
Serangkaian sesi formasi iman dirancang untuk menjangkau berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Namun, kunci keberhasilan program ini terletak pada kemampuan fasilitator untuk beradaptasi secara pastoral. Rencana yang telah disusun secara teoretis secara konsisten disesuaikan untuk menjawab kebutuhan riil yang ditemukan di lapangan.
Sesi refleksi teologis untuk umat dewasa, misalnya, bergeser dari pemaparan doktrin Ajaran Sosial Gereja menjadi lokakarya praktis tentang bagaimana memaknai Kitab Suci dari pengalaman hidup sehari-hari. Demikian pula, lokakarya homiletika untuk para pelayan Sabda diubah dari pelatihan metode teknis menjadi sebuah forum pendampingan yang hangat, berangkat dari sharing suka-duka mereka dalam pelayanan. Penyesuaian paling signifikan terjadi pada sesi rekoleksi anak dan remaja. Setelah mengetahui bahwa anak-anak belum akrab dengan Alkitab, materi pendalaman teks spesifik dari Kitab Maleakhi diganti dengan pengenalan Kitab Suci secara lebih fundamental.

Pengalaman PkM di Tembagapura ini menegaskan kembali peran seorang akademisi teologi sebagai fasilitator iman, yang tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga mendengarkan, mendampingi, dan memberdayakan umat. Kegiatan ini menjadi laboratorium teologi kontekstual yang hidup, di mana teori diuji dan diperkaya oleh iman konkret komunitas. Keberhasilan program ini menjadi bukti nyata komitmen Fakultas Teologi dalam melayani Gereja dan masyarakat di daerah-daerah pinggiran, sekaligus memperkaya khazanah teologi yang berakar pada pengalaman umat.***