Berita

VOICE OF THE VOICELESS Pentas Teater Rakyat 2024

12 Juni 2024

Pada Jumat, 7 Juni 2024 pukul 18.30 – 23.00 telah diselenggarakan Pentas Teater Rakyat di Kampus V, Universitas Sanata Dharma dengan tema “Voice of the Voiceless” atau “Suara dari Mereka yang Tak Bersuara”.  Pementasan ini dihadiri oleh Wakil Rektor III, USD (Ibu Titik Kristiani), Bimas Katolik DIY (Bp. Christophorus), dan Kaprodi Pedikkat-USD (Romo Rukiyanto SJ), Koordinator PT Praksisi Mengajar USD (Ibu Luisa Diana Handoyo), para Dosen, dan 500-an penonton berbayar.
 

 
 
Sejak 1985, Teater Rakyat telah mewarnai atau  menjadi salah satu kekhasan dari Kampus V, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, Universitas Sanata Dharma atau yang dulu bernama Sekolah Tinggi Kateketik Pradnyawidya. Pentas Teater Rakyat merupakan puncak dari rangkaian pelatihan dalam mata kuliah “Public Speaking dan Teater” yang pengampunya selama 40 tahun terakhir ini selalu dari Studio Audio Visual (Puskat/USD). Kebetulan tahun ini matakuliah “Public Speaking dan Teater” lolos seleksi  menjadi bagian dari Program Praktisi Mengajar yang diselenggarakan oleh Dikti.
 
Sebanyak 73 orang, sebagian besar mahasiswa Semester IV dan sebagian kecil dari Semester  VI, Prodi Pendidikan Keagamaan Katolik, dengan antusias mengikuti rangkaian pelatihan “public speaking dan teater” sejak pertengahan Februari – 7 Juni 2024. Setiap hari Jumat sore selama 2 jam diadakan pelatihan di bawah asuhan  Romo Yoseph Ispuroyanto SJ (Dosen Pengampu) dan Emmanuel Cahyo Kristianto (Pelatih/Dosen Praktisi Mengajar). Sesi Analisis Sosial diampu oleh Rm. Setyawan SJ. Sedangkan Rm. Murti Hadi Wijayanto SJ mengisi sesi penyusunan naskah teater. Selama satu semester ada  16 kali pertemuan formal (belum termasuk survai lapangan, usaha pencarian dana, persiapan panggung, dan latihan-latihan menjelang pentas).
 
 Peserta Teater Rakyat 2024

 
Melalui latihan berbicara di depan umum (bahasa foto, puisi) dan berteater, mahasiswa makin mengenal bahwa teater merupakan seni pertunjukan yang memadukan berbagai potensi diri (jiwa, raga dan roh). Latihan ini diproses secara bertahap dari pemahaman mengenai teori public speaking dan teater, olah tubuh, olah vokal, olah bentuk,  olah emosi dan konflik, dramatisasi puisi, analisis sosial, survai lapangan, penyusunan naskah teater, dan latihan-latihan pentas. Melalui latihan-latihan selama semester ini, para mahasiswa belajar memeluk “jalan keindahan” sebagai  metode pewartaan. Dalam kata sambutannya, Bp. Christoporus dari Bimas Katolik DIY menegaskan pentingnya seorang guru agama/katekis mempunyai ketrampilan lain selain menjadi guru. Misalnya, bisa main drama atau membuat video.   
 
Mengapa teater yang dilatihkan di Kampus V ini disebut Teater Rakyat? Dalam kata sambutan menjelang pementasan, Romo Yoseph Ispuroyanto SJ menerangkan bahwa teater yang dilatihkan di Pendikkat berorientasi kerakyatan, maka sering disebut teater rakyat. Dasar biblis dari Teater Rakyat ini adalah “Magnificat Maria” (Luk. 1:46-56). Di dalam Magnificat Maria ada kerinduan dan perjuangan akan keadilan dan kebenaran. Oleh sebab itu, materi berteater pun  langsung terkait dengan kehidupan dan persoalan rakyat. Orientasi kerakyatan ini juga disebut oleh Romo Rukiyanto SJ dalam kata sambutannya selaku Kaprodi Pendikkat USD.
 
Sementara itu, Wakil Rektor III USD (Ibu Titik Kristiani) dalam kata sambutanya menekankan aspek pertumbuhan mahasiswa dengan adanya kegiatan ini. Dengan latihan tersebut diharapkan kemampuan berkomunikasi dari para mahasiswa berkembang (BERTUMBUH), berani menciptakan hal-hal yang indah (BERKREASI), dan sikap keberpihakan kepada masyarakat yang terpinggirkan pun semakin muncul (PEDULI). Betumbuh – Berkreasi – Peduli. Lebih lanjut, Ibu Titik Kristiani mengharapkan agar kepedulian terhadap mereka yang tak bersuara ini diwujudkan dalam tindakan nyata, tidak hanya berhenti dalam pementasan ini.
 
Selaku pengampu matakuliah ini, Romo Yoseph Ispuroyanto SJ menambahkan bahwa Teater Rakyat merupakan ruang perjumpaan para pencari dan penyuara kebenaran. Teater Rakyat adalah medium penyaji tema yang dapat menjadi bahan permenungan bersama, tidak hanya di antara para pemain, tetapi juga bersama para hadirin yang menyaksikan kisah-kisah yang dipentaskan. “Voice of the Voiceless” atau “Suara dari Mereka yang Tak Bersuara”, itulah tema yang diangkat dalam pentas ini. Para mahasiswa menyusun cerita bukan dari balik meja, melainkan berdasarkan pengalaman berjumpa secara langsung dengan masyarakat kebanyakan di sekitar kota Yogyakarta ini: para pengemudi kendaraan tradisional di tengah persaingan dengan transportasi modern, para pemulung dan petugas  sampah di kota,  tukang parkir dan para preman sebagai bagian dari dunia pariwisata, dan  manusia jalanan.  Berdasarkan hasil survai tersebut, selama 3 minggu terakhir empat kelompok menyiapkan pementasan bersama dosen pengampu dan dosen praktisi, serta didampingi oleh kakak-kakak tingkat seperti Zerico, Albert, Chelsie, dan Hedwigis. 
 
Ada 4 cerita yang ditampilkan secara berurutan: Dunia Wolak-Walik (Kelompok C), Sampah Kota - Kota Sampah (Kelompok D), Numpak Opo? (Kelompok A) dan Balada Anak Jalanan (Kelompok B). Para mahasiswa tampil dengan totalitas, menyajikan masalah-masalah sosial secara menarik dan segar. Memang masih ada kekurangan di sana sini seperti kadang-kadang ada ucapan yang tidak terdengar, ada ungkapan-ungkapan bahasa Jawa yang kurang dimengerti, dan tim lighting yang kurang cekatan. Iringan musik bagus, tetapi kadang-kadang terlalu keras.


 
Dunia Wolak Walik  
 

  Sampah Kota, Kota Sampah
 
Numpak Opo?  
 
  Balada Anak Jalanan

 
Pementasan yang didukung dan disponsori oleh USD, PT Kanisius, Bimas Katolik DIY, Suster CB, dan PT Pulau Intan Lestari ini berlangsung cukup lama, sampai pukul 23.00. Hal ini disebabkan oleh selingan antar pementasan berupa pembagian door prize yang cukup banyak. Meskipun demikian, sebagian besar penonton tetap antusias terus nonton sampai di ujung acara. Sebagai luapan kegembiraan atas suksesnya Pentas Tera 2024 ini, semua pemain menyanyikan theme song “Rumah Kita”.  Keberhasilan pementasan ini juga berkat kerja keras mati-matian dari Panitia yang melibatkan volunteer dari kakak tingkat dan alumni.
 
 
Nyanyi Bersama:   “Rumah Kita”

Seandainya Paus Fransiskus ikut nonton, mungkin beliau akan  berkata kepada para pemain teater ini dengan pesan yang pernah beliau ungkapkan dalam Konferensi “Estetika Globar Imajinasi Katolik” yang disponsori oleh La Vita Cattolica dan Universitas Georgetown pada 23 Mei 2023: “Tugas Anda adalah menghidupkan hal-hal yang seringkali tidak dapat kami gambarkan. Jangan pernah berhenti menjadi orisinil dan kreatif, jangan pernah kehilangan keajaiban hidup. Kita membutuhkan kejeniusan bahasa baru, cerita dan gambar yang kuat, penulis, penyair, dan seniman yang mampu mewartakan kepada dunia pesan Injil, dan memungkinkan kita untuk melihat Yesus.” 
 
(Peliput: Yoseph Ispuroyanto SJ).

 

Kembali