Berita

Ziarah ke Gua Maria Sendangsono & Kerkof Muntilan dalam Memenuhi Mata Kuliah Kristologi Angkatan 2021

18-04-2022 00:21:50 WIB

Pada hari Senin, 18 April 2022, para mahasiswa Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik (Pendikkat) Angkatan 2021 memulai kegiatan ziarah akademik mereka ke Gua Maria Sendangsono. Sejak pagi, para mahasiswa telah berkumpul di kampus. Suasana pertemuan itu berlangsung cukup hangat; beberapa memeriksa perlengkapan misa, sementara yang lain memastikan pasangan boncengan motor untuk perjalanan. Meskipun sederhana, momen berkumpul ini menjadi awal dari perjalanan rohani yang akan mereka jalani bersama.
 
Setelah semua persiapan dinyatakan lengkap, rombongan berangkat dari kampus dengan motor secara berboncengan. Perjalanan berlangsung dengan tertib, dan udara pagi yang sejuk membuat perjalanan terasa ringan. Di sepanjang jalan tampak kesan antusias dari para mahasiswa, seolah perjalanan ini bukan sekadar tugas kuliah, melainkan kesempatan untuk kembali menata hati.

Sesampainya di kawasan Sendangsono, rombongan beristirahat sejenak. Ada yang duduk melepas lelah, ada yang langsung membantu mempersiapkan perlengkapan misa. Waktu singkat ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk menyelaraskan diri dengan suasana tenang dan kudus yang menaungi kawasan Sendangsono.

Setelah persiapan selesai, perayaan Ekaristi dilangsungkan. Misa ini dipimpin oleh dosen mata kuliah Kristologi yakni Romo Bernardus Agus Rukiyanto, SJ. Misa berlangsung dalam suasana yang sangat khidmat. Latar alam yang tenang, pepohonan rindang, dan gemericik suara air menghadirkan kedalaman batin tersendiri. Mahasiswa mengikuti misa dengan penuh kesadaran bahwa perayaan ini merupakan inti dari kegiatan ziarah mereka: berhenti sejenak dari rutinitas dan membiarkan diri disentuh oleh kasih Tuhan.

Usai misa, mahasiswa melanjutkan dengan makan siang bersama. Kebersamaan ini berjalan dengan hangat dan santai. Beberapa mahasiswa berbagi cerita ringan, sementara yang lain hanya menikmati suasana damai sembari melepas penat. Walaupun sederhana, momen makan siang bersama ini turut mempererat kebersamaan mereka sebagai satu angkatan.

Setelah beristirahat, kegiatan dilanjutkan dengan sesi penjelasan mengenai sejarah dan spiritualitas Sendangsono. Para mahasiswa mendengarkan kisah perjalanan misi Pastor Frans van Lith, pembaptisan pertama di mata air Sendangsono, serta bagaimana tempat ini akhirnya menjadi salah satu pusat devosi Bunda Maria di Jawa. Penjelasan ini membuka wawasan mahasiswa bahwa Sendangsono tidak hanya indah secara fisik, tetapi juga kaya makna dalam sejarah Gereja lokal.
 
Sebagai penutup di Sendangsono, setiap mahasiswa diberi kesempatan untuk melakukan refleksi dan doa pribadi di depan patung Bunda Maria. Mereka menyebar ke berbagai sudut yang dirasa paling mendukung suasana hening. Ada yang menyalakan lilin, ada yang menuliskan intensi, dan ada yang sekadar duduk diam sambil menatap patung Maria. Dalam keheningan itu, masing-masing mahasiswa membawa pulang satu pengalaman iman yang sangat personal, entah rasa syukur, harapan, atau kesadaran baru akan kehadiran Kristus dalam hidup mereka.
 
Setelah berziarah di Sendangsono, mahasiswa angkatan 2021 memutuskan untuk mengunjungi tempat ziarah lainnya, yakni Kerkof Muntilan. Sepanjang perjalanan, suasana hening masih terasa karena mahasiswa masih membawa pengalaman batin dari Sendangsono.
 
Setibanya di Kerkof, rombongan diarahkan menuju sebuah ruangan makam bagian dalam yang menjadi tempat awal pengantar kegiatan. Di ruangan yang sunyi dan penuh kesederhanaan itu, mahasiswa diajak berkumpul dan memulai kunjungan dengan doa bersama. Doa ini menjadi pintu masuk untuk menghormati para misionaris yang dimakamkan di tempat tersebut dan memohon kebijaksanaan agar kunjungan dapat menjadi sarana pembelajaran rohani.
 
Usai doa pembuka, Romo Ruky selaku dosen pengampu mata kuliah kristologi ini memberikan penjelasan singkat mengenai sejarah Kerkof Muntilan, tokoh-tokoh yang dimakamkan di sana, serta latar belakang karya pastoral para misionaris yang telah berjuang membangun fondasi kehidupan Gereja di Jawa. Penjelasan ini menjadi gambaran awal bagi mahasiswa untuk memahami nilai pengorbanan dan ketekunan yang diwariskan oleh para pewarta Injil terdahulu.

Setelah penjelasan sejarah tersebut, mahasiswa diberi kesempatan untuk berdoa secara pribadi. Mereka menyebar ke berbagai sudut area makam, ada yang duduk merenung di dekat batu nisan, ada yang berdiri dalam hening, dan ada pula yang membaca nama-nama misionaris yang terukir pada batu pusara. Waktu doa pribadi ini menjadi ruang refleksi yang sangat berarti, karena mahasiswa dapat mengolah kesan dan makna dari perjalanan yang mereka saksikan.
 
Setelah waktu refleksi berakhir, rombongan diarahkan kembali ke titik kumpul awal. Dengan penuh syukur, mahasiswa bersiap kembali menuju kampus. Perjalanan pulang menjadi momen sunyi yang membawa banyak permenungan dalam hati masing-masing. Pengalaman singkat di Kerkof, meskipun tidak panjang, memberikan kedalaman baru dalam memahami sejarah Gereja dan semangat pengabdian yang menjadi warisannya.

 kembali