Berita

SIDANG TERBUKA PROMOSI DOKTOR Zuhdi Siswanto Pertahankan Disertasi "Damomologi: Tragedi dan Dramaturgi Melankolis di Tengah Ekstraktivisme Indonesia di Merauke"

28-07-2026 15:56:22 WIB

USD - Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta kembali mengukuhkan doktor baru dalam bidang Kajian Budaya melalui Sidang Terbuka Promosi Doktor yang diselenggarakan di Kampus II Mrican. Pada sidang tersebut, promovendus Zuhdi Siswanto berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul "Damomologi: Tragedi dan Dramaturgi Melankolis di Tengah Ekstraktivisme Indonesia di Merauke". Berdasarkan hasil penilaian dewan penguji, promovendus dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Doktor dalam bidang Kajian Budaya.
Sidang terbuka dipimpin oleh Direktur Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma selaku Ketua Sidang, dihadiri oleh tim promotor, dewan penguji, sivitas akademika, keluarga, serta para tamu undangan. Sidang diawali dengan pembukaan resmi, dilanjutkan dengan presentasi hasil penelitian oleh promovendus, sesi tanya jawab bersama para penguji, serta rapat yudisium untuk menentukan hasil akhir ujian doktor.



Dalam disertasinya, Zuhdi Siswanto mengangkat pengalaman masyarakat Marind di Kampung Zanegi, Merauke, yang selama lebih dari satu dekade menghadapi perubahan sosial, ekologis, dan kosmologis akibat ekspansi industri ekstraktif di Papua Selatan. Berangkat dari pengalaman tersebut, penelitian ini mempertanyakan bagaimana tragedi kontemporer dapat dipahami ketika kerusakan lingkungan, hilangnya ruang hidup, dan runtuhnya sistem kehidupan masyarakat adat terus direproduksi sebagai bagian dari proyek pembangunan nasional.

Melalui dialog antara kajian budaya, filsafat, psikoanalisis, teori tragedi, dan praktik seni pertunjukan, penelitian ini memperkenalkan damomologi, sebuah konsep yang berangkat dari istilah Marind damom patur (anak yatim-piatu). Damomologi dipahami sebagai epistemologi tragis, yakni cara mengetahui yang lahir dari pengalaman kehilangan, yang mengajak manusia hidup bersama luka tanpa menutupnya dengan ilusi pemulihan. Tragedi, dengan demikian, tidak dipahami semata sebagai akibat kerusakan sosial-ekologis, melainkan sebagai kondisi keberadaan yang terus direproduksi oleh logika kapitalisme kontemporer.

Sebagai kontribusi teoretis, penelitian ini juga mengembangkan konsep dramaturgi pengingkaran, yaitu mekanisme budaya yang membuat masyarakat mengetahui sekaligus mengingkari kehancuran yang menopang kehidupannya. Melalui kritik terhadap berbagai pendekatan kontemporer seperti posthumanisme, more-than-human dan ontological turn, disertasi ini menawarkan perspektif baru bahwa krisis ekologis tidak cukup dipahami melalui perubahan relasi manusia dan alam, tetapi juga melalui pengalaman tragis yang dialami tubuh, ingatan, dan kosmologi masyarakat.
Keunikan penelitian ini terletak pada metodologinya yang memadukan penelitian etnografis dengan praktik penciptaan artistik berbasis performance art. Selama hampir lima belas tahun mendampingi masyarakat Marind, pengalaman lapangan tidak diperlakukan semata sebagai data penelitian, melainkan menjadi dasar penciptaan karya pertunjukan Bunga Putih dari Zanegi, yang berfungsi sebagai ruang pengalaman sekaligus metode produksi pengetahuan. Dengan demikian, seni tidak hanya menjadi media penyampaian gagasan, tetapi juga menjadi cara mengalami tragedi secara langsung melalui tubuh.



Setelah sesi presentasi dan diskusi bersama dewan penguji, sidang dilanjutkan dengan rapat yudisium. Berdasarkan penilaian atas keseluruhan proses studi, kualitas disertasi, serta kemampuan promovendus dalam mempertahankan argumentasi ilmiahnya, dewan penguji menyatakan bahwa disertasi "Damomologi: Tragedi dan Dramaturgi Melankolis di Tengah Ekstraktivisme Indonesia di Merauke" diterima. Promovendus dinyatakan lulus dengan predikat Cum Laude dan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00, sekaligus resmi dikukuhkan sebagai Doktor dalam bidang Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma.



Melalui disertasi ini, Universitas Sanata Dharma kembali menghadirkan kontribusi akademik yang memperkaya perdebatan mengenai ekstraktivisme, masyarakat adat, seni pertunjukan, dan teori sosial kontemporer. Dengan mengajukan damomologi sebagai epistemologi tragis yang lahir dari pengalaman kehilangan, penelitian ini menawarkan cara baru untuk memikirkan hubungan antara pengetahuan, tubuh, seni, dan kehidupan di tengah krisis ekologis dan kemanusiaan yang terus berlangsung

 kembali