiswa Semester IV, Pendikkat – Universitas Sanata Dharma, menjadi hari bersejarah yang membanggakan. Pasalnya, mereka telah berhasil memukau para penonton dengan pagelaran 4 cerita Teater Rakyat di bawah tajuk “Menjadi Teman bagi Yang Tersisihkan.” Pementasan digelar pada pukul 18.00 – 21.30 di Auditorium Kampus V. Pementasan ini dihadiri Wakil Dekan FKIP-USD (Bp. A. Hariwangsa Panuluh), Wakaprodi Pendikkat-USD (Bp. Arya Seta), para Dosen dan karyawan, dan 300-an penonton berbayar. Sebagian besar penonton adalah para mahasiswa lintas prodi/perguruan tinggi, kaum religius dari berbagai kongregasi, dan masyarakat pada umumnya.

Logo Tera 2026

Empat cerita yang dipentaskan berturut-turut malam itu adalah (1) “Piring Gratis Kepentingan Berlapis” (kritik atas praktik MBG yang bermasalah), (2) “Ketika Suara Menjadi Sebuah Dosa” (keprihatinan terkait merosotnya demokrasi di Indonesia), (3) “Melow Di Lampu Merah” (fenomena maraknya pengamen muda di perempatan jalan di kota Yogya), dan (4) “Karakter yang Mati di Balik Tembok Pendidikan” (fenomena pelecehan dan pembulian di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi). Cerita disusun berdasarkan riset lapangan dan studi pustaka. Tentu saja, pentas yang “wow” itu bukan hasil kerja semalam, melainkan berkat kerja keras, kerjasama angkatan dan kolaborasi banyak pihak sejak awal semester.

Sebanyak 77 mahasiswa Semester IV dari Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik dengan antusias mengikuti rangkaian pelatihan “public speaking dan teater” sejak 13 Februari – 5 Juni 2026. Selama satu semester ada 18 kali pertemuan formal (belum termasuk survai lapangan, usaha dana, persiapan panggung, dan latihan-latihan mandiri menjelang pentas). Setiap Jumat sore selama 2 jam diadakan pelatihan di bawah asuhan Romo Yoseph Ispuroyanto SJ (Dosen Pengampu) dan Emmanuel Cahyo Kristianto (Asisten Dosen). Sebulan menjelang pementasan Romo Setyawan SJ memberi masukan tentang analisis sosial. Lalu Romo Murti Hadi Wijayanto SJ mengisi sesi penulisan naskah teater. Empat kelompok yang akan pentas didampingi oleh mahasiswa dari kakak tingkat (Kak Boni, Kak Mira, Kak Agil, Kak Anjel).

Melalui latihan berbicara di depan umum (bahasa foto, puisi) dan berteater, mahasiswa makin mengenal bahwa teater merupakan seni pertunjukan yang memadukan berbagai potensi diri (jiwa, raga dan roh). Latihan ini ditempuh secara bertahap dari pemahaman mengenai teori public speaking dan teater, olah tubuh, olah vokal, olah bentuk, olah emosi dan konflik, dramatisasi puisi, analisis sosial, survai lapangan, penyusunan naskah teater sampai latihan-latihan pentas. Melalui latihan-latihan selama semester ini, para mahasiswa belajar memeluk “jalan keindahan” sebagai cara pewartaan.

Melalui proses pelatihan berbicara di depan umum dari awal semester dan memuncak pada pentas Teater Rakyat, kemampuan berkomunikasi dari para mahasiswa berkembang, sikap dan jati dirinya terbangun (BERTUMBUH), berani menciptakan hal-hal yang indah (BERKREASI), dan keberpihakan kepada masyarakat yang terpinggirkan pun semakin muncul (PEDULI). Inilah salah satu tujuan dari matakuliah ini yang sejak awal perkuliahan sudah dicanangkan oleh dosen pengampu. Pentas ini menjadi kesempatan ajang kreativitas sekaligus berfungsi sebagai Ujian Akhir Semester.

Cerita 1

Cerita 2

Cerita 3

Cerita 4

Pementasan cerita terakhir selesai pada 21.30 WIB. Sebagai luapan kegembiraan atas suksesnya Pentas Tera 2026 ini, semua pemain bersama dosen pengampu dan pendamping menyanyikan theme song “Mengejar Matahari”. Meskipun Master Ceremony sudah menutup acara dengan doa, sebagian besar penonton masih antusias untuk tetap berada di tempat duduknya. Banyak dari mereka kemudian mendekati para pemain yang berada di panggung untuk menyampaikan ucapan selamat, menyampaikan untaian bunga, dan meminta foto selfie.

Seorang penonton yang tidak menyebut namanya memberikan kesan: “Wah, pentasnya kerenn. Penampilan setiap cerita menyentuh, sekaligus menghadirkan realitas sosial saat ini. Bahwa ceritanya baru diolah sebulan terakhir ini sungguh luar biasa.” Sr. Agnesin HK, mahasiswi PGSD-USD, menyampaikan pandangannya: “Penampilan mereka luar biasa, kreatif. Menyentuh, sekaligus mengajak penonton untuk kritis. Penampilan terakhir tentang pembulian di sekolah sungguh paling menyentuh.” Penonton lainnya juga memberi penilaian: “Penampilan setiap kelompok bagus. Sekedar saran, agar musik tidak terlalu keras dan sound system belum berfungsi secara maksimal.”

Dua hari setelah pentas, sebanyak 74 (96%) dari 77 mahasiswa menuliskan refleksinya. Sebagian besar mahasiswa merasa lega, terharu, bangga dan bersyukur bahwa pentas mereka mendapat apresiasi yang luar biasa dari penonton. Rasa lelah terbayarkan. Mereka berterimakasih kepada semua kolaborator dan donatur. Seorang pemain, Nicholas Sarwo Prasodjo (NIM 241124002), dengan tegas menuliskan kesannya: “Matakuliah Public Speaking dan Teater membuat saya menyadari bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi dapat menjadi media yang kuat untuk menyuarakan aspirasi, kritik, dan harapan masyarakat. Seni mampu menghadirkan realitas sosial ke hadapan publik dengan cara yang kreatif dan menyentuh, sehingga pesan yang disampaikan dapat lebih mudah dipahami dan dirasakan.” Seorang pemain lainnya, Lidwina Nee Mawo (NIM 241124015), bersaksi: “Melalui Tera 2026, saya memperoleh banyak makna yang berharga bagi perkembangan diri saya maupun sebagai calon katekis. Tema yang diangkat mengajarkan saya untuk menjadi teman bagi mereka yang tersisihkan dan kurang mendapat perhatian. Saya belajar bahwa setiap orang memiliki suara yang perlu didengarkan. Melalui teater ini, kami berusaha menyampaikan suara dan isi hati masyarakat yang sering kali tidak mendapatkan ruang untuk berbicara. Pengalaman ini membantu saya untuk semakin peka terhadap situasi di sekitar dan menyadari pentingnya keberpihakan kepada mereka yang membutuhkan perhatian.”

Melalui kegiatan Teater Rakyat ini, para mahasiswa calon guru agama Katolik/katekis ini tidak hanya belajar untuk tampil di muka umum dengan percaya diri, tetapi juga belajar mengintegrasikan kemampuan berkomunikasi, kesenian, pewartaan iman dan kepedulian sosial. Hal ini sejalan dengan pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial se-Dunia ke 59 (Minggu, 1 Juni 2025). Antara lain beliau berpesan agar “kita menjadi komunikator harapan yang bersedia mendengarkan dan tidak melupakan wajah-wajah yang konkrit.” (Peliput: Yoseph I. Iswarahadi SJ).

***

Kembali