Berita
Mewujudkan Kampus Inklusif bagi Mahasiswa Disabilitas: Sosialisasi dan Pelatihan Pendidikan Inklusif bagi Dosen dan Tendik Fakultas Sastra
17-06-2025 08:20:04 WIB
Komitmen Fakultas Sastra USD dalam menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang inklusif kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan sosialisasi dan pelatihan bertajuk “Mewujudkan Kampus Inklusif: Strategi dan Praktik Akomodasi yang Layak untuk Mahasiswa Disabilitas”. Acara ini diselenggarakan oleh Fakultas Sastra USD bekerja sama dengan Pusat Studi Individu Berkebutuhan Khusus (PSIBK) pada Selasa, 17 Juni 2025, bertempat di Ruang S303, Gedung Fakultas Sastra. Kegiatan ini menghadirkan Dr. Jamil Suprihatiningrum, S.Pd.Si., M.Pd.Si., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai narasumber utama dan Dr. Sukinah, M.Pd. dosen Pendidikan Luar Biasa FIP Universitas Negeri Yogyakarta. Menurut Dekan Fakultas Sastra Dr. Yosep Yapi Taum, M.Hum. kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas dosen dan tenaga kependidikan dalam merancang serta melaksanakan pembelajaran yang inklusif dan adaptif bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Pendidikan inklusif dipahami bukan sekadar sebagai kewajiban formal, melainkan sebagai bentuk nyata penghormatan terhadap martabat manusia dan keadilan sosial. Acara ini dibuka secara resmi oleh Wakil Rektor I Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D.
Dalam sesi utama, Dr. Jamil Suprihatiningrum menyampaikan materi komprehensif bertajuk Adaptasi Pembelajaran dan Akomodasi yang Layak untuk Mahasiswa Difabel. Beliau mengawali dengan menjelaskan pengertian dasar pendidikan inklusif sebagai bentuk pengakuan terhadap disabilitas bukan semata-mata sebagai kondisi medis, tetapi sebagai konstruksi sosial yang menuntut perubahan sistemik dalam dunia pendidikan. Adaptasi pembelajaran, menurut Dr. Jamil, mencakup berbagai penyesuaian strategi, media, lingkungan belajar, hingga metode evaluasi agar mahasiswa difabel dapat berpartisipasi aktif dan setara dalam proses pembelajaran tanpa harus menurunkan kualitas akademik.“Adaptasi bukan berarti menurunkan standar, melainkan membuka lebih banyak cara bagi mahasiswa untuk mencapainya,” jelasnya.
Beliau juga menguraikan perbedaan antara akomodasi (penyesuaian cara belajar dan asesmen) dan modifikasi (penyesuaian isi dan tujuan pembelajaran), yang seringkali disalahpahami dalam implementasi pembelajaran di kelas. Disampaikan pula bahwa Permendikbudristek No. 48 Tahun 2023 mewajibkan perguruan tinggi untuk menyediakan akomodasi layak bagi mahasiswa penyandang disabilitas, baik dalam pembelajaran maupun asesmen. Hal ini menjadi dasar hukum sekaligus moral bagi institusi pendidikan untuk menyusun strategi yang berkeadilan.

Strategi Adaptasi
Dalam upaya mendorong pembelajaran inklusif di pendidikan tinggi, Dr. Jamil memaparkan sembilan strategi adaptasi pembelajaran yang komprehensif, mencakup aspek input, proses, hingga output. Ia menekankan pentingnya menyesuaikan gaya belajar mahasiswa—mulai dari penggunaan media audio-visual, teks, hingga bahasa isyarat—guna memastikan akses belajar yang merata bagi seluruh peserta didik, termasuk penyandang disabilitas.
Penyesuaian ini juga meliputi penggunaan kurikulum pengganti dan tujuan pembelajaran alternatif yang lebih realistis dan kontekstual. Dr. Jamil mendorong fleksibilitas dalam penjadwalan maupun bentuk asesmen, dengan opsi evaluasi yang bervariasi seperti proyek video, infografik, serta esai tertulis, disesuaikan dengan kekuatan dan kebutuhan mahasiswa. Tak hanya itu, sesi pelatihan ini turut membahas secara mendalam cara menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) adaptif. “Langkah-langkah tersebut dimulai dari asesmen awal untuk mengidentifikasi jenis disabilitas, perumusan capaian pembelajaran yang inklusif, pengembangan materi ajar yang ramah disabilitas, pemilihan metode pengajaran yang beragam, hingga pemanfaatan teknologi asistif untuk menunjang proses belajar”, tandasnya. Melalui pendekatan ini, Dr. Jamil menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus mampu bertransformasi menjadi ruang yang benar-benar merangkul keberagaman, baik secara intelektual maupun fisik, demi menjamin hak pendidikan yang setara bagi semua.
Kasus Tuli dan Autisme
Pelatihan pendampingan mahasiswa disabilitas yang diselenggarakan di kampus semakin terasa aplikatif dengan pemaparan studi kasus nyata mengenai dua jenis disabilitas yang paling sering dijumpai di lingkungan perguruan tinggi: mahasiswa Tuli dan mahasiswa dengan spektrum autisme. Dr. Jamil, sebagai narasumber, menyajikan strategi praktis yang dapat langsung diterapkan oleh para dosen dan tenaga kependidikan.
Mahasiswa Tuli, menurut Dr. Jamil, menghadapi hambatan dalam mendengar secara total atau sebagian. Mereka mengandalkan bahasa isyarat, gerak bibir, atau teks dalam berkomunikasi. Tantangan terbesar muncul dalam kegiatan perkuliahan lisan, diskusi spontan, atau ketika materi video tidak disertai subtitle. Untuk itu, diperlukan berbagai akomodasi seperti penyediaan juru bahasa isyarat, tempat duduk strategis, materi pembelajaran berbasis visual, serta video yang dilengkapi caption. Bahkan, modifikasi juga bisa dilakukan dengan mengganti presentasi lisan menjadi video visual dengan subtitel.
Sementara itu, mahasiswa dengan autisme biasanya memiliki kesulitan dalam komunikasi dua arah dan lebih sensitif terhadap rangsangan lingkungan. Mereka membutuhkan struktur belajar yang stabil dan konsisten. Akomodasi yang direkomendasikan meliputi penggunaan jadwal rutin, instruksi yang eksplisit, dan visualisasi konsep. Bentuk modifikasi lainnya antara lain mengganti tugas kelompok menjadi tugas individu, menghindari penggunaan bahasa ambigu, serta menyediakan ruang tenang untuk mengelola overstimulasi.
Tak hanya soal pendekatan pedagogis, Dr. Jamil juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi bantu untuk mendukung proses belajar mahasiswa difabel. Teknologi seperti screen reader, speech-to-text, captioning software, hingga alat bantu dengar memainkan peran krusial dalam membantu mahasiswa berkomunikasi, mengakses materi kuliah, dan bergerak mandiri di lingkungan kampus.
Dengan studi kasus yang konkret ini, pelatihan tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga memampukan para dosen merancang pembelajaran yang lebih inklusif, adaptif, dan berkeadilan.
Kurikulum Adaptif: Fondasi Inklusivitas dalam Pendidikan Tinggi
Kurikulum adaptif merupakan pendekatan kurikulum yang dirancang dengan fleksibilitas tinggi dan responsif terhadap kebutuhan individual mahasiswa, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Pendekatan ini tidak hanya memperhatikan keragaman kemampuan, tetapi juga membuka peluang bagi semua mahasiswa untuk mencapai capaian pembelajaran dengan cara yang sesuai dengan karakteristik dan kekuatan mereka masing-masing.
Salah satu komponen utama dalam kurikulum adaptif adalah perumusan capaian pembelajaran yang inklusif. Capaian tersebut dirancang secara umum, namun terbuka untuk dicapai melalui berbagai cara (multiple means of expression). Dengan demikian, capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK) dapat diwujudkan melalui beragam bentuk seperti lisan, tulisan, visual, maupun proyek kreatif, tergantung pada kemampuan dan preferensi mahasiswa.
Selain itu, metode pembelajaran yang digunakan dalam kurikulum adaptif sangat beragam. Dosen didorong untuk menyediakan pilihan metode—baik visual, kinestetik, verbal, maupun tertulis—agar sesuai dengan gaya belajar masing-masing mahasiswa. Strategi ini memberikan ruang bagi semua peserta didik untuk merasa terlibat dan termotivasi dalam proses pembelajaran.
Komponen penting lainnya adalah asesmen alternatif. Kurikulum adaptif tidak mengandalkan satu bentuk evaluasi tunggal, melainkan membuka pilihan asesmen berdasarkan kekuatan mahasiswa. Dosen dapat memberikan opsi antara ujian tertulis, proyek visual, presentasi dalam bentuk video, atau tugas esai, sehingga proses evaluasi menjadi lebih adil dan bermakna.
Terakhir, fleksibilitas dalam waktu dan bentuk juga menjadi ciri khas kurikulum adaptif. Jadwal ujian, tenggat tugas, dan waktu konsultasi akademik dapat disesuaikan secara individual, memberikan keleluasaan bagi mahasiswa—khususnya mereka yang memiliki kebutuhan khusus—untuk mengatur ritme belajar mereka sendiri tanpa tekanan berlebihan. Dengan seluruh komponennya, kurikulum adaptif bukan sekadar instrumen teknis, tetapi juga manifestasi dari nilai keadilan dan penghormatan terhadap keragaman manusia dalam dunia pendidikan.
Strategi Pendampingan
Sementara itu dalam pemaparannya sebagai pembicara kedua, Dr. Sukinah menekankan bahwa pengajaran inklusif tidak berarti menurunkan standar akademik, melainkan memberikan akses belajar yang adil, fleksibel, dan transparan, sehingga setiap mahasiswa—termasuk mereka yang memiliki disabilitas fisik, sensorik, intelektual, maupun psikososial—dapat mencapai potensi akademik secara optimal.
Strategi yang dibahas mencakup tiga aspek utama: pendampingan akademik, sosial-emosional, dan administratif. Dalam aspek akademik, praktik seperti tutor sebaya, penggunaan media visual, serta penyesuaian tugas atau ujian dinilai efektif. Sementara itu, pendampingan sosial mencakup pelatihan keterampilan sosial, sistem buddy, serta sesi konseling reguler. Adapun aspek administratif difasilitasi oleh Unit Layanan Disabilitas (ULD) dengan penyusunan Rencana Pembelajaran Individual (RPI) dan orientasi kampus yang ramah disabilitas.
Kolaborasi lintas pihak juga menjadi sorotan penting, melibatkan dosen pembimbing akademik, dosen pengampu, ULD, serta orang tua atau wali mahasiswa. Penyesuaian lingkungan belajar seperti pengurangan stimulus berlebih dan penyediaan instruksi visual turut direkomendasikan demi kenyamanan dan efektivitas proses belajar mahasiswa disabilitas.

Secara terpisah ketika ditanyai setelah kegiatan ini berlangsung, Dekan Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum., menegaskan komitmen fakultasnya untuk membuka ruang seluas-luasnya bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Dalam rapat pejabat struktural universitas, ia menyatakan bahwa Fakultas Sastra siap menerima mahasiswa disabilitas, bukan sebagai bentuk keberanian sesaat, melainkan sebagai wujud keyakinan bahwa ilmu pengetahuan sejati tidak bisa hidup dalam eksklusivitas. “Ilmu akan tumbuh subur bila ditanam di tanah yang subur oleh rasa hormat, pengakuan akan keberagaman, dan komitmen pada martabat setiap manusia,” ujarnya.
Lebih dari sekadar membahas strategi pedagogis dan kebijakan administratif, Pak Yapi menekankan bahwa kegiatan sosialisasi ini adalah upaya membentuk hati nurani kelembagaan. Fakultas Sastra, menurutnya, bukan hanya tempat mengajarkan puisi, sejarah, dan teori budaya, tetapi juga ruang yang aman dan adil untuk semua mahasiswa bertumbuh dan berprestasi. Ia berharap, melalui pelatihan ini, para dosen dan tenaga kependidikan semakin diteguhkan dalam dedikasi mereka—tidak hanya pada ilmu, tetapi juga pada nilai-nilai kemanusiaan. “Dari fakultas kecil ini, semoga lahir gelombang perubahan besar yang membawa angin segar bagi seluruh kampus kita tercinta,” pungkasnya. (Tti)
Kembali
- Ketika Mesin Ikut Menulis: HISKI Komisariat USD Mengupas “Sastra di Era Digital” pada Usia Satu Dasawarsa
- Fakultas Sastra USD dan FIB Universitas Andalas Jalin Kerja Sama, Langsung Diimplementasikan melalui Kuliah Umum Pragmatik
- JAKSA 2026: Menjadi Manusia di Tengah Perubahan Zaman dan Era AI
- Naik Peringkat, Magister Sastra USD Raih Akreditasi Baik Sekali
- Fakultas Sastra USD dan Yayasan Dena Upakara Jalin Kerja Sama Penulisan Sejarah 90 Tahun SLB/B Dena Upakara
- Perluas Jejaring Akademik Internasional, Fakultas Sastra USD dan Fakultas Pendidikan dan Humaniora UNTL akan Kembangkan Kolaborasi
- Dari Ruang Kelas ke Perlawanan: Humaniora sebagai Daya Transformasi Bangsa
- Misa Syukur Dies Natalis ke-33 Fakultas Sastra: Merawat Ingatan, Meneguhkan Humaniora Transformatif
- Fakultas Sastra USD Jajaki Kerja Sama dengan Fakultas Bahasa dan Budaya Universitas Darma Persada Jakarta
- Lokakarya Penyusunan Kurikulum 2026: Prodi Sastra Indonesia USD Perkuat Integrasi AI dan Kebutuhan Industri
