AKTUALITA

Pentas Seni sebagai Seruan Perdamaian di Tengah Perang, Kekerasan, serta Keserakahan

Di tengah dunia yang terus menjadi diwarnai oleh bermacam konflik, kekerasan, serta keserakahan manusia, seni menjadi sarana untuk menyuarakan harapan, perdamaian, serta nilai-nilai kemanusiaan. Lewat seni, seorang bisa mengutarakan pesan yang mendalam tanpa wajib memakai banyak kata. Perihal inilah yang nampak dalam aktivitas Pentas Seni Mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti yang diselenggarakan pada Jumat, 29 Mei 2026, di Aula Fakultas Teologi Wedabhakti. Hadir dalam kegiatan ini para dosen Fakultas Teologi Wedabhakti, mahasiswa/i, perwakilan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, serta perwakilan dari Universitas Kristen Duta Wacana.

Pentas seni yang mengangkat tema “Perang, Kekerasan, serta Keserakahan” ini menjadi wadah bagi para mahasiswa Teologi mengekspresikan refleksi mereka terhadap berbagai konflik yang terjadi di dunia saat ini. Tema tersebut dipilih untuk menyoroti situasi dunia yang dilanda oleh perang yang terus terjadi di berbagai belahan dunia, meningkatnya aksi kekerasan, dan keserakahan  yang menyebabkan penderitaan  sesama serta kehancuran hidup bersama. Lewat pentas seni ini, mahasiswa diajak untuk tidak sekedar memandang kenyataan tersebut, tetapi terlibat dalam merefleksikannya secara kritis dan kreatif.

Aktivitas yang diawali pada jam 17.00 WIB ini memperkenalkan bermacam penampilan dari Unit Kerja Fakultas (UKF) Teologi Wedabhakti, Universitas Sanata Dharma. UKF SIM-C, English Community, Sastra dan Jurnalistik, serta Teater menampilkan drama yang masing-masing mengangkat berbagai isu terkait tema yang sudah ditetapkan. Selain itu, alur cerita yang dibentuk para pemeran juga berupaya menggambarkan akibat nyata dari perang, kekerasan, serta keserakahan terhadap kehidupan manusia.

Setiap drama yang ditampilkan mempunyai keunikannya masing-masing. Para pemeran menyoroti berbagai bentuk keserakahan yang bisa menghancurkan ikatan antar manusia. Selain itu, terdapat pula adegan yang menggambarkan penderitaan para korban kekerasan. Para penonton nampak larut dalam setiap adegan yang dimainkan. Pasalnya setiap adegan dirangkai untuk menyampaikan pesan dan informasi yang mendalam. Hal menggambarkan bahwa seni tidak hanya berperan sebagai hiburan, tetapi  juga sarana untuk merefleksikan hidup.
Tidak hanya penampilan drama, kegiatan ini pula dimeriahkan oleh penampilan dari FTW Choir yang menyanyikan lagu Praise His Holy Name (2009). Penampilan yang meriah ini memperkenalkan atmosfer yang berbeda di tengah bermacam cerita yang sarat dengan kritik sosial.

Dr. theol. Dionisius Bismoko Mahamboro, Pr sebagai perwakilan dari para dosen juga ikut memeriahkan acara ini dengan menyanyikan tiga lagu yakni Rumah kita (Padi), Fix you (Coldplay), dan Take Me Home, Country Roads (John Denver). Lagu-lagu yang dinyanyikan tidak cuma indah secara musikal, tetapi juga memantik refleksi para pendengar. Lewat lirik serta penghayatan yang mendalam, dia ingin mengingatkan kembali akan arti sebuah rumah dan proses perjalanan hidup. Lagu-lagu tersebut dikhususkan bagi mahasiswa semester delapan yang akan segera diutus ke tempat perutusan atau pekerjaan masing-masing.
Pentas seni ini memperlihatkan bahwa mahasiswa Fakultas Teologi Wedabhakti tidak cuma dibangun dalam aspek akademik, namun pula diajak buat peka terhadap bermacam perkara sosial melalui kreativitas seni. Selain itu, mereka juga belajar mengutarakan pesan-pesan kemanusiaan dengan metode yang menarik serta gampang dimengerti oleh banyak orang.

Akhirnya, aktivitas ini bukan semata-mata ajang pertunjukan ataupun hiburan semata. Lebih dari itu, pentas seni jadi ruang refleksi bersama untuk mengamati kenyataan dunia yang lagi terluka oleh perang, kekerasan, serta keserakahan. Melalui tiap drama, nyanyian, serta penampilan yang disuguhkan, para mahasiswa menegaskan bahwa manusia dipanggil untuk membangun perdamaian, menghargai sesama, dan menolak seluruh wujud kekerasan serta keserakahan yang mengganggu kehidupan bersama. Suatu pesan sederhana tetapi sangat relevan untuk kehidupan masyarakat saat ini.
 
Penulis: Camelius Arfin

  Kembali
Lihat Arsip