Berita

Mengukir Mimpi dari Balik Bukit: Robotika USD Menyapa Anak-Anak Gunung Kidul

27/July/2026 WIB

Gunungkidul, 21 Juli 2026 – Di balik perbukitan tenang Rongkop, Gunung Kidul, dengungan pelan sebuah robot yang melintasi lantai kelas bukan sekadar hiburan. Di sanalah, di ruang sederhana SD Negeri Kropak, masa depan sedang dibangun, potongan demi potongan kode.

Fakultas Vokasi Universitas Sanata Dharma (USD) baru saja menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk "Membangun Generasi Kreatif dan Inovatif Melalui Pelatihan Robot Sederhana dan Coding." Tujuannya bukan sekadar mengajari anak-anak tentang teknologi, melainkan merobohkan tembok pembatas yang selama ini membuat teknologi terasa asing bagi mereka.


Bagi siswa SD Negeri Kropak, laboratorium komputer yang lengkap atau jaringan internet cepat adalah angan yang jauh dari jangkauan. Tim pengabdi USD mendapati fakta di lapangan: perangkat komputer minim, aliran listrik tak menentu, dan akses internet nyaris tak ada. Lapangan pertandingan terlihat timpang sebelum pertandingan dimulai.

Namun, tim dari USD tak melihat itu sebagai jalan buntu. Mereka justru melihatnya sebagai tantangan untuk berinovasi. Mereka tak membawa perangkat canggih yang butuh infrastruktur rumit; mereka membawa Codey Rocky, robot edukatif yang intuitif, serta perangkat lunak pemrograman visual mBlock. Dengan alat ini, siswa bisa melompati kebutuhan akan laboratorium komputer konvensional dan langsung terjun ke dunia algoritma.

Dipandu oleh tim dosen Ir. Agus Siswoyo, M.T.; Ir. Antonius Hendro Noviyanto, M.T.; Ir. Eko Arianto, M.T.; dan Agatha Mahardika Anugrayuning Jiwatami, S.Si., M.Sc. serta lima mahasiswa KKN yang penuh semangat, pelatihan ini menjadi petualangan penuh kejutan bagi 19 siswa yang terlibat.

Momen "Aha!" terjadi begitu cepat. Saat siswa mulai merangkai balok-balok warna-warni di mBlock dan melihat Codey Rocky bergerak maju sesuai perintah, mata mereka berbinar. Konsep abstrak "coding" mendadak menjadi nyata. Robot itu bukan sekadar mesin; ia adalah cerminan dari cara berpikir mereka sendiri.

"Kami tidak ingin mereka hanya menjadi pemakai teknologi," ujar tim pengabdi. "Kami ingin mereka memahami 'mengapa' dan 'bagaimana' di balik layar. Kami ingin mereka menjadi sang pencipta."

Pembelajaran berlangsung secara kolaboratif dan langsung. Dengan pendekatan Project-Based Learning, para siswa dibagi dalam kelompok kecil untuk memecahkan tantangan. Mereka belajar bahwa robot tak akan bergerak jika instruksi tak logis, runtut, dan presisi. Ketika Codey Rocky keras kepala menolak berbelok, mereka tak langsung frustrasi mereka berubah menjadi detektif cilik, memeriksa susunan balok, mengkalibrasi parameter, dan mencari celah kesalahan (debugging). Di sinilah mereka diam-diam sedang berlatih ketekunan, kerja tim, dan kemampuan memecahkan masalah dengan cara paling seru.


Menyadari bahwa perubahan harus berkelanjutan, program ini tak berhenti pada siswa. Empat guru SD Negeri Kropak dilibatkan secara aktif sepanjang pelatihan. Mereka mendampingi, bertanya, dan mencoba langsung perangkat robotika serta aplikasi pemrograman.

Dengan pengalaman ini, para guru kini memiliki bekal untuk melanjutkan percikan semangat tadi. Mereka merasa lebih percaya diri untuk mengenalkan konsep teknologi, algoritma, hingga robotika kepada murid-muridnya. Modul pembelajaran dan panduan yang disediakan menjadi bekal berharga agar robotika bisa masuk ke dalam kegiatan ekstrakurikuler atau bahkan terintegrasi dalam pembelajaran sehari-hari. Benih yang ditanam oleh USD kini siap dirawat oleh sekolah.

Inisiatif ini adalah bukti nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang keluar dari tembok kampus. Program ini dengan lantang membuktikan bahwa pendidikan teknologi yang bermakna tak selalu membutuhkan fasilitas mewah. Yang dibutuhkan adalah kreativitas, dedikasi, dan keyakinan bahwa setiap anak, di mana pun ia berada, berhak untuk memahami alat-alat yang akan membentuk masa depannya.

Saat pelatihan robotika usai, para siswa SD Negeri Kropak tak hanya melambaikan tangan pada robot mungil mereka. Mereka melangkah ke era baru penuh kemungkinan era di mana mereka bukan lagi sekadar pengguna masa depan, melainkan arsitek yang merancangnya sendiri. (AS)
 

 back