Berita
Bincang Karya Praktik Artistik Natasha Tontey: Di Antara Fiksionalitas Sejarah dan Ketakutan Buatan
23-05-2025 10:33:25 WIB
Kamis, 22 Mei 2025, Program Doktoral Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma (USD) mengundang Natasha Tontey, seorang seniman kontemporer, untuk berbagi pengalaman dalam proses artistiknya. Acara ini diadakan di Ruang Palma, Kampus II, Gedung Pascasarjana, USD, Mrican, dari pukul 09.00 sampai dengan 12.00 WIB dan dihadiri baik oleh mahasiswa pascasarjana (S2 dan S3), serta tamu-tamu pegiat seni dari luar USD. Acara bincang karya ini dimoderatori oleh Arham Rahman, mahasiswa Program Doktoral Kajian Seni dan Masyarakat USD yang juga berkarya di Ruang MES 56.
St. Sunardi, selaku penggagas acara dan salah satu pengajar di Program Doktoral dan Magister Kajian Budaya USD, berharap bincang karya ini menginspirasi peserta, khususnya para mahasiswa, untuk menyelami proses artistik dengan cara yang out of the box. Bincang karya ini merupakan perpanjangan tangan dari mata kuliah “Seni dan Fetisisme – Melankolia” yang ditawarkan di Program Doktoral Kajian Seni dan Masyarakat. Melankolia dalam arti rasa kehilangan yang amat dahsyat, tetapi bukan kehilangan objeknya saja, tetapi lebih dari itu.
Natasha Tontey memutar dua karya berupa film yang memang mewakili rasa melankolia yang kemudian diartikulasikan melalui laku seni. Film yang pertama berjudul “Primal Visions: Macaque Macabre” dan yang kedua adalah “This is conversation with the veteran of Battalion Jin Kasuang, L. Sarapung, an epilogue from Primate visions, Macaque Macabre.”
Film yang pertama adalah interpretasi Natasha Tontey atas hamparan tulisan akademik yang ia baca, dipadukan dengan pengalaman pulang ke Minahasa, tanah kelahirannya, dan kemudian dihadirkan dalam medium film kontemporer. Dalam film tersebut Natasha Tontey ingin memperlihatkan bahwa batas antara manusia, alam, dan makhluk hidup lainnya sudah tidak terlihat. Film ini terinspirasi dari kegelisahan Tontey atas stereotipe bahwa orang Manado itu “memakan semua yang berkaki empat, kecuali meja”, dan “Yaki” (monyet jambul hitam endemik Sulawesi) merupakan salah satunya.
Tontey bercerita bahwa NGO (Non-Government Organization) sudah sering mengedukasi warga untuk tidak memakan “Yaki”. Akan tetapi ini kurang efektif, dan warga masih tetap memburu dan mengkonsumsi “Yaki” karena monyet tersebut dianggap sebagai hama. Dinamika ini ia hadirkan di filmnya dalam rupa dua sosok “Yaki”, bersama beberapa tokoh lainnya untuk memperlihatkan buramnya batas tersebut. Sosok “Yaki” dihadirkan karena ia berangkat dari konflik lahan antara manusia dengan “Yaki” yang sebenarnya berangkat dari adanya ledakan populasi “Yaki”. Apa yang NGO sampaikan, lantas, tidak efektif karena kurang memahami konteks alam dan terlalu tergesa-gesa menggunakan perspektif “Barat” yang positivistik. Manusia dan “Yaki” berebut lahan, manusia tidak terima karena itu lahan mereka, tetapi kemudian Tontey mengatakan bahwa pada akhirnya pemilik lahan yang sebenarnya itu tidak jelas.
Hal lain yang menggelitik dari film “Macaque Macabre” ini adalah dialog yang mengatakan bahwa “dubur sebagai pusat peradaban”. Natasha Tontey mengatakan bahwa kutipan menarik ini berangkat dari makanan yang Natasha konsumsi, dan pembacaan buku tentang makanan yang baik untuk pencernaan. Film ini ditutup dengan adegan ritual yang berlanjut ke tarian “Disko Tanah”, tarian yang terinspirasi dari gerakan menginjak-menginjak tanah saat petani menanam padi di sawah.
Film kedua merupakan wawancara dengan seorang veteran Batalyon Jin Kasuang era Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) bernama L. Sarapung. Natasha Tontey, pada awalnya melakukan wawancara dengan Opa Sarapung dengan niat ingin mencari tahu soal pengalaman makan “Yaki”. Tetapi, beliau justru bercerita tentang pengalaman mengkonsumsi daging manusia yang diduga mata-mata dan melakukan pelecehan terhadap perempuan Minahasa. Film wawancara ini juga dikemas dengan sangat menarik, Opa Sarapung diwawancara oleh dua pemeran “Yaki” di film pertama dan pengambilan gambarnya juga cukup unik. Fokus gambar tidak diletakkan langsung ke wajah narasumber, tetapi terus menerus bergerak.
Natasha Tontey mengatakan bahwa gaya visual dan transisi gambar yang ditunjukkan di kedua film tersebut berangkat dari film-film body horror (film yang mempertontonkan kengerian fisik yang berdarah-darah), dan ini semua bercampur jadi satu di kedua film yang ia hadirkan di bincang karya ini.
Para peserta juga menanggapi dengan beragam, ada yang meletakkannya ke dalam perspektif kajian pascakolonial, ada yang berkomentar bahwa karya Natasha Tontey merupakan bentuk seni underground, dan gaya estetika queer. Selain itu, proses artistik Natasha Tontey juga banyak diapresiasi, dari proses pembacaan tulisan akademis yang berat, proses journalling, lalu diartikulasikan ke dalam medium seni film yang memberi warna baru dalam pemberian informasi akademis. Proses ini Tontey sebut sebagai illogical reasoning yang berangkat dari pengalaman pulang ke tanah kelahirannya. Di Minahasa, apa yang dianggap logis sudah tidak logis lagi, dan ini menjadi bagian dari proses kreatifnya.
.jpg)
Pada akhirnya, dua film karya Natasha Tontey ini memang menjadi contoh laku melankolia. Di film pertama, yang diperlihatkan adalah laku melankolia atas kegelisahan diri (sebagai manusia) dan relasinya dengan alam, serta makhluk hidup lainnya. Di film kedua, ada nuansa bahwa Opa Sarapung sudah selesai dengan melankolianya karena ia mampu mengartikulasikan pengalaman ngerinya dengan cukup terbuka. Namun, bagi Natasha Tontey, Opa Sarapung sendiri masih mengalami melankolia, melankolia ketidakberlanjutan Permesta.
Dari bincang karya ini, peserta yang hadir diharapkan menemukan referensi cara mengartikulasikan rasa ketakutan, ketidakpuasan diri, dan kegelisahan (melankolia) dalam bentuk laku seni populer yang menghasilkan suatu bentuk pengetahuan baru. Ini menjadikan kita, sebagai manusia, tetap hidup dan produktif.
[HUGO]
kembali