AKTUALITA

Keterlibatan Teologi di Era Digital: Fakultas Teologi Gelar International Class Bahas AI dan Robotik

YOGYAKARTA — Fakultas Teologi menggelar kegiatan International Class bagi mahasiswa program studi S2 dan S3 pada Jumat (18/9/2026). Mengangkat isu krusial mengenai perkembangan teknologi modern, acara yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB ini dilaksanakan secara hybrid di Ruang Tom Jacobs, Gedung Pascasarjana, serta disiarkan secara live streaming melalui kanal YouTube.

Acara dibuka dengan menyapa para mahasiswa yang hadir secara luring maupun daring. Acara ini menghadirkan dua pakar teologi dari Universitas Malta sebagai narasumber utama untuk mengulas implikasi pesatnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan robotika terhadap pemikiran teologi Katolik dan konteks interkultural.

Sesi pertama diisi oleh Rev. Prof. Emmanuel Agius yang membawakan topik “New Challenges and Opportunities of AI and Robotics for Catholic Theological Reflection”. Dalam pemaparannya, Prof. Agius menyoroti bagaimana kehadiran AI dan robotika tidak hanya mengubah tatanan praktis kehidupan, tetapi juga melempar tantangan mendasar terhadap refleksi teologis. Ia menekankan pentingnya menjaga martabat manusia (human dignity) dan kehendak bebas di tengah dominasi teknologi. Meski menghadirkan kecemasan etis, pesatnya AI juga dipandang sebagai peluang emas bagi teologi Katolik untuk memperbarui pendekatan moral, etika, dan pelayanan pastoral agar tetap relevan dengan zaman.

Melanjutkan diskusi, Rev. Dr. Mark Joseph Zammit menyampaikan materi bertajuk “Artificial Intelligence and Intercultural Theology”. Dr. Zammit membedah titik temu antara teknologi AI dan teologi lintas budaya. Ia menggarisbawahi risiko bias budaya yang sering kali tertanam dalam sistem algoritma dan pemrosesan data AI. Melalui kacamata teologi interkultural, Dr. Zammit mendorong pemanfaatan AI yang mengedepankan inklusivitas, keadilan, serta penghormatan terhadap keberagaman budaya, sehingga teknologi dapat berfungsi sebagai jembatan dialog antariman dan budaya, bukan alat keseragaman.

Antusiasme peserta terlihat jelas pada sesi diskusi dan tanya jawab. Para mahasiswa Pascasarjana berkesempatan mengajukan pertanyaan secara langsung di lokasi maupun melalui kolom komentar YouTube. Berbagai pertanyaan kritis mengemuka, mulai dari batas etis penggunaan AI dalam pelayanan gerejani hingga respons teologis terhadap eksistensi kecerdasan buatan di masa depan.

Rangkaian kegiatan International Class resmi ditutup pada pukul 12.00 WIB. Melalui forum ini, Fakultas Teologi berhasil menegaskan komitmennya untuk terus mendorong civitas akademika pascasarjana agar berani berdialog secara kritis dan konstruktif di tengah arus peradaban digital.

  Kembali
Lihat Arsip