Berita

Lokakarya Pembaruan Kurikulum ke-6 Fakultas Sastra USD: Menegaskan Teori-Teori Kritis dan Digital Humanities sebagai Mata Kuliah Penciri

20-04-2026 07:59:58 WIB

Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) kembali melanjutkan rangkaian kegiatan pembaruan Kurikulum 2026 melalui penyelenggaraan lokakarya bertajuk “Teori-teori Kritis dan Digital Humanities sebagai Mata Kuliah Penciri Fakultas Sastra USD.” Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 20 April 2026 di Ruang S203 Gedung Fakultas Sastra dan dihadiri oleh sekitar 30 dosen dari empat program studi, yakni Sastra Indonesia, Sastra Inggris, Sejarah, dan Magister Sastra.

Lokakarya ini merupakan bagian ke-6 dari rangkaian kegiatan pembaruan kurikulum yang dirancang secara sistematis dan berkelanjutan. Kegiatan dimoderatori oleh Dr. Tatang Iskarna dan menghadirkan dua narasumber utama, yaitu Prof. Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum. yang memaparkan materi tentang Teori-Teori Kritis, serta F.X. Risang Baskara, Ph.D. yang membahas Digital Humanities.



Dalam pemaparannya, Prof. Yoseph Yapi Taum menegaskan bahwa penetapan Teori-Teori Kritis sebagai mata kuliah penciri bukan sekadar perubahan nomenklatur, melainkan merupakan langkah strategis untuk memperluas dan memperdalam paradigma keilmuan Fakultas Sastra. Teori-teori kritis dipandang sebagai fondasi filosofis yang memungkinkan mahasiswa membongkar relasi kuasa, ideologi, dan struktur sosial yang tersembunyi dalam teks dan praktik budaya. Pergeseran ini juga menjadi respons atas keterbatasan pendekatan Cultural Studies yang selama lebih dari satu dekade menjadi payung kajian fakultas.



Sementara itu, F.X. Risang Baskara, Ph.D. dalam sesi Digital Humanities menekankan pentingnya memahami teknologi digital bukan sekadar sebagai alat, tetapi sebagai realitas yang membentuk pengalaman manusia kontemporer. Mata kuliah ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan analitis-kritis terhadap fenomena digital, termasuk peran data, algoritma, dan kecerdasan buatan dalam membentuk realitas sosial dan budaya. Selain itu, mahasiswa juga diarahkan untuk mampu menghasilkan proyek berbasis digital secara kritis dan etis, seperti analisis data teks, arsip digital, hingga pembuatan narasi berbasis platform digital.

Secara konseptual, kedua mata kuliah ini saling melengkapi dalam membentuk identitas akademik Fakultas Sastra USD. Teori-Teori Kritis memberikan landasan filosofis dan epistemologis untuk membaca dan mengkritisi realitas, sedangkan Digital Humanities menyediakan ruang praksis untuk mengoperasionalkan kritik tersebut dalam konteks dunia digital yang semakin kompleks. Integrasi keduanya juga mencerminkan arah baru kurikulum yang bersifat transdisipliner dan responsif terhadap perkembangan era poshumanisme, di mana relasi manusia, teknologi, dan data menjadi semakin erat dan tak terpisahkan.

Lokakarya ini tidak hanya menjadi forum penyampaian gagasan, tetapi juga menjadi ruang brainstorming dan dialog akademik antar dosen. Para peserta secara aktif memberikan masukan, kritik, dan saran terhadap draft silabus dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) kedua mata kuliah tersebut. Diskusi yang berkembang mencakup aspek substansi materi, pendekatan pedagogis, hingga relevansi capaian pembelajaran dengan kebutuhan mahasiswa di era digital dan tantangan global.

Melalui kegiatan ini, Fakultas Sastra USD menegaskan komitmennya untuk menghadirkan kurikulum yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan zaman, tetapi juga tetap berakar pada nilai-nilai humaniora yang kritis, kreatif, dan humanis. Pembaruan kurikulum ini diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memahami teks dan budaya, tetapi juga mampu membaca, mengkritisi, dan mentransformasi realitas sosial di tengah lanskap digital yang terus berkembang. (Tti)

Kembali