Berita

Perlahan, Kembali ke Alam: Sosialisasi Jakaba pada Petani

11 Juni 2025

Petani saat ini menghadapi tantangan yang signifikan. Salah satu permasalahan yang dihadapi adalah harga hasil pertanian yang tidak menentu, hama pertanian yang semakin sulit dibasmi, sementara harga pupuk terus meningkat. Situasi ini akan berdampak pada kesejahteraan petani karena rendahnya pendapatan yang diterima petani dan ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, pertanian merupakan salah satu sektor yang tidak diminati oleh generasi muda.


Salah satu langkah yang dilakukan untuk memperbaiki kesejahteraan petani adalah dengan mendorong petani untuk mandiri, baik mandiri pupuk, bibit, dan obat-obatan pertanian. Dengan kata lain, petani harus menggunakan sumber daya pertanian secara efisien (Anantanyu, 2011). Berbagai alternatif pupuk dan obat-obatan alami dapat digunakan petani. Petani dapat menggali kearifan lokal nenek moyang untuk pupuk, bibit, dan obat. Khususnya pupuk dan obat, petani dapat membuat sendiri dengan biaya yang sangat murah dengan bahan-bahan dari alam.

Penggunaan Jakaba (jamur keberuntungan abadi) merupakan salah satu alternatif untuk merangsang pertumbuhan tanaman kerdil, memperpanjang umur tanaman, dan mengatasi fusarium melalui perangsangan pertumbuhan akar (Norliyani et al., 2023). Jakaba merupakan pupuk organik cair (POC) yang kaya akan unsur N dan P, serta mengandung pH yang tinggi.

Sosialisasi pembiakan jakaba dilakukan di Dusun Diwak, Desa Sumber, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang pada tanggal 4 Mei 2025. Kegiatan ini didukung oleh masyarakat dan kepala dusun Diwak. Dalam sambutannya, Pak Pawit mengatakan bahwa masyarakat masih memerlukan berbagai informasi yang dapat meningkatkan pendapatannya.

Sosialisasi Jakaba dilakukan dengan menggunakan metode ceramah dan demonstrasi. Warga antusias dengan sosialisasi tersebut, yang ditunjukkan dengan banyaknya pertanyaan seputar implementasi POC jakaba pada tanaman, khususnya cabai. (Oleh: S. Widanarto Prijowuntato dan UKM PM – USD)
 

Kembali