Berita
MENJADI RELIGIUS YANG KOMUNIKATIF: Pelatihan Public Speaking
16 Mei 2025

SAV USD - Selain pembentukan hidup rohani, selama masa pembinaan di novisiat para Suster Novis SJMJ juga memperoleh pelatihan dalam hal kemampuan berkomunikasi. Untuk ketiga kalinya Romo Yoseph Ispuroyanto Iswarahadi SJ selaku staf SAV-USD/LPPM dan dosen Pendikkat-USD diminta untuk mendampingi pelatihan Public Speaking bagi para Novis II SJMJ. Pelatihan diselenggarakan di Novisiat SJMJ Regina Coeli, Condrodiningratan, Yogyakarta pada tanggal 5 – 9 Mei 2025, pukul 07.30 – 15.30. Para pesertanya adalah 15 suster novis tahun ke-2 yang pada 7 Juni 2025 akan mengucapkan kaul pertama dan akan diutus ke medan karya.
Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan berbicara di depan umum. Kemampuan Public Speaking mesti dibina sejak muda, sehingga hari demi hari mereka semakin komunikatif dan siap menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi umat yang dipercayakan kepada mereka. “Setiap bangsa butuh pemimpin, setiap organisasi butuh pemimpin, juga setiap jiwa butuh pemimpin. Bagaimana orang bisa memimpin hal yang lebih tinggi jika ia tidak bisa memimpin dirinya sendiri dalam berkomunikasi? Dengan menumbuhkan rasa percaya diri, Anda siap menerima hal yang lebih besar.” (Margantoro, J.B. Masyarakat Berkomunikasi, 2008:211).

Penjelasan Teori oleh Pendamping
Materi yang dilatihkan selama sepekan adalah ekspresi melalui bahasa foto, berpidato, berpuisi, berkotbah, dan merancang modul sebuah pertemuan bertitik tolak dari media (Group Media). Selama proses pelatihan, tutor pendamping secara garis besar memberikan teori dan prinsip-prinsip dasar berbicara di depan umum. Kemudian sebagian besar waktu dipakai untuk membuat persiapan dan praktik. Setiap peserta diberi tugas untuk tampil dan setiap peserta mendapat pendampingan saat persiapan dan evaluasi dari pendamping satu per satu.
Pada hari pertama, mereka berlatih berekspresi diri berdasarkan bahasa foto. Ada puluhan foto yang digelar di lantai dan setiap peserta wajib memilih satu foto/gambar yang paling mengesan dan berkaitan dengan pengalaman hidupnya. Kemudian satu per satu mengekspresikan diri, kemudian mendapat komentar dari pendamping tentang sejauh mana para peserta telah menerapkan prinsip-prinsip dasar public speaking. Penampilan pertama ini sungguh menentukan. Kepercayaan diri semakin tumbuh dan menjadi landasan untuk tugas berikutnya. Bahasa foto/visual memang menyentuh perasaan, mengingatkan mereka akan pengalaman eksistensial dan membantu mereka untuk membagikan pengalaman itu kepada orang lain sambil menunjukkan foto yang dipilih.
![]() |
![]() |
Ekspresi diri lewat bahasa foto
Pada hari kedua, para peserta diberi tugas untuk menyiapkan materi pidato. Ada 4 tema besar yang bisa diolah, yaitu iman dan hidup religius, kemiskinan, tantangan hidup orang muda, dan lingkungan hidup. Pendamping memberikan teori dasar berpidato dan contoh naskah pidato. Selebihnya, para peserta menyusun pidato dengan menggunakan referensi dari perpustakaan maupun internet. Satu per satu peserta berkonsultasi dengan pendamping. Masing-masing berpidato di depan kelas dan mendapat evaluasi dari pendamping. Setelah itu, mereka berefleksi tentang manfaat dari dari latihan berpidato ini. Latihan ini dirasakan sungguh membekali kemampuan untuk mengutarakan gagasan di depan umum dengan struktur yang jelas. Mereka dapat mengatasi kebuntuan gagasan. Mereka merasa lega setelah bisa menuangkan gagasan dalam teks pidato dan membawakannya di depan umum. Bisa berkomunikasi itu membebaskan.
![]() |
![]() |
Praktik Berpidato
Pada hari ketiga, setelah diberi pengantar dan contoh oleh pendamping, para peserta menulis puisi dan masing-masing mengekspresikannya di depan peserta yang lain. Saat melakukan tugas menulis puisi, para peserta sudah semakin percaya diri dan mereka sangat kreatif dalam menulis puisi dan pada saat mengekspresikannya. Lain dengan penampilan pidato, ekspresi puisi dilengkapi dengan musik pengiring, properti, dan pilihan tempat sesuai tema yang dibawakan. Kebanyakan dari mereka mengangkat tema relasi dengan orang tua, alam, dan pengalaman iman. Latihan berpuisi ini membuat mereka semakin terbebas dari belenggu ketakutan dan ketidakpercayaan diri.
Pada hari keempat, para peserta mendapat tugas yang lebih sulit, yaitu menyiapkan dan menyampaikan homili berdasarkan kalender liturgi tanggal 9 s.d. 24 Mei 2025. Ketika para peserta menjalani novisiat tahun pertama, mereka sudah pernah mendapat latihan berkotbah, tetapi belum mendalam. Pengkotbah harus yakin akan pesan yang diperoleh dari teks Kitab Suci, lalu harus ada referensi yang memperkuat pesan dan disampaikan dengan cara yang komunikatif. Persiapan kotbah dikoreksi beberapa kali oleh pendamping. Ketika maskahnya sudah matang, baru boleh dipraktikkan. Sebagian besar peserta pada mulanya mengeluh: “Romo, kok sulit ya prosesnya?” Selama ini mereka terbiasa menyampaikan homili berdasarkan ide spontan. Biasanya, ide yang mereka miliki lalu dibungkus dengan ayat-ayat kitab suci. Kali ini tuntutannya lebih berat. Persiapannya lebih serius, sistematis dan mendalam. Para peserta harus mendengarkan teks sungguh-sungguh, agar mendapatkan pesan pokok dengan melihat konteksnya, lalu mencari referensi dan ilustrasi. Tidak heran, bahwa beberapa peserta menyiapkan homili sampai dini hari. Setelah selesai praktik, mereka mensyukuri proses berat yang telah dilalui. Ini adalah tugas yang berat, sekaligus tugas yang memberi pengalaman indah bagi mereka. Ada pengetahuan dan pengalaman baru yang memperkaya.

Praktik Berpuisi
Pada hari kelima, para peserta mendapat materi tambahan, yaitu apresiasi film dan menyiapkan modul katekese audio-visual untuk PIA (Pendampingan Iman Anak-anak) dan PIR (Pendampingan Iman Remaja). Film utama yang menjadi bahan apresiasi adalah film layar lebar “Soegija” produksi Studio Audio Visual (Puskat Pictures, 2012). Para Novis belum pernah menonton film ini. Film in berkisah tentang Mgr. Soegijapranata SJ yang berperan besar dalam membangkitkan semangat nasionalisme di Indonesia. Para Novis sangat menikmati film ini. Film yang dipakai untuk membuat modul katekese audio visual (group media) adalah video “Sakramen Imamat” yang diambil dari paket video “7 Sakramen Gereja” produksi KWI dan SAV Puskat 2015. Setelah mengapresiasi film-film tersebut, setiap peserta dibimbing untuk menyiapkan modul katekese audio-visual berdasarkan teori group media. Awalnya, tugas ini tidak mudah, tetapi setelah didampingi, mereka juga bisa menghasilkan modul katekese audio-visual berdasarkan film yang telah dipelajari. Mereka sangat bersyukur mendapatkan materi ini, karena sangat aplikatif untuk tugas-tugas mereka setelah lulus dari novisiat ini.
Dalam acara evaluasi dan penutupan, para novis mengungkapkan kesan mereka mengikuti pelatihan Public Speaking ini. Semua menilai bahwa pelatihan ini sangat menyenangkan dan sangat berguna. Mereka merasa sungguh-sungguh dibekali dengan ketrampilan dasar untuk berkomunikasi. Dalam sambutan penutupan pelatihan Sr. Paulina SJMJ (Co-Magistra) yang didampingi Sr. Sisilia SJMJ (Magistra) mengatakan bahwa para novis sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini dan memperoleh banyak bekal yang berguna untuk perutusan mereka. Sr. Paulina SJMJ dan Sr. Sisilia SJMJ juga berterimakasih karena Universitas Sanata Dharma mengijinkan Romo Yoseph Ispuroyanto SJ untuk mengampu pelatihan ini selama 5 hari dan mendampingi para novis dengan setia. Setelah mengucapkan kaul pada 7 Juni 2025, para novis akan disebar ke berbagai penjuru tanah air untuk melayani umat. Mereka akan berangkat dengan lebih percaya diri berbekal kemampuan berkomunikasi yang telah ditempa selama di novisiat. Mohon doa. (Peliput: Yoseph Ispuroyanto Iswarahadi SJ).
***
Kembali- PEMBINAAN SPIRITUALITAS Mahasiswa Pendikkat Semester V – Universitas Sanata Dharma Nobar dan Diskusi Film “BLDTR”
- Membaca Kebijaksanaan Kitab Suci di Tengah Tantangan Zaman: Pengabdian Bernadus Dirgaprimawan, S.J. di Loyola School of Theology
- Sambut Tahun Ajaran Baru, SDU Press Gelar Pameran Buku "Inquisitive 2026: Unlock Your Next Chapter”
- MEDIA DAN SPIRITUALITAS Nobar dan Diskusi Film “Bunga Lily di Taman Revolusi” Di Studio Audio Visual – Universitas Sanata Dharma
- “MEMBELA SUARA DAN JERITAN WAJAH-WAJAH YANG TERPINGGIRKAN” Festival Teater Rakyat Perdikkati 2026
- Upaya Pemberdayaan Desa Wisata Blue Lagoon, Menyelamatkan Surga Tersembunyi.
- Wujud Kepedulian kepada KLMTD, Paroki Minomartani Salurkan Berbagai Bantuan
- Pendampingan Penyesuaian dan Pengembangan Instrumen Tracer Study dan Instrumen E-Survey di Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Palembang
- Olimpiade SD Kembali Menyapa Muara Wahau: Kolaborasi Universitas Sanata Dharma dan PT DSN Group
- Serah Terima Jabatan Pejabat Struktural LPPM, P2B, dan Sentra HKI: Menguatkan Komitmen Kolaborasi untuk Riset dan Pengabdian yang Berdampak



