Berita

Dari Gelora Jaksa 2024 DI FAKULTAS SASTRA, PERBEDAAN BUKAN HAMBATAN

30-08-2024 11:59:02 WIB

"Hari ini, kita berkumpul di bawah sebuah atap yang sama, namun membawa kisah, budaya, dan pengalaman yang beragam dari berbagai penjuru negeri. Mulai dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas hingga Pulau Rote, kalian hadir membawa kekayaan Indonesia dalam bentuk cerita, bahasa, dan adat istiadat yang berbeda-beda. Di sini, perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan. Di Fakultas Sastra, kita akan merajut perbedaan itu menjadi satu kesatuan yang indah, sebuah mozaik budaya yang akan memperkaya kehidupan bangsa kita," demikian sambutan Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, Dekan Fakultas Sastra dalam acara Jalinan Akrab Sastra (Jaksa) 2024.

Jaksa 2024 berlangsung sangat meriah di Gedung Auditorium Driyarkara, pada Kamis, 22 Agustus 2024. Rangkaian acara Jaksa 2024 yang dilaksanakan dalam satu hari, diisi dengan perkenalan sambutan-sambutan, perkenalan fakultas dan unit-unit kegiatan fakultas, dinamika kelompok, pentas seni, dan kunjungan ke Gedung Fakultas Sastra. Tahun ini, Jaksa diketuai oleh Yanuarius Walters Sihombing (dari Prodi Sejarah) dan wakilnya adalah Sharoomita Prameshvari Anjani Putri (dari Prodi Sastra Indonesia).

Membaca Kehidupan

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Sastra mengingatkan bahwa sebagai mahasiswa sastra, kalian bukan hanya akan diajak untuk membaca karya-karya sastra besar dunia, menggali peristiwa-peristiwa penting di masa lampau, tetapi lebih dari itu, kalian juga untuk dimampukan untuk membaca kehidupan, mendengar suara-suara yang terpendam, dan merasakan keindahan dalam setiap pengalaman manusia. Sastra adalah jendela bagi jiwa manusia, dan melalui jendela ini, kita dapat menatap dunia dengan lebih bijaksana, lebih peka, dan lebih manusiawi.



"Dalam perjalanan kalian selama menempuh studi di Fakultas Sastra ini, saya berharap kalian tidak hanya menjadi pembelajar yang tekun, tetapi juga penjelajah yang penuh rasa ingin tahu. Temukan jati diri kalian dalam setiap teks yang kalian baca, dalam setiap diskusi yang kalian lakukan, dan dalam setiap relasi yang kalian bangun. Jadikan Fakultas Sastra ini sebagai rumah bagi kalian untuk tumbuh dan berkembang, untuk mengenal diri sendiri dan orang lain, serta untuk menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Ingatlah selalu, bahwa di balik setiap kata ada kekuatan, di balik setiap cerita ada pelajaran, dan di balik setiap puisi ada keindahan yang menanti untuk ditemukan. Sastra tidak hanya mengajarkan kita untuk memahami dunia, tetapi juga untuk merayakannya, dengan segala kompleksitas dan keindahannya," kata Dekan dalam sambutannya.



"Kritis" sebagai Ciri Kefakultasan

Sementara itu, dalam pemaparannya tentang sejarah, visi, dan misi Fakultas Sastra, dekan menegaskan bahwa keunikan Fakultas Sastra adalah pengembangan Mata Kuliah Cultural Studies. Dengan kata lain, mata kuliah Cultural Studies merupakan mata kuliah yang diajarkan di tingkat fakultas dan yang menjadi penciri fakultas.

"Cultural Studies lebih dari sekadar bidang kajian; ia adalah sebuah perspektif yang menantang kita untuk melihat, memahami, dan mengkaji teks-teks sastra dalam konteks yang lebih luas—dalam kaitannya dengan relasi kekuasaan yang tidak seimbang, hegemoni ideologi, normalitas identitas, dan praktik-praktik budaya yang direpresentasikan. CS adalah sebuah pendekatan yang menuntut kita untuk tidak hanya memahami dunia, tetapi juga berperan aktif dalam transformasi sosial yang lebih adil dan humanis," tegas Dekan. Diterangkan pula bahwa motto Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma adalah "Memadukan sikap humanis, kreatif, dan kritis", yang disingkat "Kritis, Kreatif, Humanis!"


“Melalui studi sastra, kita tidak hanya mempelajari kata-kata, tidak sekadar menggali sesuatu dari masa lalu, tetapi yang kita pelajari terutama adalah kebijaksanaan yang dapat mengubah dunia. Kita dapat ikut berperan secara aktif dalam transformasi sosial menuju masyarakat yang lebih adil dan humanis.,” pungkas Dekan Fakultas Sastra. (y2t)

Kembali