Berita

MENJADI TEMAN BAGI YANG TERPINGGIRKAN: Pentas Teater Rakyat 2025

02 Juni 2025

Pada Jumat, 23 Mei 2025 pukul 18.00 – 21.30 telah diselenggarakan Pentas Teater Rakyat di Kampus V, Universitas Sanata Dharma dengan tema “Being A Friend to The Downtrodden” atau “Menjadi Teman bagi Yang Terpinggirkan”. Pementasan ini dihadiri  Kaprodi Pedikkat-USD (Romo Mutiara Andalas SJ), Wakaprodi Pendikkat-USD (Bp. Arya Seta), para Dosen dan karyawan,  alumni, dan 300-an penonton berbayar. Sebagian besar penonton adalah para mahasiswa lintas prodi/perguruan tinggi,  kaum religius dari berbagai kongregasi, dan masyarakat pada umumnya.

 

Poster Tera 2025
                                                                              
Sudah puluhan tahun pentas Teater Rakyat  menjadi tradisi di Kampus ini, yaitu sejak prodi ini masih berdiri sendiri sebagai Sekolah Tinggi Kateketik Prandnyawidya.  Teater Rakyat  menjadi salah satu kekhasan dari Kampus V, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Sanata Dharma yang dirindukan. Pentas Teater Rakyat ini merupakan puncak dari rangkaian pelatihan dalam mata kuliah “Public Speaking dan Teater” yang pengampunya selama ini selalu dari Tim Studio Audio Visual (Puskat/USD).
 
Sebanyak 65 mahasiswa Semester IV dari Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik dengan antusias mengikuti rangkaian pelatihan “public speaking dan teater” sejak 14 Februari – 28 Mei 2025. Setiap  Jumat sore selama 2 jam diadakan pelatihan di bawah asuhan  Romo Yoseph Ispuroyanto SJ (Dosen Pengampu) dan Emmanuel Cahyo Kristianto (Asisten Dosen). Sesi Analisis Sosial diampu oleh Rm. Setyawan SJ. Sedangkan Rm. Murti Hadi Wijayanto SJ mengisi sesi penulisan naskah teater. Sejak satu bulan menjelang pementasan, 4 kelompok yang akan pentas didampingi oleh mahasiswa dari kakak tingkat (Kak Erva, Kak Marvel, Kak Caca, Kak Valen). Selama satu semester ada  18 kali pertemuan formal (belum termasuk survai lapangan, usaha dana, persiapan panggung, dan latihan-latihan mandiri menjelang pentas).

 
Melalui latihan berbicara di depan umum (bahasa foto, puisi) dan berteater, mahasiswa makin mengenal bahwa teater merupakan seni pertunjukan yang memadukan berbagai potensi diri (jiwa, raga dan roh). Latihan ini ditempuh secara bertahap dari pemahaman mengenai teori public speaking dan teater, olah tubuh, olah vokal, olah bentuk,  olah emosi dan konflik, dramatisasi puisi, analisis sosial, survai lapangan, penyusunan naskah teater sampai latihan-latihan pentas. Melalui latihan-latihan selama semester ini, para mahasiswa belajar memeluk “jalan keindahan” sebagai sarana pewartaan.
 
Mengapa teater yang dilatihkan di Kampus V ini disebut Teater Rakyat? Dalam kata sambutannya, Bagus Putra selaku Ketua Panitia Teater Rakyat 2025 menerangkan bahwa teater yang dilatihkan di Pendikkat berorientasi kerakyatan, maka sering disebut teater rakyat. Teater Rakyat  2025 bukan hanya sebuah pertunjukan. Ini adalah suara  kaum muda yang rindu akan perubahan dan suara yang ingin menyentuh hati serta menggugah kesadaran. Bagus Putra juga menambahkan: ”Proses ini tidak mudah — banyak tantangan, perbedaan pandangan, bahkan kelelahan, tetapi kami percaya: ketika kita bersatu dalam niat yang baik, sesuatu yang sederhana bisa menjadi bermakna.” Terkait tema "Menjadi Teman Bagi yang Terpinggirkan", Bagus Putra menegaskan bahwa Teater Rakyat merupakan sebuah panggilan untuk membuka mata, hati, dan langkah  bagi mereka yang selama ini terabaikan, tersisih, dan mungkin bahkan dilupakan. Di atas panggung ini, Teater Rakyat 2025   mengajak semua yang hadir untuk melihat wajah-wajah kehidupan yang kerap luput dari perhatian serta mereka yang hidup dalam bayang-bayang ketidakadilan.

Melalui proses pelatihan berbicara di depan umum dari awal semester dan memuncak pada pentas Teater Rakyat,  kemampuan berkomunikasi dari para mahasiswa berkembang, sikap dan jati dirinya terbangun (BERTUMBUH), berani menciptakan hal-hal yang indah (BERKREASI), dan keberpihakan kepada masyarakat yang terpinggirkan pun semakin muncul (PEDULI). Inilah salah satu tujuan dari matakuliah ini yang sejak awal perkuliahan sudah dicanangkan oleh dosen pengampu.
 
Selaku Pengampu matakuliah ini, Romo Yoseph Ispuroyanto SJ selama proses perkuliahan beberapa kali juga menegaskan bahwa Teater Rakyat merupakan ruang perjumpaan para pencari dan penyuara kebenaran. Teater Rakyat adalah medium penyaji tema yang dapat menjadi bahan permenungan bersama, tidak hanya para pemain, tetapi juga bersama para hadirin yang menyaksikan kisah-kisah yang dipentaskan. “Being A Friend to The Downtrodden” atau “Menjadi Teman bagi Yang Terpinggirkan” adalah tema yang diangkat dalam pentas Teater Rakyat 2025. Para mahasiswa menyusun cerita bukan dari balik meja, melainkan berdasarkan pengalaman perjumpaan langsung dengan masyarakat kebanyakan di sekitar kota Yogyakarta ini: para petugas kebersihan kota Yogya dan masyarakat umum yang gelisah tentang masalah sampah, para pedagang di kawasan Malioboro,  masyarakat yang terdampak oleh proyek-proyek nasional di Kalasan dan sekitarnya, serta orang-orang muda praktisi “street coffee” di sekitar Kotabaru.  
 
Berdasarkan hasil survai tersebut, sejak awal bulan Mei empat kelompok menyiapkan pementasan bersama dosen pengampu dan asistennya, serta didampingi oleh kakak-kakak tingkat. Pada malam pentas itu berhasil disajikan 4 cerita. Sebelum penyajian 4 cerita Teater Rakyat, dua mahasiswa yaitu Agil dan Lusiana Mira menyampaikan puisi yang masing-masing berjudul “Orang Muda Harapan Gereja” dan “Aku Gadis Borneo.”
 
Pementasan pertama diisi oleh Kelompok A dengan lakon “Seruan Dari Kota Sampah”. Inti kisahnya adalah adanya warga di sebuah kota (Jigjag) yang ingin menuntut kebersihan kota karena terganggu oleh keberadaan sampah yang menumpuk, namun dihadapkan pada kebijakan pemerintah yang tidak transparan. Cerita disajikan dengan indah: ada gerak dan lagu, ada humor,  dialog-dialog yang mengandung konflik kepentingan, dan diakhiri dengan puisi   penggugah kesadaran tentang lingkungan serta lagu “Kulihat Ibu Pertiwi”. Musik ilustrasinya juga sangat mendukung.
 
                                                                      
 
Salah satu adegan dari “Seruan dari Kota Sampah”
 
Tampil pada urutan kedua, Kelompok C menyajikan cerita yang berjudul “Bayangan Di Balik Tenda Dagang”. Dikisahkan ada sekelompok pedagang kaki lima yang ulet dan sabar ingin mempertahankan usahanya setelah direlokasi ke Texas Malesbro Barat dan Timur, namun mereka harus menghadapi sepinya pembeli, pungutan yang tak jelas, dan ketidakpastian kebijakan dari pemerintah. Pesan dari pementasan disampaikan dengan cara yang menarik: monolog keluhan para pedagang, konflik-konflik verbal yang keras, dialog antar tokoh yang menggunakan aneka dialek, konflik fisik yang ditampilkan secara indah, dan diakhiri dengan puisi yang berwarna satire. Pementasan juga didukung dengan properti dan musik ilustrasi yang apik.
 


 
Satu adegan dari “Bayangan di Balik Tenda Dagang”
 
Penampilan dilanjutkan oleh Kelompok D dengan membawakan kisah yang berjudul “Dari Kopi Menuju Mimpi.” Inti ceritanya berbicara tentang mahasiswa yang berjuang untuk menutup kekurangan biaya pendidikan melalui usaha kecil jualan kopi, namun dihalang-halangi oleh warga sekitar. Kisah ini disajikan dengan memadukan monolog yang berisi keluhan-keluhan, konflik verbal yang keras, konflik fisik, diramu dengan suluk wayang, lagu yang menghibur dan musik ilustrasi yang pas.

 

 
Salah satu adegan dari “Dari Kopi Menuju Mimpi”

 
Kelompok B tampil di urutan keempat dengan mempersembahkan cerita “Tanah Tak Bertuan”.  Kisahnya menyangkut masyarakat kecil yang terdampak oleh proyek strategis nasional.  Sekelompok warga desa Kasalan dikejutkan oleh surat pembebasan tanah yang menjanjikan ganti  untung.  Mereka  berusaha  untuk  melawan  kebijakan, tetapi  harapan mereka pupus ketika kenyataan justru membawa mereka berbenturan dengan elite birokrasi yang lebih berpihak pada kepentingan kekuasaan. Kisah dari Kelompok B ini disajikan dengan dialog-dialog yang puitis dan mendalam, monolog yang menyayat hati, konflik-konflik yang disajikan secara verbal maupun gerakan-gerakan tubuh yang indah, dibumbui lagu daerah, dan diakhiri dengan lirik yang dilantunkan dengan irama lagu “Tanah Airku Indonesia.” Properti dan musik ilustrasi yang disusun secara rapih semakin menambah daya sentuh dari kisah ini.
 
Dengan berakhirnya kisah yang disajikan oleh Kelompok B, selesai pula rangkaian pementasan malam itu. Sebagai luapan kegembiraan atas suksesnya Pentas Tera 2025 ini, semua pemain bersama dosen pengampu dan pendamping menyanyikan theme song “Manusia-manusia Kuat”.  Meskipun Master Ceremony sudah menutup acara dengan doa, sebagian besar penonton masih antusias untuk tetap berada di tempat duduknya. Banyak dari mereka kemudian  mendekati para pemain yang berada di panggung untuk menyampaikan ucapan selamat, menyampaikan untaian bunga, dan meminta foto selfie. Keberhasilan pementasan ini juga berkat  kerja keras para peserta, Panitia yang melibatkan volunteer dari kakak tingkat serta alumni, dukungan dari Prodi Pendikkat-USD, Universitas Sanata Dharma, dan para sponsor.
 
Penulis sempat mencatat berbagai komentar dari para penonton. Mbak Tesa yang tahun lalu juga nonton pentas Teater Rakyat menyampaikan kesan bahwa pentas Tera kali ini “keren” banget, artikulasi dialog para pemain sudah lebih kuat. Beberapa penonton lainnya juga mengatakan bahwa mereka merasa terhibur sekaligus bisa menangkap pesannya dengan jelas. Sedangkan beberapa penonton lainnya berkesan bahwa cukup indah pementasannya, tetapi dari beberapa lokasi tempat duduk dialog para pemain kurang terdengar dengan jelas. Ada juga yang menyukai musik pengiringnya. Mereka ini semakin kagum setelah mengetahui bahwa musik ilustrasi baru didesain oleh pemusik bersama para sutradara tiga hari sebelum pentas. Ada juga penonton yang sesampainya di rumah menangis, karena hatinya tertohok oleh penampilan para mahasiswa dan merenungkan pesan-pesannya, sampai-sampai ia tidak bisa tidur semalaman. Mata hatinya terbuka atas realitas yang selama ini tidak ia sadari.  Sebagian penonton yang adalah alumni dan kakak tingkat juga menyampaikan kesan kepada penulis: “Wah …. Pentas Tera 2025  kerenn banget … kreatif.” Lain lagi kesan 15 Novis SJMJ. Tiga hari setelah nonton pentas, mereka retret di Jawa Barat. Menjelang masuk retret, mereka kompak melakukan Video Call dengan penulis: “Mo… Pentasnya kerenn ,,,, tidak rugi bahwa di akhir masa Novisiat kami bisa nonton pentas  teater kemarin. Dialog-dialognya tajam mendalam. Musiknya joss. Kami jadi pengin main seperti mereka.”  
 



 
Para Pemain bersama Dosen dan Pendamping

 
Dua hari setelah pentas, sebanyak 55 (84%) dari 65 mahasiswa menuliskan refleksinya. Kemudian para saat penutupan kuliah pada Rabu 28 Mei 2025 hasil refleksi tersebut disharingkan kepada anggota kelompoknya. Setelah itu, perwakilan dari kelompok menceritakan hasil sharing  kepada seluruh kelas. Intinya: meskipun proses teater ini amat melelahkan, mereka merasa lega, bangga, bersyukur dan bahagia. Kepercayaan diri mereka bertumbuh, mengalami pembebasan dari ketakutan,  kemampuan berkomunikasi berkembang, semakin mampu berkolaborasi dan bisa bertemu dengan kelompok masyarakat yang kurang mendapat perhatian.

Sebagai bahan renungan lebih lanjut bagi para mahasiswa yang telah berhasil mengakhiri matakuliah ini dengan apik, penulis menambahkan pernyataan mendiang Paus Fransiskus kepada para penyair,  penulis, penulis naskah, dan sutradara dari berbagai belahan dunia yang hadir dalam Konferensi “Estetika Global Imajinasi Katolik” yang disponsori oleh “La Cività Cattolica” dengan Universitas Georgetown pada 27 Mei 2023. Antara lain Paus menyatakan: “Anda para penyair, penulis, penulis naskah, sutradara, dan para seniman mempunyai inspirasi artistik tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga menggelisahkan, karena mampu menghadirkan realitas kehidupan yang indah dan tragis. Tugas Anda adalah menghidupkan hal-hal yang seringkali tidak dapat kami gambarkan. Oleh karena itu, jangan pernah berhenti menjadi orisinil dan kreatif, jangan pernah kehilangan keajaiban hidup. Kita membutuhkan kejeniusan bahasa baru, cerita dan gambar yang kuat, penulis, penyair, dan seniman yang mampu mewartakan kepada dunia pesan Injil, dan memungkinkan kita untuk melihat Yesus.”

Sebelum meninggal, Paus Fransiskus sempat menuliskan surat gembala untuk Hari Komunikasi se-Dunia ke 59 (Minggu 1 Juni 2025). Antara lain beliau berpesan agar “kita menjadi komunikator harapan yang bersedia mendengarkan dan tidak melupakan wajah-wajah konkrit.” (Peliput: Yoseph Ispuroyanto SJ).

Kembali