AKTUALITA
“Katekis Baru, Semangat Baru” Memahami Tujuh Sakramen sebagai Perjumpaan dengan Kristus
Suasana Aula Gereja Santo Yusuf Bintaran Yogyakarta tampak hangat pada Kamis malam, 11 Juni 2026. Sejak pukul enam sore, para calon katekis dan katekis aktif mulai memenuhi ruangan untuk mengikuti salah satu sesi Kursus Katekis 2026. Malam itu mereka tidak sekadar datang untuk mendengarkan penjelasan mengenai tujuh sakramen Gereja. Mereka diajak memasuki sebuah pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa Gereja merayakan sakramen, dan bagaimana Kristus sendiri terus berkarya melalui perayaan-perayaan itu dalam kehidupan umat beriman?
Pertanyaan tersebut menjadi benang merah sepanjang tiga jam pembelajaran yang dipandu oleh Rama Agus Widodo, Pr., dosen Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma. Kehadiran beliau merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Mandiri sebagai wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pelayanan akademik kepada Gereja.
Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Kursus Katekis Paroki Santo Yusuf Bintaran bertema “Katekis Baru, Semangat Baru, Gereja Bahagia” yang diselenggarakan sejak April hingga Juli 2026. Melalui kursus tersebut, paroki berupaya membekali para calon katekis dan katekis aktif dengan dasar-dasar iman Katolik yang kokoh agar mereka semakin siap menjalankan pelayanan pewartaan di tengah umat.

Sakramen bukan Sekadar Ritual
Sejak awal sesi, peserta diajak meninggalkan pemahaman yang sering muncul bahwa sakramen hanyalah tujuh upacara keagamaan yang dilaksanakan Gereja. Melalui penelusuran Kitab Suci, Tradisi Gereja, serta refleksi teologi Katolik, peserta diajak melihat bahwa sakramen merupakan karya Kristus sendiri yang terus hadir dan bekerja di dalam Gereja.
Pembahasan diawali dengan asal-usul istilah sacramentum serta perkembangan pemahamannya dalam tradisi Gereja. Dari sana peserta diajak memahami sebuah gagasan pokok dalam teologi sakramen: Kristus adalah Sakramen Allah yang menghadirkan kasih dan keselamatan Bapa kepada dunia. Setelah kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga, karya penyelamatan itu tidak berhenti, melainkan terus berlangsung melalui Gereja sebagai Sakramen Keselamatan. Ketujuh sakramen menjadi tanda-tanda yang kelihatan sekaligus sarana nyata kehadiran rahmat Allah bagi umat-Nya.
Pendekatan tersebut membantu peserta melihat bahwa setiap perayaan sakramen bukan sekadar pemenuhan kewajiban religius, melainkan perjumpaan nyata dengan Kristus yang terus menyertai perjalanan hidup manusia sejak kelahiran, pertumbuhan iman, panggilan hidup, hingga saat menghadapi penderitaan dan kematian.
Kristus Berkarya, Gereja Merayakan
Berangkat dari kerangka dasar tersebut, pembahasan dilanjutkan pada ketujuh sakramen Gereja yang dikelompokkan ke dalam tiga kategori besar. Kelompok pertama adalah sakramen inisiasi, yakni Baptis, Krisma, dan Ekaristi, yang mengantar seseorang memasuki kehidupan baru sebagai anggota Gereja dan bertumbuh dalam persekutuan dengan Kristus. Kelompok kedua adalah sakramen penyembuhan, yaitu Rekonsiliasi dan Pengurapan Orang Sakit, yang menghadirkan belas kasih Allah bagi manusia yang terluka oleh dosa maupun penderitaan. Kelompok ketiga adalah sakramen pelayanan, yaitu Tahbisan dan Perkawinan, yang mengutus umat beriman untuk membangun Gereja melalui pelayanan maupun kehidupan keluarga.
Selain menjelaskan makna masing-masing sakramen, peserta juga diajak memahami unsur-unsur pokok dalam setiap perayaan sakramen, seperti pelayan dan penerima sakramen, materia dan forma, prinsip ex opere operato, serta karakter sakramental yang melekat pada beberapa sakramen tertentu. Penjelasan tersebut membantu peserta melihat kesatuan antara dasar Kitab Suci, ajaran Gereja, dan praktik liturgi yang mereka jumpai dalam kehidupan menggereja sehari-hari.
Dialog yang Berangkat dari Pengalaman Pastoral
Suasana pembelajaran semakin hidup ketika sesi memasuki dialog bersama peserta. Berbagai pertanyaan muncul dari pengalaman nyata mereka dalam mendampingi umat. Ada yang bertanya mengenai makna sakramen dalam kehidupan sehari-hari, ada pula yang mengangkat pengalaman mendampingi keluarga yang mempersiapkan baptis maupun perkawinan. Diskusi berkembang secara alami karena peserta tidak hanya ingin mengetahui jawaban normatif, tetapi juga memahami alasan teologis di balik praktik Gereja.
Percakapan tersebut memperlihatkan bahwa para peserta memiliki semangat belajar yang tinggi. Materi yang disampaikan tidak berhenti sebagai pengetahuan konseptual, tetapi terus dikaitkan dengan situasi konkret yang mereka jumpai dalam pelayanan katekese. Dengan demikian, proses pembelajaran berlangsung sebagai dialog antara refleksi teologis dan pengalaman pastoral.

Bekal bagi Pelayanan Katekese
Menjelang akhir pertemuan, setiap peserta memperoleh modul pembelajaran berjudul “Sakramen-Sakramen Gereja: Pengenalan, Makna, dan Perayaan Tujuh Sakramen dalam Kehidupan Gereja” sebagai bahan pendalaman lebih lanjut. Modul tersebut diharapkan dapat menjadi referensi yang membantu para katekis ketika mendampingi umat dalam berbagai kegiatan pembinaan iman di lingkungan maupun paroki.
Lebih dari sekadar menyampaikan materi mengenai tujuh sakramen, sesi malam itu mengajak peserta melihat kembali inti kehidupan Gereja: Kristus tetap hadir dan terus berkarya melalui sakramen-sakramen yang dirayakan umat beriman. Kesadaran inilah yang menjadi dasar pelayanan setiap katekis. Mereka tidak hanya menyampaikan pengetahuan tentang iman, tetapi juga membantu umat mengalami karya keselamatan Allah yang terus berlangsung dalam kehidupan Gereja.
Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini, Fakultas Teologi Universitas Sanata Dharma kembali menegaskan komitmennya untuk menghadirkan refleksi teologis yang tidak berhenti di ruang akademik, melainkan sungguh menjadi bagian dari kehidupan Gereja dan mendukung pembinaan umat di tingkat paroki. Ketika teologi bertemu dengan pengalaman konkret umat, pengetahuan tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menumbuhkan iman, memperdalam pelayanan, dan memperkuat persekutuan Gereja.
Kembali