Berita

SAV USD - RAPAT ANGGOTA SIGNIS INDONESIA KE-50

05 Juli 2024

Ruteng, 24-28 Juni 2024, Studio Audio Visual (SAV) – Universitas Sanata Dharma yang diwakili oleh Romo Yoseph Ispuroyanto SJ menghadiri Rapat Anggota SIGNIS Indonesia Ke-50 di Rumah Retret Maria Bunda Karmel, Ruteng pada 24-28 Juni 2024. Apa dan siapa itu SIGNIS Indonesia?

Sebagaimana tercantum dalam Mukadimah Anggaran Dasar SIGNIS Indonesia (2022), SIGNIS adalah asosiasi Katolik tingkat dunia untuk komunikasi yang diakui oleh Vatikan dan secara khusus dikoordinasi oleh Komisi Komunikasi Sosial Kepausan. SIGNIS terdiri atas 6 (enam) regio, yaitu Afrika dan Kepulauan di Samudra India; Asia, Eropa dan Timur Tengah, Amerika Latin dan Karibia, Amerika Utara (USA dan Canada) serta satu Anggota Internasional. SIGNIS lahir dari gerakan kaum awam Katolik di Eropa yang terhimpun dalam UCIP (International Catholic Union of Press) tahun 1927; OCIC (International Catholic Organization for Cinema and Audiovisual) tahun 1928 dan UNDA (International Catholic Association for Radio and Television) tahun 1946. Pada bulan November 2001 OCIC dan UNDA bergabung menjadi SIGNIS. Kemudian pada Juni 2017 SIGNIS menerima anggota yang sebelumnya bergabung dalam UCIP.

Perserta Rapat Anggota SIGNIS Indonesiadi depan Katedral Ruteng

UNDA-OCIC Indonesia (yang kemudian bernama SIGNIS Indonesia) berdiri pada tahun 1974. Salah satu pendirinya adalah Studio Audio Visual (SAV) Puskat yang pada 2021 ditutup dan diintegrasikan ke dalam Universitas Sanata Dharma menjadi SAV-USD. Dengan sendirinya SAV Puskat berhenti menjadi Anggota SIGNIS pada 2021. Setelah mendapatkan rekomendasi dari Ketua LPPM - Universitas Sanata Dharma, Unit Pengembangan Pastoral Komunikasi KAS (UPPKKAS/Komsos KAS), dua Anggota SIGNIS lainnya, dan Uskup Keuskupan Agung Semarang, SAV-USD diterima sebagai Anggota SIGNIS Indonesia dalam Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke- 49 di Tana Toraja, Sulawesi Selatan pada 30 Mei – 4 Juni 2023. Dalam tahun 2024 ini ada 32 Anggota SIGNIS Indonesia yang terdiri dari lembaga-lembaga media Katolik independen, Komsos-Komsos Keuskupan dan Anggota Perorangan.

SIGNIS berasal dari kata Latin ‘signum’ artinya ‘tanda’. SIGNIS berarti “dari tanda dalam tanda dan oleh tanda.” Asosiasi diberi nama SIGNIS, karena para komunitator adalah pencipta tanda keselamatan bagi manusia. Dengan selalu memerhatikan tanda-tanda zaman dan mencermati transformasi kebudayaan, para Anggota SIGNIS berkehendak membangun asosiasi yang melalui media komunikasi memberi sumbangan kepada perkembangan manusia yang otentik dengan tidak merusak identitas budaya, serta tanpa diskriminasi ras, gender, agama, status sosial dan afiliasi politik. SIGNIS Indonesia berkiprah dalam bidang audiovisual, teater, radio, film, televisi, informatika dan media-media baru.

Misa Pembukaan Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke-50

Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke-50 mengangkat tema “Media dan Pastoral Ekologi Integral: Jalan Bersama Membangun Alam Ciptaan yang Utuh dan Harmonis.” Rapat ini dibuka dengan Ekaristi yang dipimpin oleh Ketua Komsos KWI (Mgr. Kornelius Sipayung OFM.Cap.), didampingi oleh Ketua SIGNIS Indonesia (Rm. Steven Lalu Pr, kanan) dan Vikjen Keuskupan Ruteng (Rm. Alfons Sekar Pr, kiri) pada Senin 24 Juni 2024 pukul 18.00. Dalam homilinya Mgr. Kornelius menegaskan bahwa tugas anggota SIGNIS adalah menjadi saksi kasih Tuhan dan mewartakannya melalui karya media secara bertanggungjawab, serta memperjuangkan keadilan dengan membela mereka yang lemah (voice of the voiceless).

Setelah Ekaristi, diadakan acara pembukaan Rapat Anggota SIGNIS Indonesia secara formal. Dalam kata sambutannya, Vikjend Keuskupan Ruteng (Rm. Alfons Sekar Pr) bercerita tentang usaha umat Keuskupan Ruteng untuk melestarikan lingkungan hidup. Untuk mewujudkan Pastoral Ekologi Integral digalakkan katekese umat dan katekese sekolah dengan fokus pada masalah lingkungan hidup. Keuskupan juga berkolaborasi dengan pemerintah untuk menyediakan bibit tanaman bagi semua paroki dan sekolah-sekolah dalam rangka penghijauan. Selain itu, diadakan pula berbagai festival budaya dan ekologi. Peran Komsos Keuskupan Ruteng adalah mengintegrasikan keprihatinan tentang lingkungan hidup dalam program-programnya.

Pada hari kedua diselenggarakan Hari Studi untuk mendiskusikan dan merefleksikan tema Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke 50 “Media dan Pastoral Ekologi Integral: Jalan Bersama untuk Membangun Alam yang Utuh dan Harmonis.” Hari Studi ini dihadiri juga oleh perwakilan paroki-paroki dari kota Ruteng dan beberapa biara. Mgr. Kornelius sebagai keynote speaker mengingatkan bahwa Paus Fransiskus telah menerbitkan ensiklik Laudato Si (2015) yang menyerukan agar umat manusia memelihara alam sebagai rumah kita bersama. Paus sangat prihatin atas kerusakan alam semesta yang masif. Mengingat bahwa seruannya dalam Laudato Si kurang mendapatkan tanggapan yang serius dari seluruh dunia, Paus Frasiskus menerbitkan sebuah anjuran apostolik dengan judul Laudate Deum (2023) yang mengingatkan bahwa krisis lingkungan hidup sudah sangat mendesak. Perlu kolaborasi nyata dari seluruh dunia. Oleh karena itu, Mgr. Kornelius mengajukan satu pertanyaan: “Apa yang bisa dilakukan agar tema yang dicanangkan ini dapat menjadi nyata?”

Narasumber utama untuk Hari Studi ini adalah Rm. Stanislaus (Dosen Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng) dan Rm. Beben (Karitas, Keuskupan Ruteng). Rm. Stanislaus memaparkan “Program Tahun Ekologi Integral: Harmoni, Pedagogis dan Sejahtera” yang dijalankan oleh Keuskupan Ruteng. Sedangkan Rm. Beben menyajikan “Pengembangan Pastoral 3 M: Melihat – Menilai – Memutuskan.” Sebagian besar peserta sangat terkesan dengan program pastoral ekologi integral yang sedang dijalankan oleh Keuskupan Ruteng. Programnya sangat sistematis, kegiatannya konkrit, jaringan kolaborasinya jelas, dan terukur. Ada moniotoring secara bertahap. Semua paroki, sekolah, dan biara-biara mewujudkan program tersebut dengan kompak. Program Pastoral Ekologis Integral ini menjadi contoh yang baik bagaimana jemaat menanggapi seruan Paus Fransiskus melalui Laudato Si dan Laudate Deum. Begitu selesai Hari Studi, langsung diadakan kegiatan simbolis penanaman pohon di komplek Rumah Retret Maria Bunda Karmel oleh Ketua Komsos KWI, Ketua SIGNIS Indonesia dan Vikjen Keuskupan Ruteng.

Kegiatan Hari Studi

Agenda rapat hari ketiga dan keempat adalah laporan karya, ekskursi dan pembicaraan terkait masalah internal asosiasi. Tempat untuk ekskursi dipilih sesuai dengan tema rapat, yaitu Sawah Jaring Laba-laba di Cancar dan Kampung Adat Todo. Tempat pertama yang dikunjungi adalah Sawah Jaring Laba-laba di Cancar yang letaknya 20 km dari Ruteng. Untuk melihat pemandangan indah penuh filosofi ini para peserta harus mendaki bukit dengan menapaki 250 tangga dari tanah dan batu. Menurut seorang pemandu, pemandangan sawah dengan bentuk jaring laba-laba ini merupakan satu-satunya situs di dunia. Sawah seperti ini adalah bagian dari sistem pembagian lahan sawah oleh leluhur Manggarai yang dilakukan secara terpusat. Titik nolnya berada di tengah-tengah lahan ulayat yang akan dibagi-bagi. Memang, pemandangannya sangat indah dan menggambarkan kekayaan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang.

Sawah Jaring Laba-laba di Cancar

Tempat kedua yang dikunjungi adalah Kampung Adat Todo. Kampung Adat Todo merupakan salah satu perkampungan adat yang ada di daratan Flores, tepatnya di Kampung Adat Todo, Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai. Tempat ini, menurut pemandu, diyakini sebagai pusat pemerintahan kerajaan Manggarai pada masa lalu. Kurang lebih selama 1 jam dari Cancar beberapa mobil beriring-iringan mengantarkan para peserta ke Kampung Adat Todo ini. Perjalanannya naik turun gunung, melewati tebing-tebing yang curam. Udara cukup sejuk, tetapi saat itu berkabut tebal. Untuk memasuki rumah adat (Niang Todo) para pengunjung harus mengenakan pakaian adat. Niang Todo adalah sebuah rumah adat yang menyerupai rumah panggung dengan bentuk bundar, serta beratap jerami berbentuk kerucut yang diketahui dulu sebagai istana Raja Todo. Niang Todo, menurut Tetua Adat (Bp. Agustinus), menjadi simbol kesatuan dan kerukunan masyarakat Manggarai serta kerhamonisan hubungan manusia dengan alam semesta. Kunjungan di Kampung Todo tidak lama, tetapi sudah cukup untuk memulihkan kesegaran dari kepenatan rapat berjam-jam.

Niang Todo  Di ruang dalam Niang Todo


Dari proses Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke-50 ini dapat dipetik beberapa hal yang berharga, antara lain:
a) Setiap Anggota SIGNIS wajib menggalakkan advokasi pemeliharaan lingkungan hidup melalui media komunikasi dan berjejaring dengan lembaga-lembaga lain baik di dalam maupun di luar Gereja.
b) Kesadaran atas pentingnya karya media komunikasi dan perlunya membangun jejaring tingkat nasional/internasional semakin meningkat. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya Komsos Keuskupan yang menjadi Anggota SIGNIS Indonesia. Yang bergabung diterima sebagai Anggota SIGNIS dalam rapat ini adalah Komsos Keuskupan Amboina dan Komsos Keuskupan Timika.
c) Selain berpastoral melalui audiovisual, sebagian besar Anggota SIGNIS sudah berpastoral melalui media digital. Sebagian besar Anggota SIGNIS Indonesia sekarang ini adalah orang-orang muda. Meskipun demikian, pelayanan melalui media tradisional masih tetap relevan untuk dilakukan di daerah-daerah yang belum masuk dalam ranah digital seperti Keuskupan Agat.
d) Seiring semakin menipisnya dana yang tersedia di Propaganda Fide, setiap Anggota SIGNIS dituntut untuk semakin mandiri secara finansial. Mulai 2024 ini, SIGNIS tidak lagi menjadi asosiasi yang menampung proposal dana untuk dikirim ke Propaganda Fide. Pengajuan proposal dana kepada Propaganda Fide dikirim melalui keuskupan masing-masing dan tergantung kebijaksanaan keuskupan yang bersangkutan. Dana dari Propaganda Fide ke keuskupan-keuskupan di seluruh dunia juga sudah tidak melimpah lagi. SIGNIS Indonesia masih bisa memberi rekomendasi sebelum dikirim ke keuskupan masing-masing. Bila dana dikabulkan, Anggota yang bersangkutan wajib menyumbangkan dana ke SIGNIS Indonesia sebesar 3,5% yang dihitung dari besarnya grant yang diterima.


Suasana Rapat Anggota SIGNIS Indonesiake-50

e) Untuk menyongsong kedatangan Paus Fransiskus ke Indonesia pada 3-6 September 2024, setiap Anggota SIGNIS diminta untuk membuat program-program yang bisa memompa semangat umat atau warga negara menyambut kunjungan Paus. SIGNIS Indonesia Regio Jawa merencanakan 6 seri video Papa Journey Short Projects. SAV-USD mendapat jatah membuat dua naskah berdasarkan inspirasi dari Laudato Si dan Fratelli Tuti. Naskah untuk biografi Paus Fransiskus disiapkan oleh UPPKKAS (Komsos KAS), Evangelii Gaudium dan Kebijaksanaan Hati disiapkan oleh Komsos Keuskupan Purwokerto. Eksekusi program ini dilakukan di Bandung dalam pertengahan Juli 2024 oleh Komsos Keuskupan Agung Jakarta, Komsos Keuskupan Bandung dan Komsos Keuskupan Purwokerto. Proyek ini dibiayai dengan dana proyek nasional SIGNIS Indonesia sebesar Rp 12 juta. Program akan ditayangkan melalui berbagai platform mulai awal September 2024 sampai berakhirnya kunjungan Paus.
f) SAV-USD adalah satu-satunya Anggota SIGNIS Indonesia yang melekat pada institusi pendidikan tinggi, Universitas Sanata Dharma. Diharapkan SAV-USD dapat menyumbang SIGNIS dalam aspek penelitian media komunikasi yang kurang mendapat perhatian dari anggota yang lain.

Peserta Rapat SIGNIS Indonesia di depan Niang Todo

Rapat Anggota SIGNIS Indonesia ke-50 ditutup dengan misa kudus yang dipimpin oleh Ketua SIGNIS Indonesia pada Jumat 24 Juni 2024 pukul 05.30 WITA. Setelah itu, para peserta rapat meninggalkan Rumah Retret Maria Bunda Karmel yang sejuk dan indah menuju tempat asalnya masing-masing. Para Anggota mendapat semangat baru untuk melanjutkan karya media sampai berjumpa lagi dalam rapat berikutnya di Palembang, tgl. 17-21 Februari 2025. (Peliput: Yoseph Ispuroyanto SJ).

***

Kembali