Rabu, 25 September 2024, Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma (FTW-USD) mengadakan seminar International dengan tema “Islam And Sufis In Contemporary Settings: Share Challenges Of Communication.” Seminar dihadiri oleh Dr. James Morris, selaku pembicara, Romo Bagus Laksana, selaku reoktor Universitas Sanata Dharma, Rm. Joko Lelono, Pr selaku dosen di FTW-USD, Rm. Heru, SJ selaku dosen FTW-USD, dan mahasiswa semester V. Seminar diawali dengan pengantar singkat dari Rm. Bagus Laksana, SJ yang fokusnya memperkenalkan pembicara sekaligus mengucapkan welcome kepada Profesor Dr. James Morris.
Dr. James Morris adalah Profesor Studi Islam di Departemen Teologi dan program Peradaban dan Masyarakat Islam di universitas tersebut. Ia merupakan penulis yang produktif, telah menulis puluhan artikel jurnal serta tiga belas buku, termasuk yang terbaru The Reflective Heart: Discovering Spiritual Intelligence in Ibn Arabī’s Meccan Illuminations; Orientations: Islamic Thought in a World Civilization; dan The Master and the Disciple: An Early Islamic Spiritual Dialogue. Ia sering diwawancarai mengenai isu-isu terkini oleh BBC dan jurnal serta surat kabar internasional yang membahas Timur Tengah. Prof James Moris Prof. James Morris (Boston College) telah mengajar di Exeter, Princeton, Oberlin, dan IIS. Ia memberikan kuliah tentang pemikiran Islam, tasawuf, humaniora Islam (puisi, musik, dan seni), Al-Qur'an dan hadits, serta spiritualitas Syiah. Buku-bukunya yang sedang dalam proses penerbitan meliputi Openings: From the Qur’an to the Islamic Humanities (Fons Vitae); Approaching Ibn ‘Arabi: Foundations, Contexts, Interpretations (Anqa); dan Ostad Elahi’s Exposition of the Truth (SUNY).
Dalam pertemuan di kelas, ia menceritakan bahwa ia berasal dari keluarga petani yang dekat dengan alam dan tidak mudah menghakimi orang lain. Dirinya mudah dibuat kagum oleh hal-hal yang ada di luar dirinya, termasuk di dalam hal ekspresi keagamaan. Dia mengatakan bahwa hal ini amat membantu ketika akhirnya berkecimpung di dalam dunia dialog. Dialog baginya semakin relevan di zaman ini saat orang membayangkan bahwa agama-agama ada di ujung-ujung sebuah garis dengan batas yang jelas. Dialog memungkinkan adanya ruang bersama.
Keterbukaan ini (terbuka untuk dialog) amat penting untuk dipahami bagi dunia dan peradaban saat ini terutama ketika dunia harus berhadapan dengan pluralitas agama dan juga dengan realitas sekularisme. Dia menggambarkan hal ini dengan sebuah gambar yang melambangkan tentang seorang yang berada dalam salah satu frame mencari kebijaksanaan dengan cara tertentu. Ternyata di sekitarnya terdapat banyak orang yang mencari kebijaksanaan dan rasa dekat dengan Tuhan melalui berbagai cara. Ada yang dengan menyanyi, ada yang dengan menari, ada yang dengan berdoa merangkul pohon, ada yang memainkan alat music dan sebagainya.
“Ketika kita mempelajari agama lain”, katanya, “kita perlu menghargai keindahan agama lain sebagai sesuatu yang diberikan secara langsung.” Ia juga menegaskan bahwa orang-orang dari berbagai agama harus saling belajar, hidup bersama, dan bekerja sama dalam dialog. Prf. Dr. Moris memberi penekanan; musik spiritual, Seni artistic, Gambar Mengekspresikan keindahan agama. Seni memberi makna kepada kehidupan yang penuh tantangan. Dalam hal pengalaman rohani, musik tertentu dapat membantu kita berkomunikasi dengan hati, seperti Rumi dan tarian.
Seminar yang dihadiri oleh mahasiswa dan dosen sekitar 60an orang berjalan dengan baik dan juga diperkaya dengan beberapa pertanyaan mendalam yang diajukan oleh dosen dan mahasiswa. Seminar yang dimulai dari pukul 16.00 WIB berakhir pada pukul 17.20 dan sebagai ucapan terimakasih, Rm. Bagus Laksana, SJ memberikan kenang-kenangan kepada Prof. Dr. Moris, kemudian diakhiri dengan berfoto bersama. (Fr. Martin, CSsR)